Pasal 26, UUD 45

(1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

Google+ Followers

Sabtu, 22 Juni 2013

BUKU AL MAWAQIF WAL MUKHOTOBAT - AN NAFRI


Engkau mempelajari ilmu itu untuk bermegah-megah di hadapan para ulama dan untuk berdebat dengan para jahil, dan untuk engkau jadikan bahan musyawarah, rapat maupun muktamar, dan.... untuk mengeruk keuntungan duniawi... neraka... neraka!.


Judul : Melihat Allah
Terjemahan : oleh Mustafa Mahmud
Penerbit : PT. Bina Ilmu – Surabaya – Tanpa tahun
Penyadur : Pujo Prayitno

Catatan : Buku adalah hidangan... bila tidak ada selera jangan dimakan.
Buku ini mengungkap Rahasia di balik hutan larangan yang penuh racun...
Bila belum punya penawarnya... jangan coba-coba memasukinya... berbahaya.
(Bila ingin memperbesar huruf tekan (ctrl +)



ULASAN
ABDUL HASAN  ASY-SYADZILI

Dokter Abdul Halim Mahmoud dalam bukunya yang berjudul “Abdul Hasan Asy-Syadzily” yang diterbitkan di tahun 1387 H – 1967 H. Mengatakan bahwa beliau adalah seorang Arif Billah, seorang sufi penuh perjuangan, lahir di tahun 593 H – wafat 656 H.

Dalam ulasan nya yang singkat, diterangkan bagaimana pendapat Asy-Syadzilly mengenai Asy Syeikh Muhammad Bin Abdul Jabbar An-Nafri, penulis kitab “Almawaqif wal Mukhotobat”, kata beliau : “Kitab itu bukan sembarang kitab, tidak mudah, yang kesukarannya sudah pasti sukar, oleh karena isinya mengibaratkan tentang hal-hal ruhani, meninggi dan tidak mungkin bagi seseorang dapat mendalami selain “Kawan-kawan ahli rasa” (dzauqiah) yang tinggi pula pengertian dan kemauannya, tak mungkin seluruh kitab itu dipahami kecuali oleh orang khusus di bidangnya”.

Dan dalam hal ini Abdul Hasan Asy-Syadzilly penuh berhasrat hendak “Meringankan” dan “Menggampangkan” kandungan isi kitab itu, agar mereka yang berkemampuan bersedia untuk menerima, dapat memahami. Dan beliau dalam hal ini bersedia menyediakan “Kunci pembuka” bagi setiap yang merindukan alam hikmat kebijaksanaan; sayang sekali sampai akhir hayat niat baik beliau belum sampai terlaksana.

Dalam buku ini disebutkan pula bahwa Ibn Athaillah membawakan sebuah kisah : Pada suatu hari pernah terjadi suatu pertemuan di Cairo di rumah Zaky As Sarrakh, dalam pertemuan tersebut Asy Syeikh Abdul Hasan Asy-Syadzilly memegang sebuah kitab “Almawaqif wal Mukhotobat” Kitab tersebut beliau baca di hadapan Ibn Athaillah dan Abdul Abbas Am Marsi...

Berdasarkan pada tulisan Doktor Abdul Halim Mahmoud mengenai kehidupan Asy-Syadzily (yang pernah berguru pada Abdus Salam bin Masysy) teranglah sudah bahwa buku “Almawaqif wal Mukhotobat” karangan Asy-Syeikh Muhammad bin Abdul Jabbar An-Nafri yang kami terjemahkan dan disusun dalam Bahasa Indonesia dengan Judul “Melihat Allah” sudah dikenal dan diketahui oleh Ibn Athaillah As-Iskandari penulis kitab :Al Hikam” yang sudah tidak asing lagi bagi kita, bahwa sudah dikenal pula oleh Abul Abbas Al-Marsi (Guru Ibn Athaillah) murid Abul Hasan Asy-Syadzilly. Dalam buku tersebut terdapat banyak persamaan perihal kata-kata “Allah berkata kepadaku” dan lain-lain yang serupa dengan itu. Semoga ridha dan Rahmat Allah kepada beliau-beliau..........

SELAMAT  MENGEMBARA DI BELANTARA ILMU RAHASIA... HATI-HATI ... JANGAN SAMPAI TERSESAT JALAN........ MISTERI TETAP SEBAGAI RAHASIA... UNTAIAN KATA  HANYA SEBATAS UNTAIAN KATA.... RAHASIA... TETAP RAHASIA.... 

1.      TENTANG  TAUHID

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
“Wahai hamba, engkau tiada memiliki sesuatu pun, kecuali apa yang Aku kehendaki untuk menjadi milikmu. Tiada juga engkau memiliki dirimu, karena Akulah Maha Pencipta-Nya; Tiada pula engkau memiliki jasad mu, maka Akulah yang membentuk-Nya; Hanya dengan pertolongan-Ku engkau dapat berdiri; dan dengan “Kalimat-Ku” engkau datang ke dunia ini.

“Wahai hamba! Katakanlah Tiada Tuhan melainkan Allah, kemudian tegakkan berdiri di jalan yang benar, maka Tiada Tuhan melainkan AKU. Dan tiada pula wujud yang sebenarnya wujud kecuali untuk-Ku, dan segala yang selain daripada-Ku, adalah dari bantuan tangan-Ku dan dari tiupan Roh-Ku.

“Wahai hamba! Segala sesuatu adalah kepunyaan-Ku, bagi-Ku dan untuk-Ku, jangan sekali-kali engkau merebut apa yang menjadi kepunyaan-Ku. Kembalikan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya akan Ku terima pengembalian mu dengan tangan-Ku dan Ku tambah padanya dengan kemurahan-Ku. Serahakan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya Ku selamatkan engkau dari segala sesuatu.

Ketahuilah, bahwa hamba-Ku yang terpercaya, adalah yang mengembalikan segala yang selain-ku kepada Ku. Tengoklah dengan pandangan tajam kepada-Ku, bagaimana cara-Ku melakukan pembagian, niscaya engkau akan melihat pemberian dan penolakan merupakan dua bentuk yang dinamakan, agar dengan demikian engkau mengenal-Ku”.

“Hai hamba!   Sesungguhnya engkau telah melihat Daku sebelum dunia terhampar dan engkau mengenal siapa yang  telah engkau lihat. Dan kepada-Ku-lah engkau akan kembali. Aku ciptakan segala sesuatu untuk mu dan Aku labuh kan tirai (Hijab) atasmu. Lalu engkau pun tertutup dengan tirai dirimu sendiri, kemudian Aku menghijab engkau dengan diri-diri yang lain, yang mana diri-diri yang lain itu menyeru kepadamu dan pada dirinya dan menjadi hijab (penutup) dari pada Ku.

Setelah kesemuanya itu, maka Aku-pun kembali menyata di balik kesemuanya itu, dan dari belakang kesemuanya itu Ku perkenalkan diri-Ku; Ku katakan kepadamu bahwasanya Aku-lah Maha Pencipta; Aku yang menciptakan kesemuanya itu dan bahwasanya Aku menjadikan engkau Khalifah (Pengurus yang berkuasa di Bumi) atas kesemuanya itu dan ketahuilah bahwa kesemuanya itu adalah amanah (titipan) pada sisi-mu. Dan diharuskan  pada pengemban amanah itu untuk mengembalikannya.

Maka telitilah dirimu setelah engkau mempercayai-Ku, sudahkah engkau mengembalikan segala sesuatu itu kepada-Ku ?? Dan sudahkah engkau memenuhi perjanjian yang telah engkau buat dengan Ku..????

“Dan ... barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar” (QS. Al-FatKh 48:1).
“Dan sesungguhnya... kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa akan perintah itu, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat” (QS.Thaha 20:115)

“Hai hamba!!! Ku ciptakan segala sesuatu itu untukmu, maka bagaimana Aku akan rela kalau engkau peruntukan dirimu bagi sesuatu itu. Sesungguhnya Aku melarang engkau untuk menggantungkan dirimu pada sesuatu (Selain-Ku) karena Aku pencemburu padamu”.

“Hai Hamba!!!!  Aku tidak rela engkau peruntukan dirimu bagi sesuatu, walau harapanmu akan surga sekalipun, karena sesungguhnya... Aku ciptakan engkau hanya untuk-Ku; supaya engkau berada di sisi-Ku; Di sisi yang tiada sisi, dan di mana yang tiada mana.

Ku Ciptakan engkau atas pola gambar-Ku seorang diri, tunggal, mendengar, melihat dan berkemauan serta berbicara. Dan aku jadikan engkau mempunyai kemampuan untuk TAJALINYA (menyatakan) nama-nama-Ku, dan... tempat untuk pemeliharaan-Ku”.

“Engkau adalah sasaran pandangan-Ku... tiada dinding penghalang yang memisahkan antara-Ku dan antaramu.

Engkau teman duduk se majelis dengan-Ku, maka tiada pembatas antara-Ku dan antaramu.

“Hai hamba!! Tiada antara-Ku dan antaramu... antara Aku lebih dekat kepadamu, maka pandanglah kepada-Ku, karena aku senang memandang kepadamu”.
Lanjut nya rol ke bawah....

1.     U J I A N

<*> Hikmah yang terkandung di balik penciptaan dunia dan ujian bagi manusia<*>
Al-Imam An-Nafri mengatakan : Bahwa tubuh (Jasad) itu adalah suatu hakikat yang akan sirna dan bahwa tubuh itu merupakan batu ujian yang diciptakan oleh Allah untuk menguji Ruh.

Sifat-sifat manusiawi dengan apa yang ada padanya dari syahwat-syahwat dan keinginan-keinginan serta kemauan-kemauan yang di ikuti dengan pelanggaran-pelanggaran, adalah juga sebagai cobaan dan ujian dari tujuan Roh.

Tiada wujud yang sebenarnya, kalau di tilik dari sifat manusia yang dikaitkan dengan kemanusiaan, tetapi yang ada hanyalah daya yang merangsang untuk menguji Ruh agar dapat diketahui dan dikenal sampai di martabat yang dapat dicapai.

Apakah Ruh itu bisa mencapai nisbatnya kepada Allah, lalu Roh mengarahkan segenap kemampuannya untuk merindukan dan mencintai Allah, ataukah Roh itu tertarik oleh jasad dengan memanjakan syahwat-syahwatnya.

Di Sinilah letak Ujian itu.
Allah berseru dengan tutur kata-Nya : (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

“Sesungguhnya Aku dahirkan (nyata) syahwat itu sebagai dinding kukuh yang menghijab atasmu untuk tawajjuhmu (menuju ke tujuanmu yang sebenarnya) dan.... andaikan engkau melihat dirimu sendiri sebagai engkau melihat kepada langit-langit dan bumi, tentu saja akan nampak olehmu bahwa yang menyaksikan itu adalah engkau, pribadimu, tanpa adaya syahwat dan keinginan”.

“Karena pengujian-Ku kepadamu maka aku coba engkau dengan syahwat-syahwat yang bersifat tidak menetap pada dirimu di bawah kekuasaan hukummu dan tidak pula bisa menetap pada dirimu atas dasar penndirianmu, maka... sifat kemanusiaanmu itu yang condong dan berkeinginan, dan ia pulalah yang mengejar kepuasan, tetapi sebenarnya engkau tidak condong ke situ dan tidak pula berkeinginan maupun mengejar kepuasan dan kelezatan”.

“Engkau yang sebenarnya adalah di balik dinding yang merupakan syahwat dan di belakang tabir penutup sifat kemanusiaan. Engkau yang sejati adalah suatu roh yang suci bersih, tanpa noda syahwat, dan berada jauh di atas ketinggian sifat kemanusiaan tanpa condong pada apa pun dan tidak pula berkeinginan”.

Dari arah lain DIA menyeru : “Hai hamba !!  Engkau dalam keadaan lapar lalu engkau lahap makanan, maka hal yang demikian engkau bukan daripada-Ku; dan AKU pun bukan dari padamu (yang dimaksud .. ialah seorang hamba yang berdaya untuk mengalahkan tabiatnya sendiri, adalah menjadi dalil yang nyata bahwa hamba tersebut telah mengenal dirinya dan telah pula mencapai kemuliaan nasabnya dengan adanya suatu pertalian roh yang erat dan berkait kepada ALLAH.... bukan jasad yang bernasab pada tanah).

Di alam Al-Qur’an disebutkan peristiwa Thalud yang berkata kepada bala tentaranya :
“Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai, maka barangsiapa yang minum daripadanya (sepuas penghilang dahaganya) maka ia bukan dari golonganku, dan barang siapa yang tidak merasakan kesegaran, maka ia dari golonganku, kecuali orang yang hanya menyauk sekali sauk dengan tangannya (sekedar pembasah tenggorokan)”. (QS. Al-Baqarah 2:249).

Ayat tersebut di atas mengandung juga hikmah puasa, maka... yang demikian itu merupakan kenyataan roh tentang dirinya dan kesanggupannya untuk menahan diri dari perbuatan (menginginkan kepuasan) jasad dari apa yang menjadi ujian untuknya. Begitu halnya bila seorang sedang berpuasa menolak makanan berarti telah memahami sifatnya (yang asli), bahwa roh itu tidak memerlukan makanan dan minuman.

Allah berseru kepada hamba-Nya : “Aku ciptakan engkau adalah melulu  untuk-Ku, tinggal di samping-Ku, untuk menjadi sasaran pandangan-Ku dan dalam lingkungan pemeliharaan-Ku.

Dan Aku telah membangun di sekitarmu bendungan yang mengelilingi dari segala jurusan demi cemburu-Ku atasmu.

Kemudian Aku berkehendak untuk menguji engkau, lalu aku Buka pada bendungan tadi pintu-pintu sebanyak apa yang telah Ku ciptakan, dan sebanyak bilangan apa yang telah Ku nyatakan dari pengaruh-pengaruh yang merangsang.

Dan di luar setiap pintu, Ku tumbuhkan sebatang pohon yang rindang yang dikelilingi genangan mata air yang jernih sejuk, dan Aku hauskan engkau!!!

Lalu aku pun bersumpah demi karunia-karunia-Ku, selama engkau menjarak keluar daripada-Ku untuk minum, melainkan akan Ku sia-siakan engkau, jangan diharapkan engkau akan dapat kembali berdampingan dengan-Ku, dan tidak pula engkau akan berhasil mendapatkan minuman  yang engkau harap-harapkan, maka.... sesungguhnya jika terjadi hal demikian, berarti engkau telah sesat jalan daripada-Ku dan engkau telah melupakan bahwa Aku adalah sebenarnya minuman Yang Maha Tunggal dan rumah tempatmu berlindung yang tunggal bagimu, dan sesungguhnya Akulah Allah Pencipta segala sesuatu. Dari pada-Kulah segala pertolongan dan bantuan, dan dengan Aku pulalah kehidupan sejati yang sesungguhnya.
2.    Arti  Makna Nama-Nya “YANG  MAHA  PERKASA”

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

“Tidaklah Aku dapat dipandang oleh mata, tidak pula dapat dilihat oleh pandangan; Tidak pula Ilmu pengetahuan dapat menghampiri kepada-Ku;

Aku tidak dapat dikenal oleh sejauh pengenalan.
Aku Yang Maha Perkasa yang tidak dapat dicapai bagaimanapun, dan... tak dapat dijumpai walau dengan sebutan nama-Ku.
Setiap ucapan kata telah nampak nyata, maka Akulah yang menciptakannya dan merangkai huruf-hurufnya. Tidak akan melampaui kesemuanya itu adalah bahasa-bahasa yang dikenal dan diketahui yang disifatkan. Aku adalah yang tidak dapat dijangkau dan diserupakan dengan apapun. “Laisa Kamitslihi Syai-‘un” (QS.Asy-Syura 42:11).
“Akulah Allah Yang Maha Suci yang tidak dapat dimasuki dan dijumpai oleh tubuh-tubuh dan tidak oleh huruf-huruf sekalipun dan tidak pula dapat dicapai oleh kalimat-kalimat”.
Hai Hamba!! Jangan salah terka bahwa setiap yang dhahir itu dapat dilihat... Akulah Raja yang menyata dengan Kemurahan dan tersembunyi dengan Keperkasaan.
Hai hamba!! Akulah Yang Dahir yang tidak dapat dilihat dan dipandang oleh mata, dan Akulah Yang Batin yang tidak dapat disentuh oleh prasangka dan persangkaan yang bagaimanapun.
Hai hamba!! Akulah Yang Maha Kekal, yang mana kekekalan Ku tidak dapat diberitakan oleh abad; Dan Akulah Yang Esa yang jauh dari bilangan dan perhitungan”.

“Setiap sesuatu akan dituntut oleh asal mulanya, sebagaimana tubuh dituntut oleh asa mulanya. Yang Satu itu AKU, Yang Maha Tunggal dan sendirian, dan tidaklah Aku dari sesuatu lalu sesuatu itu akan menuntut pada-Ku.
Dan tidaklah Aku dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan menyertai Ku.
Aku adalah mutlak, tiada satu pun ikatan, dan Aku bebas tanpa ada sesuatu yang menentukan”.

3.    BERSANDING  BERSAMA  ALLAH

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
“Apabila eggkau berhimpun dengan selain Ku, kemudian berpisah, niscaya tidak dapat engkau berhimpun (lagi)”.

“Hendaklah engkau bersanding dengan Ku, niscaya engkau akan berhimpun dengan yang menghimpun segala yang bersanding dengan Ku. Dan engkau akan mendengar dengan pendengaran yang mendengarkan segala pendengaran, maka engkau akan mencakup selain dirimu dan engkau akan memberitakan tentang DIA dan tidaklah engkau akan dicakup oleh selainmu lalu DIA memberitakan perihal mu”.

“Orang yang berdiri di Hadirat Ku tidaklah ia akan ditawan oleh pesona keindahan dan tidaklah ia dikejutkan oleh kegentaran, karena ia melihat Yang Nyata (Adh-Dhahir) dan bukan kenyataan-kenyataan (yang berbilang) Ia akan melihat keindahan yang bukan dapat dinamakan keindahan lagi. Ia akan nampak Yang Mutlak yang tidak lagi terikat (Al Maqyyad), ia akan melihat yang menentukan dan bukan yang ditentukan”.

“Wajah Ku hanya Ku peruntukan bagi para yang berdiri di Hadirat Ku; Berita ku baga para Pengenal-Pengenal Diri Ku (Arifin)”.
“Karena itu, bersuci lah engkau untuk berdiri tegak (Al Waqfah), Jika tidak demikian hal diri mu, Akan Ku campakan engkau, jangan sampai ada atasmu kekuasaan lain selain Ku semata-mata”.

Dengan pendirian yang demikian, engkau akan melihat segala sesuatu selain Allah itu, dengan kelainan yang dengan sangat nyara dan berlepas dirilah engkau dari kesemuanya itu”.
4.    H  U  R  U  F

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

Huruf dirangkai menjadi perkataan, dari perkataan menjadi pendapatan; Pendapatan bersama dengan perkataan akan menjadi bilangan. Pendapatan disatukan dengan bilangan perkataan, dan bilangan perkataan disatukan dengan bilangan pendapatan menimbulkan kekuatan magis. Dan atas dasar hukum “Peringatan” hal yang demikian adalah masuk dalam kekufuran.

Hukum bilangan kata adalah hukum bantah-membantah (sengketa) yang satu berlawanan dengan yang lain, hal demikian membawa kepada kepiluan dan kecemasan, hal yang demikian adalah kemustahilan belaka dan menjadikan ketergantungan dan ke guncangan.

Asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat dan Af’al (perbuatan-perbuatan) adalah hijab belaka atas Zat Ilahiat. Karena sesungguhnya Zat Illahiat itu tidak dapat menerima pembatasan. Zat Illahiat itu berada pada tingkat ketinggian, sedang pelepasan (Penanggalan  -  Tajried) dan Asma’ dan Sifat adalah urut-urutan yang menurun (Tanazzilat).

Asma’ dengan zat asmanya berdiri tanpa perbuatan, asma’ dapat berbuat hanya dikarenakan Zat Allah semata. Dan... sesungguhnya persoalannya berkisar bagaikan perkakas dan alat-alat. Dan Huruf di dalam Surga adalah merupakan alat-alat dan perkakas.

Para Malaikat yang membangun Mahligai-mahligai dan memancarkan sumber-sumber mata air, yang menciptakan makanan-makanan dan menyediakan minuman-minuman, kesemuanya adalah huruf. Dan huruf itu adalah Maqam (kedudukan) yang diberikan kepada para Malaikat, dan pra Malaikat tiada kesanggupan untuk melampauinya (melangkah lebih dari batas yang ditugaskan padanya).

Adapun manusia, maka ia memperoleh kesanggupan untuk lewat melalui dan melangkah serta melampaui lalu keluar daripadanya agar bisa sampai kepada maqam bersanding “Kedudukan bertetangga dekat” kepada Zat Illahiat sepenuhnya.

Allah berseru kepada hamba-Nya :
“Huruf itu sifatnya lemah, tidak berkesanggupan untuk memberitakan tentang dirinya, apalagi memberitakan tentang-Ku.

Akulah pencipta huruf dan mahruf – apa yang diberitakan oleh huruf.
Aku jadikan dari rangkaian huruf itu menjadi Asma, dan susunannya menjadi bahasa dan beberapa ibarat agar dengannya manusia yang menjadi penghuni alam ini dapat berbicara. Jangan dilupakan bahwa kesemuanya ini Aku yang menjadikan dan Aku berada di atas segala.

Apa yang Aku ciptakan sebagaimana halnya huruf, tidaklah mempunyai kemampuan hukum apapun atas Ku dan tiada menyentuh sedikit pun atas Zat Ku”.

Telah kukatakan kepada huruf dengan gaya huruf itu sendiri, maka tiadalah lesan (penyalur huruf) itu dapat menyaksikan Daku dan tiadalah Aku dikenal oleh huruf itu.
“Barangsiapa yang telah kucintai daripada penyanding-penyanding Ku dan pencinta-pecintaKu, maka Aku pun berkenan berkata-kata kepadanya, kata-kataku tanpa ibarat (tanpa bahasa dan tanpa rangkaian huruf); Dan orang itu pun akan diajak bicara oleh batu-batu dan bata-bata, dan bagi orang itu cukup mengatakan terhadap sesuatu “Jadilah” maka “Jadi”.

Andaikan Ku katakan dengan ibarat, tentu saja ucapan Ku itu akan dikembalikan oleh ibarat kepada diri ibarat itu tentang apa-apa yang diibaratkan dan dengan apa-apa yang diibaratkan. Dan pastilah hal yang demikian menjadikan tirai pendinding karena kembalinya itu dan sekalipun yang mana berarti tidak dapat berbuat apa-apa”.

Allah berseru kepada seorang bijak (yang sudah mencapai pengenalan sejati) :
“Enyahkan jauh-jauh dari dirimu segala apa yang engkau lihat, lepaskan dirimu dari daya tarik apapun dan dari pengaruh yang bagaimanapun juga, terutama dari rangsangan-rangsangan. Keluarlah engkau dari ilmu pengetahuan, amal-amalmu, pengenalan ma’rifatmu, bahkan dari dirimu dan namamu sekalipun. Keluarlah engkau dari huruf dan mahruf.

Lemparkan segala ibarat ke belakang punggungmu dan campakan arti makna ke belakang ibarat, dan lemparkan pendapat ke belakang arti makna dan masuklah engkau seorang diri (tunggal), niscaya engkau akan melihat Aku sendiri. (Itulah kebenaran pandangan mata hati) Selanjutnya untuk mencapai tingkat yang demikian bagi si salik (orang yang berjalan menuju kepada Allah) memerlukan melepas-bebaskan dirinya dari segala sesuatu, baik pengetahuannya, ama perbuatannya, sifatnya bahkan diri dan namanya dalam ari keluar dari kebanggan diri. Janagan hendaknya sampai terucapkan dari lesan “Aku si anu yang telah mencapai derajat demikian, aku adalah seorang arif yang bijak, yang berilmu dan yang telah membuat karangan-karangan”. Bukan hanya itu saja, tetapi ia harus keluar dari sihirnya, kalimat dan fitnahnya ibarat (ucapan) ... keluar dari tabiat dan keinginan-keinginan (syahwat)... keluar dari adat istiadatnya, dan dari kesemuanya itu dikembalikan apapun yang ada pada dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Semata-mata). Ia harus mencuci tangannya (sebersih-bersihnya) baik dari pangkat dan kejayaannya serta kekuasaannya.

Itulah sebenarnya penelenjangan yang sewajibnya untuk dapat masuk ke Hadirat Illahy, dan itu adalah suatu perjalanan rohani yang tidak dapat dicapai oelah setiap orang, malainan oleh orang-orang tertentu.
   
Allah berseru kepada seorang yang Arif :
“Andaikan perjalananmu berhenti hanya sampai kepada huruf, lalu engkau dikuasainya sebagaimana tawanan, dan terpengaruhlah oleh rahasia-rahasianya,  dan tergoda oleh teka-tekinya, agar supaya engkau dapat merajalela atas manusia-manusia, niscaya akan Ku catat engkau dari golongan ahli sihir yang tidak berjaya, dan dari penyembah-penyembah huruf yang mereka itu adalah (terang-terangan) berlaku syirik kepada Ku  mereka adalah penyembah-penyembah huruf selain daripada Ku, dan menuntut nama itu dari selain Ku”.

“(Bila) Aku memberitahukan kepadamu tentang rahasia huruf, maka itu adalah suatu malapetaka yang gawat segawat-gawatnya.
Engkau dapat mengenal rahasia huruf, sedang engkau berada di dalam kemanusiaanmu, niscaya gilalah akal budimu.
Engkau dapat mengenal rahasia Asma (Nama-nama), sedangkan engkau berada di dalam kemanusiaanmu, biscaya gilalah akal budimu.

Hai hamba!! “Tiada ijin bagimu, kemudian tiada ijin bagimu, kemudian tujuhpuluh kali tiada ijin bagimu untuk membeberkan terhadap apa yang Daku percayakan kepadamu dari rahasia-rahasia huruf-Ku dan nama-nama Ku. Dan ... bagaimana engkau masuk ke dalam khazanah Ku, dan bagaimana engkau mengambil dari huruf-huruf itu satu huruf dengan keperkasaan Ku dan Kekuasaan Ku, dan... bagaimana engkau melihat Ku???”
5.    ARTI AYAT : “Dan Bahwa Hanya Kepada Tuhanlah Kesudahan Segala Sesuatu” (Qs. An Najm 53:42)

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
“Engkau berhasil mendapatkan segala sesuatu daripada Ku, maka dimanakah kekayaanmu???
“Engkau ku luputkan dari segala sesuatu, maka dimanakah kefakiranmu??
“Aku yang melindungi engkau dari api neraka, maka dimana letak ketenengan dirimu??
“Ku menangkan engkau dari Surga, maka dimana pula letak kenikmatanmu??
“Hanya Aku ketenangan mu, dan di sisi Ku kediamanmu, dan di anatara kedua tangan Ku tempat berdirimu, andaikan engkau ingin mengetahui”.
“Akulah, kesudahn itu”.
“Dan tiada kebahagiaan tana kesudahan itu”.
“Ku ciptakan engkau untuk Ku... berada di sanding Ku... supaya engkau menjadi tatapan pandangan Ku dan Aku menjadi tujuan pandangan mu”.

“Aku tidak rela engkau hanya berada dalam kedudukan berdzikir saja, atau ibadah saja, maka Ku dirikan pintu-pintu dan jalan-jalan. Aku sampaikan engkau agar dapat mencapai untuk melihat Ku, sebagaimana ayat di bawah ini :

“Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bersusah payah dengan kegiatan kerjamu untuk menuju Tuhan mu, maka pastilah engkau akan menjumpai Nya” (QS. Al-Insyqaq 84:6).
Tafsiran dari “Kad khu ilallahi” adalah kerja giat penuh dengan kesungguhan untuk tujuan menemui “Nya”. Tanpa jumpa dengan DIA, tiadalah arti ketenangan dan kebahagiaan.
6.    ARTI  MAKNA  “ISLAM”

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
“Hendaklah engkau menyerahkan kepada Ku dengan sepenuh hatimu, dan menyerah kepada perantara-perantara dengan tubuhnmu; Supaya engkau bersama Ku dengan kemauan kerasmu, dan bersama selain Ku dengan akal budimu.

Maka engkau senantiasa menghimpun kemauan kerasmu atas Ku, tiada bagian bagi selain Ku terhadap dirimu kecuali hanya kehadiranmu bersamanya, dengan akal budimu saja, maka jangan engkau bersukaria atas karunia yang dianugrahkan-Nya kepadamu dan jangan cepat-cepat marah kepada orang yang menyakiti hatimu, jangan pula bermegah karena kejayaanmu dan menepuk dada menyombongkan ilmu pengetahuanmu.

Waspadalah, jangan terperdaya terhadap karunia-Ku dan jangan putus harapan karena Ujian dan cobaan Ku, dan jangan jinak bermanja dengan sesuatu selain Ku”.
“Laksanakan saja apa yang menjadi perintah Ku tanpa menoleh ke belakang, halmu jika demikian sama dengan Malaikat Ku yang berkemauan teguh”.
“Bila negkau berlengah-lengah menanti perintah Ku, sedangkan engkau sudah mengetahui, maka hal yang demikian terang-terangan engkau melanggar perintah Ku”.
7.    SEBUTAN  “AKU”

“Tidak akan diucapkan kalmiat “AKU” melainkan oleh orang yang berkawan dengan kelengahan dan oleh setiap orang yang terhijab oleh hakikat :

Ku, pesona dunia masih mencengkeram dirimu, masing-masing akan menyambar dirimu dengan seruan kepada zat dirinya, engkau masih saja dalam kegaiban yang kelam daripada Ku.
Maka apabila engkau telah melihat “AKU” dan “Aku” pun telah bernyata di hadapanmu, tetapkan keteguhanmu, maka tiada Aku lagi malinkan “AKU”.

“Telah ku ciptakan untukmu dan untuk sesuatu menjadi tujuan, antara lain tujuan itu adalah “Cintamu kepada dirimu sendiri” itulah tetesan faham (kalimat) yang engkau warisi, kata-katamu “aku” adalah egomu sendiri (AKU berlepas diri dari anggapan yang demikian). Dan tidak lain Zat itu melainkan kepunyaan Ku, dan tidak lain “Aku” itu kecuali untuk Ku semata. AKULAH yang DIA itu AKU, adapun hakikatmu, bukanlah zat dan bukan pula persoalan, hanya sesungguhnya engkau berada pada pembagian yang bersifat wahami (dugaan), hal ini disebabkan karana caramu berpikir dan pencapaianmu pada pendakian jiwa dan persoalan.

Engkau dalam setiap saat terbagi kepada “menyaksikan dan disaksikan”, dua menjadi satu dalam bentuk penyatuan... jiwa yang mencapai dan persoalan yang dicapai... adapun hakikatmu sendiri tersembunyi jauh di balik penyatuan ini, meninggi atasnya, jauh dari segala itu semua. Engkau bukan lagi zat dan penyatuan, tetapi engkau hanyalah roh dari Roh Ku, tiada nisbah bagimu melainkan pada-Ku”.

Engkau tidak mengungkapkan hakikat ini, kecuali di kala terangkat daripadamu tirai penutup dan engkau memandang Ku, ketika itulah lenyap keadaan dirimu yang menyatu, penyatuan yang bersifat serba duga (wahami), lalu engkau menyadari atas hakikat dirimu dan engkau dapati dirimu yang sebenarnya yang bukan zat dan bukan pula dari persoalan, tetapi hanya semurni-murninya roh; yang sederhana (Basithah) satu yang tidak terbagi, (Jauhar) tunggal, meninggi, tiada nisbah melainkan kepada Ku, maka engkau tidak lagi mengulangi dan mengatakan “AKU” tetapi mengatakan “Engkaulah Tuhanku”, dan telah engkau ketahui, bahwa “AKU” adalah untuk Ku semata, dan bahwa engkau adalah hamba Ku”.

Seruan Allah kepada para arifin : Jikau engkau sudah tiba kepada melihat Ku, maka tidak akan ada tuntutan, dan apabila tidak ada tuntutan maka hilanglah sebab,  dan jika sebab telah musnah maka tiada lagi nisbah, sempai di sini sirnalah hijab”.
8.    ILMU  PENGETAHUAN

ILMU adalah merupakan satu upaya untuk mencapai sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian dalam ulah lingkungannya, dan penempuhannya diperlukan adanya gerak dan perjalanan disertai tata tertib dan peraturan-peraturannya yang tertentu yang ada padanya; Yaitu ilmu pengetahuan yang membahas tentang ketentuan-ketentuan.

-          Bilmaqadir = tentang kadar banyaknya.
-          Alkammiyat = dan tentang hubungan-hubungannya
-          Al ‘ilaqat = Akan tetapi ilmu itu agak lemah terutama untuk mencapai teka-teki yang memerlukan pemecahan, “Apakah ini dan apakah itu (Almahiyat), dan pula untuk mencapai hakikat-hakikat yang ada taraf kesudahannya. Dan ilmu itu dalam persoalan ini kedudukannya tidak lebih dari alat yang kurang mempunyai kesempurnaan yang malahan kadang-kadang menyesatkan.

Al Imam An Nafri berkata :
“Ilmu itu sendiri merupakan tirai penutup atas apa yang sudah menjadikan pengetahuannya; yang seyogyanya tidak demikian halnya.
Seorang yang banyak berilmu (“Ulama) terdinding oleh kesadarannya sendiri, sama halnya dengan si dungu terdinding oleh kelengahannya. Sungguh pun begitu ilmu itu mencerai-beraikan  akal si alim, disebabkan karena ilmu itu terpetak-petak dalam beberapa bidang dan arah tujuan pemikiran”.

Ilmu itu sendiri memiliki jalan-jalan dan saluran-saluran, lalu sampai kepada cabang-cabang. Tiap-tiap cabang mempunyai jalan keluar sendiri-sendiri, sampai di sini tidak dapat dielakkan lagi akan terjadinya perselisihan, dan dari perselisihan menjurus ke arah kesesatan.

Akal, setelah mengetahui kesemuanya itu, lalu mengadakan penyaringan di antara pelbagai macam kemungkinan-kemungkinan, maka terperosoklah ia ke dalam aneka ragam kesimpang-siuran.”.

Dan Allah dalam seruan-Nya menyampaikan :
“Seorang yang berilmu masih dalam ikatan serba dua “Menyaksikan dan disaksikan”, begitu pula halnya seorang pengenal (Arifin) ... yang tidak... dan yang lain halnya... adalah seorang Waqif di Hadirat Ku (orang yang berdiri tegak di tempat penghentian pencapaian), ia adalah tunggal... karena dia telah sirna (fana) meniadakan ke serba-duaan lagi, menyadari dan kembali pada pribadinya sendiri dalam kesederhanaan dan kesatuannya (ringan lunglai terlepas dari daya tarik apappun dan senyawa-menyatu)”.

“Maka seharusnya puncak dari ilmu, akal dan pikiran itu mengembalikan pada kedudukan asalnya dari segi bagian-bagian dan kenyataan-kenyataan kepada Yang “SATU” ialah Allah Maha Penciptanya. Dari sini bertolak ke arah pengenalan (Makrifah) baru dapat disebut orang arif. Tetapi pandang pengenalan seorang sufi jauh dari kesemuanya ini, lebih tinggi menjulang dan tidak menilai ilmu, karena pengenalannya kepada Allah semata-mata, makrifat yang tunggal, mengenal ke Esaan-Nya, dalam sifat-sifat-Nya, Asma-Nya, Af-al-Nya, Taqdis-Nya dan ke Maha Sucian-Nya”.

Selanjutnya Allah berseru :
Hai hamba yang berilmu! “Bilamana ilmumu dapat melepaskan engkau dari ilmu mu, maka engkau akan tiba pada perjalanan pengenalan (Makrifat), tetapi kalau engkau menyatu dengan ilmu mu, maka ilmu itu akan menjadi penghijab bagimu; Dudukkan ilmu itu pada tempat yang seyogyanya menjadi penghantar ke arah makrifat dan bukan engkau yang menyatu dengan ilmu mu”.

“Setelah engkau tiba di ambang pintu makrifat, dan memasukinya, maka engkau akan terheran-heran dan menginsafi kebodohanmu di hadapan Zat Illahiat dan inti mula pertamanya.

(Kunhiha) serta apa sebenarnya DIA (Manhiat) terungkaplah di sini lunglainya pencapaian, itulah pencapaian dan kedunguan adalah puncak makrifat, maka terhujamlah dalam sanubarimu akan arti sebenarnya dari “ Tiada satupun yang menyamai-Nya”.

Seorang sufi mewejang : “Kebodohan, kedunguan adalah tirai penutup yang asli dan tak mungkin tersingkap tentang Zat Ilahiat, kecuali pada Hari Kebangkitan (Kiamat) kala seorang hamba dikehendaki-Nya untuk memandang dengan pandangan mata.

Adapun sebelum itu maka tiadalah mungkin melihat Allah dengan terang-terangan, dan apa yang dialami seorang abid ialah menyaksikan Allah pada sesuatu yang di dalamnya terdapat bekas dari tangan pembuatnya, ayat-ayat-Nya, hikmah-Nya, tadbir-Nya (yang diuraikan-Nya). Dan itu merupakan penglihatan akal serta matahati atau melihat Nur-Nya.
Adapun Zat, akan tetap tinggal terselubung oleh selimut gaib yang mutlak.

Dan di kala seorang abid mencapai puncak makrifat, maka ia menyadari akan kebodohannya di hadapan Zat itu; Dan menyadari pula akan kelemahan semua usaha-usaha dan cara-cara yang selama ini diandalkan; ia akan memulai perjalanannya kepada Allah dengan menempuh penyaksian. Maka akan keluarlah ia dari alam nyata selain Allah. Keluar dari ilmunya, amalnya, makrifatnya, sifatnya, namanya dan juga keluar huruf dan ibarat, dan apa saja yang diibaratkan oleh huruf dan oleh ucapan ibarat.

Dengan pelepasan, penanggalan segalanya itu tadi adalah pintu untuk mencapai “Penglihatan” serta jalan masuk menuju “Hadirat-Nya” dan penghentian jalan terakhir dari “penyaksian” maka ia masuk didorong oleh kekuatan cahaya yang menetap (tidak membiarkan dan tidak meninggalkan).

Yang demikian adalah, apa yang diuraikan dalam gambaran seorang sufi “Penglihatan hati (Ru’yah Qolbiah) terhadap Zat yang tertutup terselubung dan terhijab dengan Nur demi Nur-Nya; dan itu merupakan permulaan disertai kenyataan yang dikawani oleh poros tempat persembunyian segala sesuatu dan (dikawani) pula oleh keadaan dari kelenyapan yang sepenuh-penuhnya... tiada sesuatu... selain Nur itu.

Ketahuilah bahwa Nur itu bukanlah Zat, tetapi hanyalah suatu ayat (tanda bukti) dari sekian banyaknya tanda-tanda bukti, dan juga sebagai hijab dari sekian banyaknya hijab-hijab dan juga isim dari berbagai Asma-Nya (nama-nama-Nya) dan Asma adalah hijab atas yang bernama dan yang dinamai.

Dan ini bukanlah penyaksian pandangan mata. Dalam hal ini penyaksian pandangan mata tidak mungkin sama sekali selagi di dunia ini, dan tidaklah bagi insan yang memiliki bentuk jasad insani. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan dari apa yang terjadi, dan apa yang dialami Nabi Musa As. Yang tidak memiliki daya kemampuan memandang, hingga jatuh pingsan; dan bukit yang dijadikan contoh tidak pula memiliki kemampuan tersebut hingga hancur lumat berbutir-butir,

Di dalam Al Qur’an surat Al A’raf 7:143 :
“Dan tatkala Musa datang di tempat yang telah ditentukan, dan Tuhannya berkata-kata dengannya, lalu berkatalah Musa :”Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah diri-Mu padaku supaya aku dapat memandang-Mu”. Ia pun berfirman : “Tidak sekali-kali engkau dapat melihatk-Ku, tetapi pandanglah ke bukit itu; jika ia dapat tetap di tempatnya, maka engkau akan melihat pada-Ku”, Maka tatkala Allah “memperlihatkan diri” kepada bukit tadi, bukit itupun hancur luluh menjadi lumat dan jatuhlah Musa dalam keadaan tak sadar diri. Maka tatkala sadar, berkatalah Musa “Maha Suci Engkau! Aku taubat kepada-Mu, dan aku adalah orang pertama yang beriman kepada Mu”.

Perhatikan! Musa tidak jatuh pingsan karena melihat Zat Ilahy, tetapi ia baru melihat tajallinya Zat atas sesuatu yang lain, yakni bukit itu, baru tajalli-Ny saja, dapatkah engkau membayangkan betapa mungkin terjadi jika sekiranya Musa melihat Zat-Nya.

Dalam ilmu penegtahuan insani terdapat segi tantangan, karenanya setiap sesuatu tujuan pemikiran diiringi oleh pemikiran akal yang menguraikan kebalikannya. Demikian juga kejahilan insani, yang di dalam kejahilannya terdapat tantangan (dari kebalikannya). Tidak demikian halnya dengan ilmu pengetahuan Rabbani (Ilahy) yang Ladunni (Ilmu yang didapat langsung dari Alloh), maka ilmu yang demikian, begitu juga kebodohan yang berupa “pengetahuan ketidaktahuan”, maka ia adalah suatu kejahilan yang asli, yang tiada tantangan kebalikannya, karena kejahilan terhadap Zat Ilahiat adalah merupakan sampainya kepada hakikat yang terakhir, yang berkesudahan (nihaiyah), justru Allah itu Yang Maha Suci (Majhul al-Hawiyah) yang tak dapat diketahui karena tiada siapapun yang menyerupai-Nya (Dan itulah sifat Zatiyah).

Allah berseru kepada hamba-Nya :
“Keluarlah engkau dari ilmumu yang kebalikannya adalah kejahilan, keluarlah engkau dari makrifat yang kebalikannya adalah pengingkaran... niscaya engkau akan jinak terhadap apa yang engkau ketahui, Ilmu itu berseteru dengan kejahilan, dan kejahilan itu adalah huruf... kejahilan itu menjadi seteru ilmu dalam kejahilannya terdapat huruf”.

Keluarlah engkau dari huruf, niscaya engkau mengetahui ilmu yang tiada seterunya, yaitu Ilmu Rabbani (jika engkau sudah sampai ke taraf ilmu ini), maka engkau akan menjahili suatu kejahilan yang tiada lagi berseteru dengan kejahilan yang berupa pengetahuan. (Al Jahlul Irfani)”.

“Jika engkau telah mengetahui suatu ilmu yang tiada seteru, dan jika engkau menjahili kejahilan yang tiada bersetru pula, maka engkau bukan lagi tergolong dari penduduk bumi dan langit”.

“Jika engkau sudah bukan lagi menjadi penduduk bumi, maka Aku tidak akan membebani engkau pekerjaan ahli bumi; Juga kalau engkau tidak lagi menjadi peduduk langit, maka Akupun tidak lagi membebani engkau menjadi pekerja ahli langit”.

Pekerjaan-pekerjaan ahi bumi adalah keserakahan dan kerakusan, kelengahan dan menghambakan diri pada hawa nafsu dan kepada semua yang nampak di permukaan bumi ini, yang saling kejar mengejar memperebutkan aneka perhiasan. Sedangkan pekerjaan ahli langit adalah Zikir dan ta’dziem (membesarkan Nama Tuhan) dan itulah penghambaan ahli langit terhadap Tuhan, dan itulah yang menjadikan mereka jinak dengan ketenangan kepada Allah.

Dan penghambaan itu merupakan hijab yang terdekat, yang mana Aku dari balik-Nya berhijab pula dengan sifat keperkasaan; dan kelengahan itu pun suatu hijab yang jauh, yang mana Aku dari baliknya berhijab dengan semua dan apa-apa yang telah Ku ciptakan dari segala sesuatu saling pengaruh-mempengaruhi.
9.     R A H A S I A

As-sir (rahasia), adalah laksana sesuatu yang terselubung dalam kelembutan dan kehalusan, yang tersembunyi di dalam diri manusia, halnya seperti keadaan roh, hati dan matahati.

Kami biasa mengucapkan : “Naiknya sudah sampai pada pencapaian Rahasia Tuhan;  ucapan ini rumus untuk sebutan maut, yakni keluarnya roh dari tubuh.
Dan Allah berseru kepada hamba-Nya :
Hai hamba!!” Sir mu yang tersembunyi itu berkekuatan melebihi kekuatan bumi dan langit.

Sir mu dapat memandang tanpa biji mata, mendengar tanpa daun telinga, Sirmu tidak bertempat tinggal di dalam rumah-rumah dan tidak pula makan buah-buahan”. Sirmu tidak mengenal malam dan tidak mengembara di siang hari”.

“Sirmu tidak diketahui oleh akal dan pikiran, dan tidak pula berhubungan dengan hukum sebab-akibat.”.
“Sirmu hidup dalam abad demi abad, sedang jasadmu hidup dlam waktu yang ditentukan”.
“Aku berada di belakang sirmu;.. Pengetahuan sirmu tidak mengetahui akan Daku, dan isyarat-isyarat sirmu tidak sampai menyaksikan Daku”.
“Bila telah engkau yakin tentang sirmu, maka engkau bukan lagi engkau.... sedangkan engkau-engkau itu adalah tetap engkau”.
“Engkau daripada Ku”.... “Engkau kemudian daripada Ku”
‘Sedangkan segala sesuatu di alam wujud ini datangnya kemudian daripadamu dapat mengalahkan engkau asalkan engkau mengenal kedudukanmu dan membiasakan (melazimi) duduk di dalam maqammu, maka yang demikian itu engkau lebih kuat dari kandungan huruf dan asma; lebih kuat dari segala apa yang nyata di dalam dunia dan akhirat”.

“Jika engkau telah meyakini akan sirmu, maka yakin pulalah engkau akan Daku; daripada Ku lah adanya segala sesuatu. Akulah yang menyatakan segala sesuatu; Akulah yang DIA itu AKU”.

“Aku tidak berada di dalam sesuatu, dan aku berlepas diri dari pada sesuatu, dan tidak pula Aku berdiam di dalam sesuatu; dan tidaklah Aku di dalam Aku, dan tidaklah Aku daripada siapa pun, dan Aku tidak terjawab oleh pertanyaan “Bagaimana?? Dan tidak pula oleh ucapan tanya “Apa” pun”.

“Aku adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal dan menjadi kembalinya segala macam pinta (Shomad) tidak ada yang dapat menyatakan adanya menjadi nyata selain Ku”.
“Aku telah mendhahirkan alam semesta, yang bersifat teguh-tetap (alam benda) dan apa bila Aku bernyata niscaya Aku akan melenyapkannya, dan apabila Aku berkehendak; niscaya Aku mengembalikannya kepada mendahirkannya pula dengan pakaian-pakaian sementara , serta aneka ragam logam-logam yang terdapat di mana-mana (Yakni pakaian ruang dan waktu ... masa dan mana).

“Maka peliharalah batasmu antara Ma’nawiyah dan tsabatiyah (yang tidak tetap dan yang tetap) antara roh dan jasad.

“Segala sesuatu akan dituntut oleh dari mana ia berasal (jasad barasal dari tanah, maka tanah itu akan menuntut) dan tiadalah Aku dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan berkhusus dengan Ku; Tiadalah Aku ditentukan, dan sesungguhnya Aku mutlak (bebas)”.
10. SOPAN  SANTUN  BERTUTUR  KATA  BERSAMA  ALLAH

Hai hamba !! Janganlah engkau menentukan dan menguraikan apa-apa yang menjadi keperluanmu, tetapi hendaklah engkau menyembunyikannya, lalu ucapkanlah :
“YA Tuhan, tengoklah hambamu ini yang berdatang sembah dalam keadaan durhaka penuh dosa,... tolonglah akan daku dalam urusanku, dakulah semua kemalangan itu,,,, hanya Engkaulah yang dapat memilih mana yang baik untukku; dakulah yang bodoh terhadap masalahku di antara kedua tangan Mu. Hindarkanlah daripadaku tindak memilih atas-Mu”.

Hai hamba! “Tindak memohon kepada Ku hendaknya diiringi dengan pernyataan yang bijak... maka akan ku perlihatkan kepadamu apa yang selama ini engkau sembunyikan dan apa yang engkau nyatakan ... katakanlah;

“Ya Tuhan! Daku bersama Mu sahaja, agar tiada satu pun menyambarku dan ditarik mejauh dari Mu, daku bersama Mu sahaja, agar tidak mengenal selain Mu; ,,, Jadikanlah daku melihat Mu untuk selama-lamanya; Ku mohon apa yang Engkau Ridloi...Anugrahkanlah daku kecintaan pada Mu”.

“Ya Tuhan!! Daku memohon dengan segala kerendahan dan sepenuh hati, dapatlah daku menjadi hiasan antara kedua tangan Mu; pakaikan untuk ku pakaian indah yang menjadi hamparan tibanya karunia Mu; Jadikanlah pula daku selalu memandang Mu menurut kehendak dan kemauan Mu dan menjadi sasaran gairah cemburu Mu”.

Hai hamba! Ucapkanlah kata-katamu dengan penuh rasa penyesalan!
“Tuhanku yang melihat akan daku, maka bagaimanakah daku melihat selain Nya.

Telah daku lihat pula daku saksiskan, maka sekali-kali daku tidak melihat Nya; daku bersenang-senang dan bergembira ria, maka sekali-kali daku tidak melihat Nya; daku murung, daku bersedih, maka sekali-kali daku tidak melihat Nya; daku lapar dan menanggung derita, maka sekali-kali daku tidak melihat Nya; daku kenyang tidak juga sekali-kali daku melihat Nya... daku menyembah pada Nya; maka sekali-kali tidak juga melihat Nya”.

“Oh Tuhanku! Kemanakah seharusnys daku pergi?  Sedangkan Engkau yang melakukan segala tindak”.

“Tutur kata siapa lagi yang hendak daku dengarkan, bukankah setiap lesan mengucapkan tutur kata Mu?  Dengan siapa pula daku menggabungkan diri dalam himpunan?  Sedangkan Engkau berada di setiap himpunan”.

“Tak pelak lagi ya Tuhan, Engkau berada di setiap mata yang melihat”.

11.  DENGARKAN  ISI  PERJANJIAN  PENGANGKATANMU

Aku ditegakkan berdiri di antara kedua tangan Nya; lalu ia berseru :
“Tiada kufitrahkan padamu agar engkau tunduk kepada ilmu pengetahuan, tiada pula Ku didik engkau agar berdiri di depan pintu-pintu selain pintu Ku; tida pula Aku mengambil kawan duduk semajelis agar engkau mengajukan permohonan pada Ku untuk duduk bersama selain Ku. Hendaklah engkau ketahui siapakah engkau, maka pengetahuanmu tentang dirimu adalah merupakan suatu peraturan bagimu yang tiada akan roboh, dan suatu ketenangan untuk mu yang tiada akan lenyap”.

“Engkau adalah hamba K”.
“Engkau hidup dengan Ku, karena tiupan roh Ku, dan kepada Ku engkau kembali, dan dengan Ku engkau akan bangkit, dan kepada Ku engkau bernasab. Ku ciptakan engkau agar engkau menjadi tatapan pandangan Ku, dan engkau akan menjadi pengurai Nama-nama Ku; Ku ciptakan dunia ini untukmu dan pula Ku sujudkan kepadamu; dan Ku ciptakan segala sesuatu demi engkau, Ku bentuk engkau demi Aku supaya engkau menjadi ahli Hadirat Ku; Ku pilih engkau demi kemuliaan himpunan Ku; Ku gemarkan engkau bersama Ku; Ku fitrahkan engkau sesuai dengan gambaran Ku”.

Dengarkan perjanjian wilayahmu (Pengankatanmu) :
“Jangan engkau bertakwil atas Ku dengan menggunakan ilmu pengetahuanmu, taatilah hukum-hukum Ku tanpa takwil dan tanpa saling berbantah.

Janganlah engkau menjarak daripada Ku... demi untuk kepentinganmu sendiri... manakala engkau keluar, hendaklah keluar kepada Ku; dan engkau masuk, hendaklah mesuk pula kepada Ku; dan engkau tidur, maka tidurlah dalam penyerahan kepada Ku; dan bila engkau bangun, maka hendaklah engkau bangun penuh dengan rasa tawakal kepada Ku; dan bila engkau makan hendaklah engkau menyadari bahwa makananmu itu dari tangan Ku; dan bila engkau minum, hendaklah engkau menyadari pula bahwa engkau meneguk minuman dari tangan Ku”.

“Mohonlah pertolongan dengan berdo’a kepada Ku, agar engkau bisa tegak berdiri di dalam maqammu di antara kedua tangan Ku... Kalau tidak ... maka diammu itu menyeru kepadamu tentang apa-apa yang telah diketahui perihal dirimu, maka waspadalah engkau kepada Ku, jangan sampai diammu itu menjadi seruan kepada dirimu, sedangkan engkau mengesankan bahwa diammu itu adalah taqarub (berhampir diri) kepada Ku”.

“Bagaimana engkau melepaskan pendanganmu ke arah langit dan bumi, matahari dan bulan, dan kepada segala sesuatu apapun, sedangkan engkau telah mengetahui, bahwa kesemuanya itu terang dan nyata daripada Ku.

Kesemuanya itu mensucikan diri Ku dengan menyampaikan puja-pujiannya kepada Ku dan mengucapkan kata tulus “Laisa Kamitslihi Syai’un... Tiada satu pun yang menyamai Nya”... Janganlah engkau menyingkir dari patokan pandangan yang demikian ini, agar tidak dirampas oleh pandangan-pandangan lain. Dan  jangan lupa engkau mengeluarkan sifatmu dari cara memandang yang demikian, karena nantinya engkau dirampas oleh sifatmu sendiri”.

“Bila engkau tidak melepaskan sifatmu keluar dalam pandangan ini, akan ku tan engkau akan menulis atas dahimu wilayah Ku (pemeliharaan Ku), dan akan engkau saksikan bahwa sesungguhnya Aku berada bersamamu di mana pun engkau berada. Dan akan ku dudukan engkau di dalam maqam ishmad (maqam yang tidak luput dalam penjagaan Ku), dan akan Ku tetapkan engkau dalam sopan santun dari segala syahwat keinginanmu, dan engkau kan merasakan malu untuk selalu berada di dalam tata cara adat-isitadatmu”. SesungBahwa syahwat-syahwat itu menjadi hijab penutup atasmu untuk menguji kecintaanmu, maka jika engkau menetapkan pilihan kepada Ku dan tidak memilih keinginan-keinginan lain, niscaya ku ungkapkan untukmu zatmu sendiri dan tiada lagi Aku menutupi engkau dengan aneka keinginan-keinginan syahwat. Ketahuilah, bahwa syahwat itu mendatangi engkau melalui jasad tubuhmu. Adapun zatmu maka Ku ciptakan atas dasar suci murni tiada condong melainkan hanya kepada Ku sendiri”.

“Katakanlah pada lubuk hati nuranimu, agar berdiri tegak di anatara kedua tangan Ku, tiada dengan sesuatu dan tiada pula untuk sesuatu, niscaya Ku bangun mahligai yang sangat besar di belakangmu, dan kekuasaan agung di bawah kedua telapak kakimu.

Hendaklah engkau memohon bantuan hanya dari Ku sahaja, jangan dari Ilmu Ku, dan jangan pula dari dirimu, dengan demikian engkau menjadi hamba Ku, berada di sisi Ku dan dapat pengertian perihal Ku.

Hendaklah halmu menjadi demikian laksana TUHAN YANG HADIR, dalam alam semesta yang gaib dan pudar. Maka inilah hiasan sifatnya barang siapa yang aku malu daripadanya”.

12. PENGLIHATAN

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

Hai hamba! Menundukan kepala ke bawah, adalah merupakan lalu-lintas dunia dan akhirat, dan melepaskan pandangan adalah merupakan penjara dunia dan akhirat (penglihatan adalah laksana penjara dunia dan akhirat dalam arti jika penglihatanmu engkau menjadikan sedemikian rupa, memandang wajah ayu dan cantik, maka di balik wajah ayu dan cantik terbukalah pintu penjara dan engkau menjadi budaknya, maka engkau akan luput kehilangan arah dari dunia dan akhirat)”.

“Orang yang menoleh ke kanan dan ke kiri sudah tidak layak lagi berjalan bersama Ku (karena dia sudah disibukan oleh pikirannya yang tidak menyatu lagi, sudah bercerai berai dan tidak lagi mendengar kata-kata Ku)”.

Hai hamba ! Perihalah hatimu dari jurusan matamu, kalau tidak, maka engkau tidak lagi dapat memeliharanya untuk selama-lamanya”.
 Hai hamaba! Peliharalah matamu, niscaya Ku jaga hatimu (Yakni Ku pelihara hatimu dari ketidaktetapan dan ketidakmantapan)
“Jagalah syahwatmu, niscaya Ku cukupi hajatmu”

“Peliharalah kedua matamu serta serahkan dan tinggalkan kesemuanya pada Ku... bila telah engkau pelihara kedua, niscaya terpeliharalah hatimu dalam puri kerajaan Ku (yakni sudah tidak lagi terpengaruh oleh perbagai macam yang menarik perhatianmu, dan tidak lagi tergoda dari ketidaktetapan dan ketidak mantapan, dan engkau Ku beri kemampuan untuk mengarahkan dan menghimpun tekad yang kuat dan kemauan yang teguh. Itulah yang Ku maksudkan dengan puri kerajaan Ku)

Hai hamba! “Jangan engkau memandang apapun yang Ku perlihatkan padamu dengan pandangan terpesona yang akan menyerumu kepada rasa kepuasan, dan janganlah engkau merendahkan diri terhadap pada sesuatu pun. Jika engkau telah terpesona melihat selain Ku, lalu engkau merasa tergoda, maka katakanlah :
YA Tuhan... inilah ujian Mu! Maka Aku akan merahmatimu!”
13. TENTANG  “JAUH DAN DEKAT”

Hai hmba! “Berulang kali Ku perkenalkan diri Ku padamu, tetapi engkau belum juga mengenal Ku, hal yang demikian berarti engkau menjauhkan diri daripada Ku. Engkau sudah mendengar tutur-kata Ku dari lubuk hati sanubarimu, tetapi engkau belum juga mengetahui bahwa itu adalah kata-kata Ku, hal yang demikian sama halnya engkau telah menjauhkan diri daripada Ku”.

“Engkau dapat melihat dirimu, sedangkan Aku lebih dekat dari dirimu, itulah pengertian menjauh yang sebenarnya”.

Hai hamba! “Engkau akan tetap tinggal terhijab dengan hijab tabiatmu sendiri; Sekalipun telah Ku ajarkan padamu, ilmu pengetahuan Ku, dan kerap juga engkau mendengarkan kata-kata Ku, hingga engkau berpindah kepada kedudukan bekerja dengan Ku”.

Adapun si Waqif (Yang berhenti dan berdiri tegak di Hadirat Ku) maka ia telah memasuki tipa rumah, maka tiada lagi rumah-rumah yang dapat menampungnya; ia sudah merasakan segala macam minuman tetapi masih tetap merasa dahaga; lai ia sampai ke pada Ku, dan Aku adalah tempat tinggalnya, dan di sisi Ku adalah tempat penghentian dan berdirinya.

Al Waqwah (penghentian untuk berdiri tegak di Hadirat Allah), adalah di balik apa yang dikatakan, dan makrifat itu adalah puncak yang di katakan, sedangkan ilmu pengetahuan itu adalah apa yang dapat di katakan.

“Bila engkau melihat selain Ku, takan dapat lagi enggkau melihat Ku”
“Jangan putusa harapan daripada Ku... Andaikan engkau datang kepada Ku dengan segala ucapan dan tutur kata yang buruk, maka ampunan Ku lebih besar lagi. Dan jangan pula engkau bercanda dan berani pula kepada Ku. Andaikan engkau mendatangi Ku dengan semua uacapanmu dan tutur katamu yang baik, tentu hujat Ku lebih utama”.
14. KHUSUS   DAN   UMUM

Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

“Bukanlah suruhan Ku yang berupa ilmu pengetahuan yang Ku tujukan kepadamu, dari jurusan hatimu, itu untuk memindahkan kedudukanmu dari umum kepada khusus.

Bukan pula di kala Aku memerintahkan kepadamu untuk membuang segala apa yang Ku berikan padamu berupa ilmu-ilmu dan pengetahuan-pengetahuan itu demi kegairahan Ku atasmu. Dan bukan pula supaya Aku memilihmu untuk diri Ku. Itu semua adalah agar engkau keluar daripada makrifat kepada penyaksian, dan dari khusus yang tingkat khususnya khusus, supaya negkau utuh untuk Ku, sebagaimana Aku menjadi untukmu, menjadi sasaran pandanganmu dan engkau menjadi sasaran pandangan Ku”.

“Tiada lagi antara Ku dan antaramu batas pemisah sesuatu pun, baik nama-nama Ku, atau ilmu-ilmu Ku apalagi nama-nama atau ilmu-ilmumu”.

“Hendaklah engkau titipkan namamu kepada Ku sampai tiba saatnya Aku menjumpaimu dengan (nama). Jangan ada lagi antara Ku antaramu nama, ilmu dan makrifat yang membatasai, maka untuk Hadirat Ku telah Ku bentuk engkau bukan untuk hijjab. Maka pada Hadirat Ku tidak satupun lagi yang mampu menguasaimu, karena sesungguhnya engkau adalah kemudian daripada Ku, dan sesuatu apapun yang Ku nyatakan adalah kemudian daripadamu”.
15. SETIAP YANG BERBEKAL AKAN TERKALAHKAN

Aku ditegakkan berdiri di atas permukaan laut, maka kulihat bahtera demi bahtera saling tenggelam, yang tersisa hanya keping-keping papan yang berserakan di sana-sini” Kemudian tiba saatnya papan-papan itu tenggelam juga. Lalu Dia berseru kepadaku : “Tiada satupun yang naik di permukaan laut itu akan selamat, dan setiap yang berbekal akan terkalahkan”.

Ia pun berseru pula : “Barang sapa yang mau menerjunkan dirinya dan tidak mau naik, berarti mau menghadang bahaya”.

Lanjutnya : “Siapa yang naik juga dan tidak mau menempuh bahaya, niscaya akan binasa!”.

Dan kata Nya : “Dalam menempuh bahaya masih ada sebagian darapan dari keselamatan”. Dan ombak yang ketika itu datang menggunung menganggkat pula apa-apa yang ada di bawah permukaan laut dan dihempaskan ke tepi pantai.

Lalu kata Nya : “Cahaya terang di atas permukan laut tak dapat di capai, dan dasar laut yang gelap gulita tak dapat dikuasai, dan di antara keduanya ikan-ikan juga tidak dapat terjamin keselamatannya”.

Dan lanjut Nya pula : “Jangan engkau naik ke permukaan laut, maka Aku akan menghijabmu dengan bekal bawaanmu sendiri dan jangan pula terjun ke dalam laut, yang demikian halnya sama saja; Aku tetap akan menghijab dengannya”.

Lalu kata Nya kepadaku : “Di laut itu ada batas-batas, maka yang mana yang akan mendukungmu?”.

Dan kata Nya : “Bila engkeu merelakan dirimu pada lautan, lalu engkau terjunkan dirimu ke dalamnya, tidak yang demikian menjadikan dirimu sama dengan hewan laut”.

Dan kata Nya : “Terperdayalah engkau! Jika Aku menunjukan engkau atas selain Ku!”

Kata Nya pula : “Bila engkau membinasakan dirimu berkorban untuk selain Ku, maka engkau adalah bagi siapa yang engkau rela berkorban itu”

Dan kata Nya : “Dunia itu bagi barangsiapa yang Ku singkairkan jauh daripada dunia, dan bagi barangsiapa yang Ku singkirkan dunia itu daripada dirinya; Dan akhirat itu bagi barangsiapa yang Ku datangkan untuk menghadap (mendekat) kepadanya, dan Ku jadikan pula ia suka menghadap kepada Ku”.
16.  MASUKLAH  PADA “KU” SEORANG DIRI

“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu :
Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!
Engkau melihat amal perbuatanmu walau baik sekalipun, tidak layak bagi Ku untuk meandangnya, maka janganlah engkau masuk kepada Ku dengannya.

Sesungguhnya jika engkau datang kepada Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Ku sambut dedatanganmu dengan penagihan-penagihan dan perhitungan. Dan jika engkau mendatangi Ku dengan ilmu pengetahuanmu, maka Ku sambut dengan tuntutan. Dan jika engkau mendatangiku dengan makrifat, sambutan Ku adalah Hujat, sedang hujat Ku lebih utama dan lebih seharusnya.

 Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (memilih), niscaya pasti Aku singkirkan tuntutan. Hendaklah engkau lepaskan ilmu pengetahuanmu, amal perbuatanmu, makrifatmu, sifatmu, namamu dan dari segala yang nyata, supaya dengan demikian engkau bertemu dengan Ku seorang diri.

Bila engkau menemui Ku, dan ada di antara Ku dan antaramu sesuatu dari kenyataan-kenyataan itu, sedangkan Aku-lah yang menciptakan segala yang yang nyata, Aku lebih dahulu menyingkirkan daripadanya, demi cinta.. guna mendekatimu, maka janganlah engkau membawa kenyataan-kenyataan dalam menemui Ku, jika masih saja demikian halmu, maka tiada kebaikan daripadamu.

Jika engkau mengethaui di kala engkau masuk kepada Ku, pastilah engkau akan memisahkan diri dari para Malaikat, sekalipun mereka itu saling bantu-membantu kepadamu, karena keenggananmu maka hendaknya jangan ada lagi penolong selain Ku.

Jangan engkau melangkah ke luar dari rumahmu tanpa mengharapkan keridaan Ku, karena Aku-lah yang bakal menunggumu dan menjadi petunjukmu.

Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali sehabis menyelesaikan shalatmu, niscaya Ku jaga malam dan siang harimu, Ku jaga pula hatimu, Ku jaga pula urusanmu, juga kemauan kerasmu.

Tahukah engkau bagaimana hendaknya engkau datang menjumpai Ku seorang diri? Hendaknya engkau melihat tibanya Hidayah Ku kepadamu, karena kemurahan Ku bukan karena amalmu engkau memperoleh pengampunan Ku dan bukan pula oleh ilmu pengetahauanmu.

Serahkanlah kembali kepadaku buku-buku ilmu pengetahuan, dan catatan-catatan amalmu, niscaya Ku buka kedua tangan Ku, Ku terima dan Ku buahkan dengan keberkahan Ku dan Ku lebihi dengan kemurahan Ku”.
17. BERDIRI DI ANTARA KEDUA “TANGAN ALLAH”

“Bila engkau didatangi Kalam (pena), lalu ia mengatakan kepadamu : “Ikutlah aku! Ketahuilah yang berada di sisi ilmu itu adalah Aku, hendaknya mendengar daripada Ku, akulah yang menggariskan rahasia-rahasia itu. Hendaklah engkau menyerahkan diri pada Ku saja, tidaklah engkau dapat melangkahi Aku dan mencapai Ku, maka katakanlah kepada “Kalam”. Enyahlah daripadaku hai kalam! Yang menyatakan aku adalah yang menyatakanmu, dan yang memeperlakukan aku adalah yang memeperlakukan engkau, yang menciptakan aku adalah yang menciptakanmu. Daripada Nya aku mendengar dan daripada mu, kepada Nya aku berserah diri, dan bukan kepadamu.

Jika ku dengar ucapanmu, niscaya aku terhijab, bila ku serahkan diriku padamu, niscaya aku menjadi lemah, bila aku mengikutimu nicaya akau jatuh di perbatasan dan menemui beberapa persimpangan yang tidak menetu jurusannya.

Bila mendatangi engkau Arasy... dengan serba kemegahannya yang memepesonakan, diiringi pula oleh para Malaikat yang tak henti-hentinya bertasbih, lalu engkau di panggil ke arah dirinya, maka sahutilah panggilannya itu “Enyahlah engkau wahai Arasy! “Perhatianku bukan di sisimu” dan “berdiriku di sekitarmu!.

. Perhentianku di sisi Allah yang menciptakan dirimu, dan Ia lebih besar daripadamu di dalam arena ke Agungan dan Keindahan, lebih memukau dari keindaanmu dalam tingkatan perhiasan, maka berdirimu karena pertolongan Nya, engkau berhujat kepada Nya, memerlukan bantuan Nya.  Adapin Dia maka Dia berdiri dengan Zat Nya; Jamal Nya daripada Nya; Keindahan Nya dari pada Nya. Keagungan Nya daripada Nya, tiada dari selain Nya.

“Bila engkau berkehendak supaya jangan ada sesuatupun yang melintas kepadamu selain Ku, dan bila engkau berhasrat ke luar (melepaskan diri) dari segala yang nyata, maka hendaklah engkau berdiri di dalam ketiadaan (anafi) di ambang pintu  (“LA”) (tiada) Ilaha illallah (Tuhan melainkan Allah) dan ketahuilah, bahwa “an-nafi” tidak akan tercapai kecuali dengan Ku. Aku nanti yang akan menafikanmu daripada yang lain-lain dan Ku isbathkan engkau dengan karunia Ku dalam bertetangga dengan Ku dan di sisi Ku”.

“Hendaklah engkau berdiri di Hadirat Ku, bukan untuk mendengar daripada Ku, dan bukan untuk mendapat tahu daripada Ku, dan bukan untuk saling bertutur kata, tetapi hanyalah untuk saling pandang-memandang, tetapkanlah pendirianmu dalam pendirian ini hingga tiba saatnya Aku bersabda kepadamu, Maka apabila Aku bersabda hendaklah engkau menangis, menyesali sabda-sabda Ku yang termakan oleh usiamu yang telah lanjut berlalu.

“Bila engkau telah berdiri di Hadirat Ku, jangan hendaknya engkau keluar dari maqammu, sehingga andaikan engkau dijumpai, di kala menyaksikan Aku, oleh runtuhnya langit dan hancurnya bumi, engkau akan tetap juga dan tidak akan pergi menyingkir”.

“Bila engkau telah mengenal, bagaimana engkau berdiri di antara ke Dua Tangan Ku, demi untuk Zat Ku dan Wajah Ku semata, bukan untuk keperluan apapun, baik dari pembicaraan maupun tutur kata Ku, maka sesungguhnya engkau telah mengenal ka Agungan Hadirat Ku”.

“Dan barang siapa sudah mengenal akan ke Agungan Hadirat Ku, akan Ku haramkan apapun selain Ku, dan akan Ku jadikan menjadi ahli pemeliharaan Ku”.

“Bila engkau di datangi oelh pendatang (A Warid) yaitu Khatir Rabbani (lintasan hati yang datang dari Tuhan), maka hendaklah engkau ucapkan :
“Yaa man auradal waarida asy hidnii malakuuti birrikafii dzikrika wadziqnii khanaana dzikri kafii isyhaa dika”
“Wahai Allah yang mendatangkan Al Warid, persaksikan padaku ke Agungan kasih sayang Mu dalam zikirku kepada Mu, dan anugrahilah padaku rasa kerinduan dalam zikirku kepada Mu dalam engkau mempersaksikan.
18.  KEGAIBAN, PENGLIHATAN DAN PENYAKSIAN

Kegaiban (ketidak hadiran) adalah sesuatu kelalaian, hal yang demikian banyak dirasakan oleh manusia-manusia ahli dunia, disebabkan karena melihat sesuatu pada zat dirinya, maka yang demikian itu bagaikan membuka peluang untuk disambar oleh sesuatu-sesuatu itu; dan sesuatu-sesuatu itu saling panggil-memanggil hingga engkau akan terbagi-bagi di antaranya dan tercerai-beraikan oleh panggilan masing-masing itu.

Jelas yang demikian membuatmu gaib daripada Yang Maha Tunggal lagi Berdiri Sendiri. Hanya dengan Pertolongan Nya engkau dapat tegak berdiri, tetapi engkau alihkan penglihatanmu untuk segala sesuautu hingga engkau menerjunkan diri untuk mendapatkan agar memilikinya, atau waspada daripadanya, takut ke padanya, merendah-rendah membujuk merayunya.

Adapun Penglihatan, maka ia adalah: ‘Penglihatanmu kepada Allah dan Kekuasaan Nya atas segala sesuatu itu, menunjukan betapa lemahnya segala sesuatu itu dengan zat dirinya masing-masing, dan sangat sedikit sekali daya upaya, yang hanya merupakan suatu pinjaman dari Allah yang membentuknya serta mendirikannya, maka kesemuanya itu tiada berkemampuan untuk menarikmu dengan zat-zatnya, dan lemah sekali untuk membagi-bagikan kesan dan lemah pula untuk mempengaruhimu dengan segi-segi yang mencerai beraikan. Hanya Allah sajalah Zat Yang Maha Suci yang dapat menghimpun kemauan kerasmu kepada Nya. Dan menyatakan Nya di balik cela-cela sesuatu itu yang dapat melenyapkan zat-zatnya dan zat dirinya.

Adapun Penyaksian, maka ia adalah : “Penghapus leburan segala sesuatu dengan tata laksana ke dalam Nur Illahiat yang melimpah ruah yang meliputi segala-galanya, dan itulah yang kami istilahkan “Penyaksian dengan Hati”.
19.  HIJAB  HIJAB

Hijab-hijab Zat Ilahiat itu, dala lima :
1.      Hijab A ‘yan (A’yan = segala mahluk yang diciptakan oleh Allah).
2.      Hijab Ilmu
3.      Hijab Huruf
4.      Hijab Asma (Nama-nama)
5.      Hijab Kejahilan (kebodohan)

Dunia dan akhirat dan apa yang ada di antara keduanya dari makhluk-makhluk, adalah hijab A’yan dan setiap “ain (mata) dari kesemuanya itu adalah hijab A’yan atas dirinya sendiri dan hijab atas selainnya.

Dan Hijab Ilmu dikembalikan pada hijab a’yan, karena ilmu itu hasil pembahasan terhadapnya dan terhadap pada peraturan-peraturannya.
Dan hijab huruf adalah hijab hukum...
Dan Asma (nama-nama) adalah hijab atas apa yang dinamai..
Terakhir adalah Hijab Kejahilan (kebodohan) yang mana tidak dapat diungkapkan melainkan pada Hari Kebangkitan (Hari kiamat).

20.  APA-APA  YANG DISERUKAN ALLAH KEPADA HAMBA-NYA

1.      Hai hamba “Bila engkau telah menghilangkan (melalaikan) hikmat kebijaksanaan apa yang telah engkau ketahui, maka apa yang akan ngkau perbuat dengan ilmu yang tiada engkau ketahui itu ?

2.      Hai hamba! “Kesedihan yang menimpa dirimu, adalah kesedihan yang sebenar-benarnya, (yakni bilai engkau telah melalaikan Daku, maka sesungguhnya engkau telah melalaikan  sesuatu yang tiada lagi gantinya).

3.      Hai hamba! “Jika bukan karena Shomad Ku (shomad = kesudahan dari semua pinta), niscaya engkau tidak menemukan tujuan permintaanmu. Dan jika bukan karena Dawam Ku (dawam = yang terus menerus tanpa hentinya) niscaya engkau bosan,

4.      Hai hamba! “Aku lebih utama bagimu daripada apa yang Kunyatakan, sedangkan engkau lebih utama bagi Ku dari apa yang Ku sembunyikan.

5.      Tanda ampunanku di dalam suatu ujian, ialah bahwa ujian itu menjadi suatu ilmu pengetahuan bagimu.

6.      Siapa yang Ku bodohkan, Ku beri dalih dengan kejahilan, Aku bermuslihat dengan ilmu pengetahuan Ku terhadap siapa yang Ku bodohkan.

7.      Hai Hamba! Andaikan Ku beritahukan padamu apa yang terkandung di dalam penglihatanmu itu, maka pastilah engkau akan merasa sedih masuk ke dalam surga.

8.      Hai Hamba! Barang siapa yang sudah melihat Ku, maka ia akan dapat melampaui “ucapan dan diam” dan melangakahi “Ilmu pengetahuan dan kebodohan” dan melangkahi epmbatasan.

9.      Hai Hamba! Manakala engkau memohon, hendaklah engkau berdiri menghadap kepada Ku, niscaya engkau Ku beri, Jangan sekali-kali engkau berdiri menghadap kepada permohonanmu, yang demikian membuatmu terhijab dan Ku tolak.

10.  “Aku sendiri adalah bukti nyata, dan tiada selain Ku yang dapat dijadikan bukti.

11.  Tanda-tanda keyakinan adalah keteguhan, dan tanda-tanda keteguhan adalah keamanan dalam menghadapi bahaya.

12.  Siapa yang menyembah kepada Ku demi wajah Ku, niscaya akan kekal. Siapa yang menymbah pada Ku karena takut siksa Ku, niscaya akan berhenti tanpa kelanjutan; dan siapa yang menyembah pada Ku karena rakus dalam kenikmatan Ku, niscaya akan putus.

13.  Jika engkau makan dari uluran tangan Ku, niscaya jasad tubuhmu tidak akan menaatimu untuk engkau ajak bermaksiat pada Ku.

14.  Hai hamba! Buatlah bendungan di depan pintu hatimu, dan jangan diperkenankan masuk selain Ku, engkau pun hendaknya menjadi pengawas atas bendungan itu dan tinggalah sekali di dalamnya, hatimu adalah rumahku, sampai tiba saatnya saling jumpa dalam pertemuan.

15.  Letakkan dosa-dosamu di bawah telapak kakimu, dan letakkan kebaikanmu di bawah dosa-dosamu.

16.  Huruf itu adalah huruf Ku, dan ilmu itu adalah ilmu Ku, sedangkan engkau adalah hamba Ku, bukan hamba huruf Ku, bukan pula hamba ilmu Ku.

17.  Hai Hamba! Jangan engkau berdiri di persimpangan, niscaya engkau akan diarahkan ke perbagai jurusan, dan janganlah engkau berdiri di dalam ilmu, niscaya engkau akan diarahkan ke pelbagai pengetahuan-pengetahuan, dan janganlah engkau keluar dari Hadirat Ku, niscaya engkau akan disambar kenyataan-kenyataan.

18.  Hai Hamba! Bila engkau tertawan oleh nama Ku, niscaya engkau akan diserahkan kepada namamu sendiri, dan bila engkau tertangkap oleh sifat Ku, maka engkau akan diserahkan kepada sifatmu sendiri, dan bila yang menahanmu selain dari Ku, niscaya engkau akan dikembalikan kepada dirimu sendiri, dan bila dirimu sendiri yang mengambilmu maka engkau akan diserahkan kepada musuh dirimu.

19.  Hendaklah engkau berdiri di Hadirat Ku; jika engkau berkata-kata, maka itulah tutur kata Ku; jika engkau menghukum, maka Akulah hakim itu.

20.  Huruf dan apa yang diuraikan oleh huruf adalah serambi ilmu, dan ilmu itu adalah serambi makrifah, dan makrifah adalah serambi nama, dan nama itu adalah serambi dari apa yang dinamakan.

21.  Hai hamba! Engkau telah menerima baik setiap undangan, mengapa undanganKu tidak?? Hai hamba! Gantungkanlah ucapanmu kepada Ku, niscaya perbuatanmu pun akan bergantung padaKu; jika perbuatanmu sudah bergantung pada Ku, maka akan berkelangsungan pemikiranmu dalam beribadat kepada Ku, dan akan masygul lah hati dan batin mu. Hai hamba! Meyerahlah kepada Ku, dengan demikian Ku buka pintu untukmu, agar engkau dapat bergantung pada Ku.

22.  Hai hamba! Jangan engkau berputus harapan daripada Ku, niscaya engkau terlepas dari perlindungan Ku; bagaimana engkau berputus asa daripada Ku, sedangkan dalam hatimu terdapat utusan Ku dan juru bicara Ku.

23.  Hai Hamaba! Penghuni maqam-maqam itu adalah daripada Ku, mereka tidak menghendaki apapun dan tidak membiasakan apaun dan tidak pula jinak pada sesuatu apapun.

24.  Bila tiba hari kiamat, maka berdatanganlah jiwa-jiwa menuju kepada Nur Ku. Apabila di dunia Jiwa ddan Nur Ku telah saling berkaitan, maka terbukalah hijab, tetapi jika tidak, maka tetaplah sebagaimana adanya dahulu.

25.  Hai hamba! Jika engkau berada di sisi Ku, tiada satupun di alam semesta ini yang membekas pada dirimu; engkau tidak girang dengan apa yang engkau peroleh , dan tiak pula menyesali apa yang luput daripadamu. Engkau berada di sisi Yang Maha Pencipta Segala, engkau telah cukup kaya, tidak memerlukan lagi apa-apa yang ada di alam semesta.

26.  Hai hamba! Jika dirimu menentagmu, maka laporkan tantangannya kepada Ku.

27.  Hai hamba! Segala sesuatu Ku beri keperkasaan untuk menyambarmu dari dirimu sendiri, maka jika terjadi hal yang demikian, bermohonlah engkau akan pertolongan Ku. Maka akan Ku perlihatkan keperkasaan Ku, lalu Ku himpun engkau dengan keperkasaan Ku.

28.  Hai Hamba! Akulah Allah. Telah Ku jadikan segala sesuatu itu mempunyai kelemahan (ketidaksanggupan) dan Ku jadikan setiap kelemahan itu kefakiran.

29.  Hamba Ku yang sebenar-benarnya adalah yang memarahi dirinya sendiri demi Aku, dan tidak rela pada dirinya sendiri; Hamba Ku yang sebenar-benarnya adalah yang tetap berzikir kepada Ku tanpa diselingi oleh kealpaan.

30.  Hendklah engkau jadikan terjemahn, tafsiran dan huruf-huruf itu sebagai alat dan kendaraan untuk sampai kepada Ku yang merupakan untaian kata-kata.

31.  Hai hamba! Janganlah engkau menukarkan Daku dengan sesuatupun, maka tiadalah sesuatu yang memadai dan menanadingi Ku.

32.  Hai hamba! Jangan hendaknya engkau menyertai yang fana. Hai hamba! Hendaklah engkau dala segala hal bersama Ku saja, niscaya Ku utus padamu pada hari Aku bernyata suatu tanda dan alamat yang akan meneguhkanmu, maka engkau tidak dikenai oleh kengerian dan ketakuatan, dan tiada pula digemparkan oleh apa yang mendahsyatkan.

33.  Hai hamba! Engkau akan bebas di dlam maqam Hadirat Ku! Tiada satu pun baik perkataan-perkataan maupun perbuatan-perbuatan yang memanggil dan menyeru padamu.

34.  Hai hamba! Kosongkanlah hatimu dari kedamaian apapun, niscaya engkau tidak lagi punya tandingan; Jika engkau menyimpan yang damai, maka apa yang bertentangan akan menjadi tandinganmu. Yang damai akan mengakibatkan keselamatan dan yang bertentangan akan mengakibatkan kebinasaan.

35.  Hai hamba! Sekali-kali engkau tidak akan mengenal Ku, sebelum engkau melihat bagaimana Aku menganugrahkan dunia ini dalam kemwewahan dan kelezatan, yang mana engkau sendiri telah mengetahui terhadap seseorang yang durhaka, maka engkaupun akan rela terhadap apa yang Ku jauhkan daripadamu, dan engkau akan mengetahui akan apa yang Ku palingkan, agar Ku jauhkan engkau dari hijab Ku. Hai hamba! Ketahuilah bahwa ada suatu janji antaramu dan antara ahli dunia ini akan lenyap, dan engkau akan melihat kedudukanmu dan kedudukan ahli dunia ini.

36.  Yang berdiri di anatar kedua tanganKu, tangannya akan menjulang tinggi atas langit dan bumi, jauh di atas surga dan neraka, maka tidak ia akan berpaling menoleh kepada kesemuanya ini. Akulah yang mencukupinya... tiada dasar makrifatnya kecuali di atas landasan Ku; dan tiadalah ilmu pengetahuan serta renungan hatinya melainkan berkisar antara kedua tangan Ku.

37.  Hai hamba! Robohkan apa yang telah engkau bangun dengan kedua tanganmu, sebelum Aku merobohkan dengan kedua tangan Ku.

38.  Engkau adalah hamba selama engkau di kuasai.

39.  Hai hamba! Bila engkau tidak melihat Ku di dalam sesuatu, maka penglihatanmu adalah kelalaian belaka.

40.  Hai hamba! Bila engkau telah melihat Ku di dalam du hal yang saling bertentangan dengan sekali pandang, maka sesungguhnya Aku sudah memilihmu untuk diri Ku.

41.  Hai hamba! Di dalam Aku melemahkan engkau di antara orang-orang yang lemah, dan menguatkan engkau di antara orang-orang yang kuat, tidaklah engkau merasakan cinta Ku.

42.  Hai Hamba! Tidaklah dapat dibenarkan saling bertutur kata, melainkan yang satu berkata dan yang lain diam, tetapi hendaklah engkau diam dan dengarkan tutur kata Ku.

43.  Hai hamba! Engkau telah membuat rumus dan telah engkau terangkan pula maksudmu dengan kefasehan lidah, toh kesudahannya kepada Ku Juga.

44.  Hai Hamba! Hendaklah engkau perhatikan apa yang dengannya engkau menjadi baik, itulah harga dirimu di sisi Ku.

45.  Penglihatan itu adalah suatu ilmu yang mengekalkan, maka hendaknya terus engkau ikuti, dengan demikian akan membawa kemenangan bagimu atas dua hal yang saling berlawanan.

46.  Hai hamba! Jangan hendaknya engkau jinak pada sesuatu selain Ku, lalu engkau menuju kepada Ku; maka serta merta Aku akan menolakmu dan Ku kembalikan engkau pada sesuatu itu.

47.  Dengan sikap membenci dunia adalah lebih baik daripada beribadah untuk akhirat.

48.  Rumahmu di akhirat kelak yang daripada Ku, laksana hatimu sekarang di dunia ini daripada Ku.

49.  Hendaklah engkau tidur, sedang engkau melihat pada Ku, begitulah nanti di kala Aku mewaafatkan engkau, engkau akan melihat pada Ku.

50.  Hendaklah engkau bangun dari tidurmu, sedangkan engkau melihat pada Ku, begitu pulalah nanti di kala engkau Ku bangkitkan di Hari Kiamat, engkau akan melihat pada Ku pula.

51.  Hai hamba! Ketahuilah bahwa penyakit dan obat itu bagi orang yang lalai.

52.  Salian Ku tolak engkau dengan pelbagai hijab, kemudian Ku buka untukmu pintu-pintu dan lorong untuk tobat, yang demikian itu adalah peluang Ku bagimu agar engkau melintasi hijab itu menuju kesudahan pintu-pintu itu.

53.  Hai hamba! Aku bukannya untuk sesuatu, lalu sesuatu itu akan meliputi Ku, bukan pula engkau untuk sesuatu lalu sesuatu itu meliputimu; tetapi sesungguhnya engkau hanyalah untuk Ku dan dengan Ku.

54.  Hai hamba! Jangan dikira setiap yang terbuka itu dapat dilihat. Aku adalah Raja yang terbuka dengan Kemuliaan, yang berhijab dengan Keperkasaan.

55.  Hendaklah engkau melihat segala sesuatu sedangkan engkau melihat pada Ku, sama halnya dengan engkau menghukum padanya dan ia tidak dapat menghukum padamu.

56.  Hai hamba! Engkau ditimpa suatu persoalan, maka katakanlah “Tuhanku! Tuhanku! Niscaya Ku jawab : Labbaik! Labbaik! Labbaik!!!

57.  Bila engkau melihat Ku, sedangkan engkau tidak melihat apapun yang daripada Ku, maka sesungguhnya enggkau sudah melihat Ku benar-benar.

58.  Hai hamba! Bila engkau melihat Ku, berarti engkau berada di sisi Ku; bila engkau tidak melihat Ku, berarti engkau berada di sisimu sendiri. Maka selayaknya engkau berada di sisi siapa yang datang dengan membawa kebaikan.

59.  Hai hamba! Aku telah memuliakanmu dan Ku jadikan segala sesuatu itu bersikap lembut dan lunak kepadamu, maka sekali-kali Aku tidak rela dengan berhentimu sampai di situ, sangat sekali Ku sayangkan! Demi perhatian terhadap padamu dan atasmu.

60.  Hai hamba! Bila engkau telah melihatku! Tiadalah akan sirna bahaya itu sebelum sirna angan-anganmu.

61.  Bila engkau telah menafikan (meniadakan) apapun selain Ku, niscaya engkau akan bertemu kepaa Ku dengan sebanyak bilangan dari apa yang telah Ku ciptakan dari kebaikan-kebaikan itu.

62.  Engkau menjadi hamba assiwa selama engkau telah melihat bagi dia bekas.

63.  Barangsiapa telah melihat Ku, niscaya ia akan menyaksikan bahwa sesuatu itu adalah milik Ku, dan barangsiapa yang sudah menyaksikan bawa sesuatu itu adalah milik Ku, engganlah ia mengadakan tali hubungan dengannya, dan selama engau mengikatkan tali hubungan dengan sesuatu, hingga dari satu segi engkau melihat bahwa sesuatu itu kepunyaanmu dan di segi-segi lain engkau melihat bahwa sesuatu itu adalah milik Ku, niscaya engkau tidak akan mengikatkan tali hubungan.

64.  Hai hamba! Ucapkanlah : “Labbaika Wasa’adaika Walkhairu Bika Waminka Wailaika Waiyadaika” Artinya : Aku selalu menaati Mu, Menuruti Seruan Mu, dan kebaikan itu adalah dengan Mu, daripada Mu, kembali kepada Mu, dan di kedua tangan Mu”.

65.  Hai hamba! Hilangkanlah kebiasaanmu berikhtiar (memilih) niscaya akan Ku buang sama sekali tuntutan Ku itu.

66.  Hai hamba! Manakala negkau telah melihat Ku, maka apapun selain Ku (Assiwa) kesemuanya itu adalah merupakan suatu dosa.

67.  Hai hamba! Aku telah mencintaimu, lalu Aku bermaqam di dlam makrifatmu terhadap segala sesuatu; lalu engkau mengenal Ku demi segala sesuatu dan mengingkari segala sesuatu.

Hai hamba! Bila engkau telah melihatKu, maka hendaklah engkau berada di dalam kegaiban laksana jembatan yang menjadi tempat lalu lintas segala sesuautu tanpa hentinya.

68.  Hai hamba! Perselisihan itu disebabkan oelhe pertentangan kebalikannya *Adh dhiddah), sedangkan melihat pada Ku, tiada satu pun pertentangan maupun perlawanan.

69.  Hai hamba! Bila engkau telah melihat Ku, sangat Aku rindukan padamu untuk datang menjumpai Ku diantara kedua tangan Ku. Maka sekali-kali tidaklah Aku maqamkan engkau dengan selain Ku.

70.  Hai hamba! Puncak kemanjaan Ku padamu ialah, bahwa Aku bertutur kata, yang mana dengan Firman Ku, Aku perintahkan padamu untuk mengulang baca”. Yang dimaksud adalah (QS. Al Isra’ 17:111).

71.  Hai hamba! Akulah yang membangkitkan keinginan-keinginan, cita-cita, maka bila engkai didatangi olehnya, hendaklah engkau ucapkan : “Ya Tuhan! Selamatkanlah kami dari utusan-utusan Mu”.

72.  Hai hamba! “Apabila Aku menjadi terang-cemerlang bagimu, nicaya akan putus segala sebab musabab, dan apabila engkau telah melihat Ku, niscaya akan putus segala nisbah.

73.  Aku telah menguji engkau antara ilmu Ku dan ilmumu, dan Ku uji pula antara hukum Ku dan hukummu.

74.  Pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari selain Ku, dapat diingkari oleh pengetahuan-pengetahuan yang berasal daripada Ku.

75.  Ucapan segala sesuatu merupakan hijabnya, apabila berkata, maka segala sesuatu terhijab oleh ucapannya sendiri.

76.  Makrifat yang bersikap diam dapat menghukum, dan makrifat yang berbicara dapat menyeru.

77.  Aku lebih dekat dari apa yang dirasakan dengan ilmu pengetahuan, dan Aku lebih jauh untuk dicapai dengan ilmu penegetahuan.

78.  Aku ditegakkan berdiri di antara kedua tangan Nya, lalu ia pun mengajukan pertanyaan : Apakah engkau melihat selain Ku? Kujawab : Tidak....... Lalu ia berkata pula : Sekali-kali tiadalah engkau dapat melihat Ku melainkan di antara kedua tangan Ku.  Inilah dia! Engkau menyingkir dan melihat kepada selain Ku, niscaya engkau tidak akan melihat Ku lagi....... Bila engkau melihatnya (selain Ku), maka janganlah engkau mengingkari dia; Jagalah wasiat Ku baik-baik, jangan sampai hilang karena bila hilang, kafirlah kamu... Jika dia berkata padamu dengan sebutan kata “AKU” maka hendaknya engkau mempercayainya, maka sesungguhnya Aku telah membenarkan; Dan bila dia mengatakan padamu kata “dia” maka hendaknya engkau mendustakan dia, karena Aku telah mendustakan dia.

79.  Telah terungkaplah bagiku wajah segala wajah, kesemuanya kulihat saling bergantung kepada wajah Nya; kulihat pula jasad, maka kesemuanya bergantung pada titah Nya, baik perintah maupun larangan Nya,  lalu ia pun berkenan berkata kepadaku : “Pandanglah wajah Ku” lalu ku pandang.... lalu ia pun berkata lagi : “Bukan selain Ku”.... kujawab : “Bukan selain Mu”.... Lalu katanya lagi : ‘Lihatlh wajahmu sendiri” Lalu kulihat wajahku ..... Ia pun berlanjut lagi .... “Bukan lainmu!”.... maka kujawab : Bukan lainku..... maka iapun berkata lagi : “Engkau adalah seorang faqih, maka hendaklah engkau keluar!....... akupun keluar dan berusaha mendalami ilmu fiqih, telah sah bagiku “membalik mata”  (Qolbul ‘ain), maka akupun mengikuti dengan cara ilmu fiqih. Akupun datang kembali dengan membawa bekal ilmu ini, dan ia pun berkata : “Aku tidak mau melihatmu dengan berbekal bikinan *mashnu)...... (membalik mata ... itu adalah perkataan ... sesuatu yang dikatakan); bahwa mata sesuautu (ainusy syai’) atau mahiyatnya (apa yang ia nya) dan zatnya adalah mata Allah (‘ainullah), zat Allah (semata-mata) itu adalah suatu persoalan yang dibuat-buat (mulaffaq) sama dengan diada-adakan, yakni uraiannya tersusun dari huruf-huruf (talfieq) yang memutar balikan kebenaran. Hakikat itu jauh dari huruf dan jauh dari uraian huruf.... yang mungkin dapat diuraikan dalam maudhu, persoalan ini ialah “Bahwa zat dari segala sesuautu itu bergantung pada zat Allah, tetapi jangan salah tafsir bahwa itu adalah mata zat Ilahiat (zat Allah). Jika tidak maka kami dengan demikian telah membalikkan mata dan telah memalsu kebenaran (Al Haqiqat). Firman Allah, yang artinya : “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan manusia dari tanah, maka bila ia telah Ku bentuk dan Ku tiupkan dari sebagian roh Ku dalam dirinya, hendaklah kamu sujud kepadanya” (QS. Shad 38:71-72). Ruh anak Adam, adalah dari Ruh Alloh.... ia suatu tiupan dari ruh Alloh dan berkaitan dengan zat Allah..... tetapi sesungguhnya ia bukanlah ia..... karena zat Ilahiat tiada satu pun yang menyamai Nya (Laisa Kamitslihi Syai’un).

80.  Hai hamba! “Kepada kalian Ku sampaikan : “Andaikan benar-benar kalian telah melihat bahwa Dialah yang berkuasa menyempitkan dan melapangkan, tentu kalian akan cuci tangan dari nasab keturunanmu yang mulia itu.

81.  Hai hamba! Kehalusan Ku tiada bertara, Akulah yang meneguhkan apa-apa selain Ku (assiwa), maka lenyaplah apa-apa yang selain Ku.... Dan tiadalah tandingan keperkasaan Ku, maka segala keperkasaan-keperkasaan akan lenyap. Aku yang menyirnakan yang selain Ku dan apapun yang diperlihatkan olehnya”.

82.  Hai hamba! Akulah yang Dhahir, tiada dapat dicapai oleh penglihatan mata; dan Akulah yang Bathin yang tidak dapat dijangkau oleh prasangka apapun, dan Akulah yang Daim (terus menerus tanpa kesudahan) tidak dapat diberitakan oleh abad demi abad, dan Akulah yang tunggal, dan tidak dapat dimiripi oleh bilangan dan hitungan... Segala sesuatu akan ditutntut oleh asal mulanya. Dan Akulah Yang Satu, Yang Tunggal dan Yang Maha Esa.... Aku tidak berasal dari sesuatu. Lalu sesuatu itu akan berkhusus dengan Ku.

83.  Sekali-kali tidak sampai kemampuanmu untuk mencakup dan melingkupi sifat Ku, umpamakan saja keindahan (Al Jamal) ini adalah sifatKu, untuk Ku, dan kepunyaan Ku, karena Aku meliputi segala sesuatu.

84.  Semua ilmu pengetahuan ibarat lorong-lorong ... tiada jalan-jalan dan lorong-lorong yang sampai kepada makrifat. Makrifat itu adalah induk segala tujuan dan puncak segala kesudahan.... Bila engkau telah berada di maqam makrifat, maka akan terungkaplah pandangan tembus (Kasyaf) dan bagimu mata keyakinan (‘Ainul yaqin) terhadap pada Ku.. pada taraf ini--- gaiblah makrifatmu dan engkau pun gaib pula pada dirimu sendiri, inilah hukum makrifat yang berlaku .... Bila makrifatmu tidak dapat menghukum dirimu, maka Akulah yang tampil menjadi hakim. Sapaimu di taraf ini berarti engkau sudah mencapai puncak ilmu, dan diwajibkan pdamu agar engkau berbicara sambil menunggu ijin Ku, maka dengan bicaramu itu engkau akan menyaksikan murka Ku, manakala engkau diam, maka hilang pula murka Ku, bila engkau bicara... makrifat itu selalu disebut dalam Al Kitab... Kedudukannya lebih tinggi, baik nilai maupun martabatnya dari ilmu pengetahuan, karena makrifat itu adalah hasil pencapaian terhadap hakikat-hakikat yang menyeluruh, sedang ilmu pengetahuan itu adalah pencapaian terhadap persoalan-persoalan yang terbagi-bagi bidangnya. Mengenai “penyaksian” jauh lebih tinggi dari keduanya, karena penyaksian itu adalah hasil dari kebulatan tekad yang disertai dengan usaha yang gigih terhadap kebenaran, dengan ikut sertanya upaya hati dan pengalaman, maka itulah yang menghasilkan penyaksian, dan penyaksian itu adalah setinggi-tingginya keyakinan.

85.  Bagiku.... bahwa memohon keridhaan Nya itu adalah merupakan kemaksiatan pada Nya, kemudian ia berkata kepadaku : “Hendaklah engkau taat kepada Ku”, Lalu engkau merasa telah menaati Nya, maka yang demikian engkau sudah bohong besar, Ia pun melanjutkan L “Engkau tidak mentaati Ku, tida pula Aku diaati oleh sesuatu pun” .... Baru kalilah aku melihat ke Esaan yang sebenar-benarnya. Arti ayat : Kepunyaan Nya jua bahtera-bahtera yang berlayar di lautan dengan layar-layar yang tinggi menjulang )QS. Ar Rahman 55:25). Perhatikan ayat tersebut di atas, bahwa Allah menyatakan jika bahtera-bahtera itu adalah milik Nya, sekalipun milik kita pada lahirnya; Dialah yang membina, sekalipun pada lahirnya kita yang membuat. Ingat renungkan! Kita membina dengan ilmu Nya, dengan pengetahuan Nya, peraturan-peraturan Nya, serta ilham Nya, begitu pula halnya dengan taat, tiada Ia ditaati oleh siapa yang menaatiNya, melainkan ketaatannya adalah kemurahan Nya... Inilah Tauhid itu.

86.  Aku telah ditegakkan berdiri di antara kedua tangan Nya, lalu ia berkata kepada ku : “Aku tiada rela engkau menjadi utuk sesuatu, dan tidak pula rela jika semua itu menjadi untukmu... Ku sucikan engkau, Aku bertasbih padamu. Maka janganlah engkau mentasbihkan Ku. Aku yang membuatmu! Bagaimana engkau dapat mensucikan Ku?

87.  Jangan engkau duduk di atas jamban-jamban, engkau akan dikerumuni anjing-anjing dan akan saling menggonggong padamu, hendaklah engkau duduk di atas mahligai yang kukuh kuat, di suatu tempat yang pintu-pintunya tertutup rapat, dan jangan ada yang menyertaimu; Jangan menghiraukan apapun, baik sianr matahari ataupun kicauan burung-burung, maka tutuplah wajah dan telingamu, karena sesungguhnya bila engkau memandang selain Ku; niscaya engkau akan menyembahnya, dan jika engkau yang dipandang oleh sesuatu, maka engkaulah yang akan disembah.

88.  “ Kulihat segala mata terbelalak memandang kepada Nya, tetapi apa yang dilihat? Segala sesuatu yang terpandang menjadi hijab belaka. Tundukan kepalamu ke bawah, dan lihatlah ke dalam, niscaya terlihat.

89.  Hamba-hamba sahaya berada di dalam surga, sedangkan orang-orang merdeka berada di neraka.

90.  Bila tiada kaan bagimu untuk kau ajak duduk bersama, maka Akulah yang menyertaimu.

91.  Engkau pasti akan mati, tetapi tidak demikian dengan ingatan Ku padamu.

92.  Perhitunganmu meleset, berarti salah dan kesalahan itu berarti tidak benar.

93.  Di antara makhluk-makhluk Tuhan, ada di antaranya yang seakan-akan tidak layak menjadi makhluk sama sekali.

94.  Engkau didalam segala hal, ibarat baunya baju dengan baju.

-          Engkau ibarat arti makna seluruh alam semesta;
-          Engkau bagaikan kitab yang menghimpun sedangkan alam semesta merupakan lembaran-lembaran halamannya.

95.  Aku ini sangat cemburu padamu, dari sebab itu Aku membuat beberapa larangan untukmu.

96.  Katakanlah kepada orang yang risau hatinya daripada Ku, bahwa kerisauan itu berpangkal dari dirimu sendiri; karena Aku lebih baik untukmu dari segala sesuatu.

97.  Bila engkau melihat Ku di dalam dirimu, sebagaimana engkau melihat Ku di dalam segala sesuatu, niscaya berkuranglah cintamu terhadap dunia.

98.  Aku dengan sesuatu tidak akan berhimpun, begitu pula engkau tiak akan berhimpun dengan sesuatu.

99.  Hidup yang manakah untukmu di dunia ini setelah Aku bernyata :

-          Hari kematian itu adalah hari penyatuan, dan
-          Hari yang kekal abadi itu adalah hari kesenangan.

100.     Aku telah menggodamu dengan tidak adanya kepercayaanmu sepenuhnya pada umurmu.

101.    Antara Ku dan antara mu tidak dapat diketahui. Guna apa lagi dituntut.

102.    Aku ditegakkan berdiri di dalam sifat “Ketunggalan” (Al Wahdaniah), lalu ia pun berkata kepdaku : “Telah Ku jadikan nyata segala sesuatu saling menunjuk kepada Ku; dan mengungkapkan perihal Ku. Sebagaimana Aku menjadikannya di saat yang bersamaan, memanggil kepada dirinya dan menghijab daripada Ku; maka nasib setiap insan yang dikarenakan penghijab-penghijab itu seakan-akan menggantungkan dirinya pada penghijab-penghijab itu. Zikir Ku, Ku khususkan terhadap setiap yang Ku jadikan nyata, dan zikir Ku adalah pengungkap semisal hijab juga... “Bila Aku bernyata tiadalah engkau akan melihat apapun di sekelilingmu lagi”

103.   Hendaknya engkau katakan : “Ilahy! Jangan kiranya Engkau biarkan diriku diporak-porandakan huruf di dalam makrifatku kepada Mu.

104.    Masih jugkah menyusahkan dirimu, dari segala apa yang datangnya daripadamu? Maka hal ini akan u ampuni. Jangan kiranya ada yang menyusahkan dirimu. Segala apa yang datang daripadaku yang menyusahkan dirimu akan Ku palingkan semua. Bila engkau sanggup melakukan apa yang Ku haruskan padamu mengatasi keduanya ini, niscaya engkau menjadi seorang Wali.

105.   Bila engkau bukan dari ahli Hadirat (yang selalu bersama Allah), tentu saja khatir (lintasan hati) itu akan selalu mendatangimu dan semua siwa itu merupakan khatir; dan tidak akan memberi manfaat malinkan berupa ilmu, dan ilmu itu sifatnya selalu bertentangan satu sama lain. Maka untuk menyelamatkan dari pertentangan diperlukan perjuangan. Engkau tidak akan sanggup melakukan perjuangan tanpa Aku, dan tidak pula ilmu kecuali dengan Ku, Hendaknya engkau berdiri bersama Ku, maka dengan demikian barulah engkau menjadi ahli Hadirat Ku.

106.  Aku dihentikan di dalam “ikhtiar” lalu ia berkata : “Kalian akan menderita sakit” dan dokter akan selalu rajin menjenguk di waktu pagi dan petang, kata-kata yang diucapkan para dokter itu adalah kata-kata Ku dan mereka mengimani ilmu kedokteran, tetapi tidak beriman kepada Ku; Si penderita pun patuh kepada dokter dan menurut berpantang makan, tetapi tidak berpuasa untuk Ku.

107 Sudah layak jika Aku “memperkenalkan diri” kepadamu dengan bala (ujian dan cobaan) Aku tidak akan lenyap dan bala itu berasal daripada Ku.. Pengalamanmu terhadap bala itu berasal daripada Ku... pengenalanmu terhadap bala menjadi bala pula ... dan tiada seorang pun dapat melarikan diri dari bala, karena bala itu daripada Ku”.

108.   Aku dihentikan dalam “Perjanjian” dalam keadaan tegak berdiri, Ia pun berkenan bertutur kara padaku :

-          Keluarkan dosamu demi ampunan Ku.
-          Lemparkan kebaikanmu demi karunia Ku.
-          Tanggalkan ilmu mu demi ilmu Ku.
-          Singkirkan makrifatmu demi makrifat Ku.
-          Tegaklah berdiri bersama Ku saja.
Bila engkau tetap saja berdiri, maka segala sesuatu akan mengarahkan dayanya dan menarik-narik padamu serta menghijab mu.
-          Berada di sisi Ku
Maka aku akan bersamamu. Akulah yang akan menghadapi rintangan dan halangan.

109.      Bermula adalah tahap penyaksian (Al musyahadah) dengan menafikan khatir (lintasan hati) kemudian menafikan makrifat, lalu menafikan dirinya sendiri yang bermakrifat, terakhir menafikan “aku” (Al ana).

110.   Tolonglah Daku! Niscaya engkau menjadi kawan Ku. Bila Aku sudi engkau kawani, maka Ku berikan padamu kekuatan dan pertolongan Ku, Dan Ku beri ilmu dari ilmu Ku.

111.    Engkau mempelajari ilmu itu untuk bermegah-megahan di hadapan para ulama dan untuk berdebat dengan para jahil, dan untuk engkau jadikan bahan musyawarah, rapat maupun muktamar, dan.... untuk mengeruk keuntungan duniawi... neraka... neraka!.

112.                      Bila engkau telah keluar dari tabiatmu, keluar dari sifatmu, keluar dari amalmu dan keluar dari ilmumu, maka keluar pulalah engkau dari namamu; Dan bila engkau sudah keluar dari namamu, jatuhlah engkau ke dalam nama Ku. Bila engkau telah jatuh ke dalam nama Ku, akan terlihatlah padamu tanda-tanda pengingkaran, dan segala sesuatu itu akan  serentak mengadakan perlawanan kepdamu berupa fitnah dan engkaupun memunafikan setiap khatir hatimu... Nah! Sekarang setiap yang melawanmu akan berhadapan dengan Ku!.

113.  Hendaklah engkau meneliti dan melihat dengan apa engkau memperoleh ketenangan, maka sesungguhnya tempat tidurmu adalah kuburan.

114.  Di antara ilmu-ilmu pendekatan (Al Qurb) hendaklah engkau ketahui bagaimana Aku berhijab dengan suatu sifat yang engkau kenali.

115. Barang siapa berdiri di maqam makrifat, kemudian ia keluar, sedang ia sudah mengetahui keberhasilannya mendekati Aku, dan ia tetap tinggal di luar, akan kunyalakan api untuknya seorang diri.

116.    Di antara ilmu-ilmu yang dapat dijangkau mata, pada satu saat akan engkau lihat ilmu-ilmu itu akan bungkam di dalam kelemahannya; tetapi lain halnya dengan ilmu-ilmu hijab, maka ia tetap akan lancar berbicara.

117.   Sifat-sifat yang dapat diungkap oleh tutur kata adalah sifat-sifatmu, dalam arti dan makna, tetapi sifat-sifat Ku yang tidak dapat diungkap dengan tutur kata bukanlah sifat-sifatmu dan tidak juga dari sifat-sifatmu.
Bila Aku berbicara padamu dengan ucapan dan ibarat, tiada wewenang hukum memberikan kunci pembuka; karena ibarat dan ucapan itu berbalik kepada dirimu sendiri. Adapun bila Aku berbicara kepadamu tanpa ibarat, niscaya batu-batu dan bata-bata akan bicara padamu. Dan engkau dalam kedudukan ini tinggal berkata “Jadilah” maka “jadi”

118.  Ibaarat dan ucapan itu adalah rangkaian huruf, dan tidaklah huruf itu mempunyai wewenang hukum apapun. Perkenalan Ku kepadamu melalui ibarat dan tutur kata adalah persiapan untuk perkenalan yang tidak seisertai ibarat. Pemikiran-pemikiran itu melaui huruf, dan lintasan-lintasan hati itu dari pemikiran, tetapi ingatan kepada Ku yang murni adalah terpisah di balik huruf dan pemikiran.

119.   Yang nanti akan engkau temui di dalam kematianmu, ialah apa yang engkau alami di kala hidupmu kini : Arti Ayat : “Barangsiapa selagi di dunia ini buta, maka kelak di akhiratpun akan buta dan lebih sesat jalannya” (QS. Al Isra 17:72).

120. Jangan menanyakan tentang makrifat Ku, dan jangan menanyakan tentang AKU. Hendaklah engkau ketahui, bahwa tiadalah Aku diserupai oleh sesuatu pun (Laisa Kamitslihi Syai’un).

121. Jangan dihiraukan penaggilan selain panggilan Ku, sekalipun ia memanggilmu berdalih ayat-ayat Ku. Jangan engkau hadiri sekalipun ia datang mengundangmu dengan ayat-ayat Ku; karena sesungguhnya, segala sesuatu itu Aku ciptakan memanggil pada diri masing-masing dan menghijab daripada Ku.

122.   Bulatkan tekadmu! Keraskan kemampuanmu paa Ku! Dengan Ku engkau akan kekal, dan putuslah engkau darpadamu : Arti Ayat : Dan kepada Tuhanmulah hendaklah engkau pusatkan kemauanmu (QS. Al Inssyirakh 94:8).

123. Jika engkau serang hatimu, dan hatimu tidak membalas menyerang, maka engkau benar-benar tergolong dari para arifin.

124. Bagaimana para arifin tidak sedih sedangkan mereka melihat Aku meneropong perbuatan buruknya dan Ku katakan : “Jadilah gambar agar dilihat oleh pembuatnya”. Dan juga Ku katakan kepada perbuatan baiknya : “Jadilah lukisan agar dilihat oleh pelukisnya”

125.Timbanglah makrifatmu sebagaimana engkau menimbang penyesalanmu.

126.   Hati orang arif melihat keabadian, sedangkan matanya melihat ketentuan waktu.

127. Katakan kepada para arifin! : “hendaklah kalian mendengar bukan hanya untuk mengenal saja; Hendaklah kalian diam, dan bukan hanya untuk mengenal melulu!; Sesungguhnya Ia mengenalkan diri Nya padamu sebagaimana engkau bermaqam di sisi Nya.

128. Katakanlah kepada hati orang-orang arif : Janganlah kalian keluar dari keadaan kalian, sekalipun kalian sudah memberi petunjuk kepada siapa yang sesat. Apakah kalian menghendaki kesesatan daripada Ku, lalu memberi petunjuk kepada Ku??

129.   Katakanlah “Ilahy” Aku memohon kepada Mu, dengan Engkau!.... sekedar kesanggupan suatu permohonan, aku bermunajat dengan Mu, kepada kemurahan Mu!

130.                      Wahai yang saling berselisih! Janganlah engkau mengharapkan (memperoleh) petunjuk dari yang saling berselisih; Bila ia memberi petunjuk padamu, niscaya engkau akan berhimpun bersamanya dan memadu satu tujuan; Dan bila ia tidak memberi petunjuk padamu niscaya engkau akan berserakan terpecah belah, karena engkau mengikuti perselisihan yang datang dari segalajurusan.

131. Masih ketinggalan satu ilmu, berarti masih tinggal satu bahaya; masih tersisa tambatan hati, berarti masih ditunggu satu bahaya; masih kurang lengkap suatu akal pikiran, berarti masih ada bahaya yang menanti; masih ada suatu kemauan keras atau kepiluan, berarti masih diintai bahaya.

132. Huruf itu adalah satu penjuru dari beberapa penjuru iblis;

133Sesungguhnya engkau sudah melihat keabadian, dan tiadalah keabadian itu dapat diuraikan dan diibaratkan.

·         Keabadian itu adalah satu sifat dari sifat-sifat Ku.
·         Keabadian itu telah bertasbih (mensucikan) demi untuk Ku.
Dari tasbihnya, maka Ku ciptakan malam dan siang, dan keadaannya bagaikan tirai penutup yang membentang bagi setiap hati dan segala rahasia-rahasia. Lalu Ku pilih engkau, tirai siang Ku buka dan tabir malam Ku singkap supaya engkau dapat melihat Ku.

Kuberikan padamu daya, agar engkau mampu melihat terbelahnya langit, dan memandang bagaimana Ku turunkan perintah Ku yang datangnya dari sisi Ku, laksana tibanya siang dan datangnya malam”.

134.Engkau telah mengenal Ku, dan mengenal ayat-ayat Ku. Barangsiapa yang telah mengenal ayat-ayat Ku, maka ia pun telah bebas lepas dari tanggungan alasan apapun. Bila engkau sedang duduk, jadikanlah ayat-ayat Ku berdiri di sekatarmu; dan jangan keluar jika engkau keluar, keluar pulalah engkau dari benteng Ku. (Yang dimaksud dengan ayat adalah kamimat Tauhid).

135.Adab sopan santun para wali-wali itu, ialah mereka tiada mengurusi sesuatu dengan kemauan keras, sekalipun mereka mengetahui dengan tinjauan akal dan budi luhurnya.

136.Bila engkau di datangi oleh panggilan hatimudan engkau lengah tiada melihat Ku, maka sesungguhnya engkau sudah dilambai oleh lidah api Ku, maka sebagaimana yang dilakukan oleh para wali-wali Ku (orang-orang yang beriman dan bertakwa) niscaya akan Ku perlakukan terhadap padamu sebagaimana layaknya Aku memperlakukan para wali Ku, maka katakanlah :
YA Allah! Inilah malapetaka uji cobaan Mu! Maka ku harapkan kelembutan Mu, terhadap padaku, dan limpahkanlah kasi sayang Mu, padaku”.

137.Orang yang berdiri di hadirat Ku, melihat makrifat itu baikan arca-arca, dan melihat ilmu bagaikan azlam (anak panah peramal nasib).

138.lmu yang mantap tak berbeda dengan kejahilan yang mantap.

139.Pembersih tubuh adalah air, dan pembersih hati adalah menundukan pandangan dari siwa....... Ketahuilah! Bahwa hati yang tertambat pada siwa adalah najis, dapat disucikan hanya dengan tobat.

140.Hai hamba! Ynag membuat siwa hingga dapat nyata adalah Kau; yang memperlakukan dan yang menggerakan adalah Aku; dia dtang dan pergi dikarenakan Aku. “Tinggalkan dia! “Tetaplah di sisi Ku”, Kalau tidak! Maka tidak pula aku memilihmu.... Siwa adalah tempat pertentangan, yang berlawanan, yang berserakan, berbilang-bilang, bercerai berai..... Hanya Aku lah Yang Tunggal tanpa lawan tanpa tantangan.

141.Hai hamaba! Janganlah engkau menjadikan Aku sebagai utusanmu kepada sesuatu, maka sesuatu itu kana menjadi Tuhna layaknya. Jika sampai terjadi yang demikian, maka engkau akan ku tulis dari golongan orang-orang yang berbuat olok-olok pada Ku disertai pengetahun.

142.Hai hamba! Hendaklah engkau menghentikan “kemauan keras” mu di kala engkau berada di antara kedua tangan Ku. Bila engkau dapati di anataranya (kemauan kerasmu) dan antara Ku selain Ku, maka lemparkanlah dia (siwa) dengan penglihatanmu kepada Ku dari balik belakangnya (siwa). Kalau dia (siwa) masih tetap ada, maka tatapkan wajahmu kepada Ku, niscaya engkau melihat bagaimana Ku jadikan dia (siwa), maka ssampaimu di sini tidaklah akan Ku katakan lagi “Ambilah” atau “tinggalkanlah”.

143.Pelhralah baik-baik keadaan halmu agar dengan “kemauan keras” mu engkau memandang Ku. Jangan hendaknya “kemauan keras”mu engkau pandang dalam kemauan kerasmu, hal yang demikian membuatmu berpandangan kepada dua larangan dan dua perintah, dan engkau sendiri berada di bawah dua Pemerintahan.

144.Hai hamba! Bila engkau berdiri untuk melakukan shalat, maka hendaklah engkau jadikan segala sesuatu berada di bawah kedua telapan kakimu.

145.Hai hamba! Hendaklah engkau berlindung kepada Ku dari selain Ku, sekalipun selain Ku itu mendatangimu dengan keridaan Ku.

146.Selama masih ada sesuatu di antara Ku dan antaramu, maka engkau adalah hamba dari sesuatu itu.

147.Hai hamba! Pilihlah Aku! Aku terbitkan atasmu segala sesuatu dengan kekayaan yang tiada lagi engkau berhajat apapun lagi; dan jangan selain Ku yang menjadi pilihanmu, maka Aku pun akan gaib. Kemalangan apa yang akan menimpamu? Halangan apa yang akan menghadangmu?? Itulah bila aku gaib... engkau akan terperosok ke lembah hina, dirimu menjadi rendah dalam perhambaan dan kejahatan terhadap pada sesuatu.

148.Hai hamba! Jika pembagian itu telah terangkat, akan menjadikan sama, tiada perbedaan yang menyedihkan  dan yang menggembirakan (yakni bila terangkat hijab) yang memisahkan engkau daripada Ku, niscaya semeua siwa tiada bernilai lagi, baik yang menyedihkan maupun yang menyenangkan.

149.Pengenalan akan nama Allah Yang Maha Agung (Ismullahi Al A’dham) adalah pertama-tamanya fitnah. Bila Aku meniadakan daripadamu tuntutan yang diajukan nama itu, maka lenyap pulalah tuntutan lawan nama itu.

150.Aku adalah lebih baik bagimu dari dirimu sendiri; bila engkau lalai Aku yang mengingatkanmu; bila engkau berpaling Akulah yang mendatangimu; Seakan-akan Aku membuat bangunan indah anggun penuh kemuliaan karena ingatan Ku padamu atau merasa senang bersamamu tanpa kegelisaha... Akulah Yang Maha Kaya, tiada memerlukan daripadamu dan daripada segala sesuatu.

151.Bila engkau telah melihat Ku di balik sesuatu, lalu engkau mendurhakai Ku, maka durhakamu itu adalah atas kesadaran. Barangsiapa mendurhakai Ku atas kesadaran, maka berarti telah memerangi Ku.

Aku sediakan bagi yang mendurhakai Ku suatu alasan dan..
Aku sediakan pula bagi yang berperang dengan Ku suatu medan peperangan, dimana akan Ku biarkan baik engkau maupun yang dengannya engkau memerangi Ku....
Dan perlindungan Ku datang dari arah belakang, yang mana Aku akan mencerai-beraikanmu; Jika Aku mencerai-beraikanmu berarti engkau akan Ku lenyapkan.

152.Ilmu yang menunjuk pada Ku, adalah laksana lorong yang menuju pada Ku... Ilmu yang tidak menuju pada Ku, ialah suatu hijab yang menggoda.

153.Tidak akan sampai panggilanmu di belakang hijab, kecuali dengan menyingkirkan hijab itu; yang demikian adalah keharusan bagi setiap peerkenalan Ku terhadap siapa yang telah melihat Ku.

154.Aku telah bersumpah atas diri Ku sendiri, bahwa tiadalah meninggalkan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu demi untuk Ku; melainkan akan Ku berikan padanya ganti yang lebih baik dari apa yang ditinggalkan itu.

155.Hai hamba! Mengapa pikiranmu bersimpang siur, den mengapa duka citamu engkau simpan bermalam hingga sampai pagi belum juga terlepas daripadamu.... Engkau adalah wali Ku, dan Aku lebih utama bagimu, serahkan saja kepda Ku “Zat rahasiamu” maka Akulah yang menghadapi segala kesimpang siuran dan Aku lebih mengetahui daripadamu. Sebagian sifat dari seorang wali ialah : Tiadanya merasa heran atas sesuatu dan berpantang meminta apapun. Bagaimana tidak demikian dia sudah melihat Ku – apa yang layak diherankan lagi sedang ia melihat Allah, dan apa yang akan diminta? Sedang ia melihat Allah.

156.Sesungguhnya mereka yang bangun di malam hari, ialah mereka yang menuju pada Ku, bukan untuk wirid yang ditentukan maupun bacaan yang dipahami... di sanalah .... Ku sambut kedatangannya dengan wajah Ku, maka ia pun berdiri dengan Qoyyumiati (berdiri Ku sendiri) tiada pinta dan tiada apapun yang diajukan pada Ku. Bila Aku hendak bicara padanya, akan Ku laksanakan; bila Aku hendak memberi pengertian, Ku tanamkan pengertian. Hai hamba! Ahli wirid manakala telah sampai ke tujuannya, mereka akan berhenti dan menyingkir, dan ahli juzu’ (membaca Al Qur’an yang sudah sampai pada batasnya) setelah dipelajari, juga akan berhenti dan menyingkir. Tidak demikian halnya dengan dengan “Ahli Ku” karena baginya “tiada batas lagi” Maka, bagaimanakah mereka akan menyingkir?

157.Hai hamba! Bila engkau telah melihat Ku, lalu engkau menetap dalam suasana “melihat Ku”, maka akan Ku tuanggkan malapetaka guna mengujimu, dan Ku berikan keteguhan hati padamu agar kau tetap tinggal dalam maqammu.... tetapi bila engkau lepas dari “melihat Ku” maka Ku timpa padamu sebagian dari malapetaka dan Aku lemahkan engkau untuk menghadapinya, lalu engkau akan mengalami rasa “menjauh” karena kelemahanmu Ku gerakan engkau berhasrat untuk memohon pertolongan pada Ku, maka kasih sayang Ku akan menarikmu dan mengangkatmu kembali ke maqam “melihat Ku”

158.Hai hamba! Ketahuilah benar-benar bahwa segala sesuatu itu adalah milik Ku, maka janganlah engkau mencoba-coba merebut kepunyaan Ku.

159.Hai hamba! Hendaklah lesanmu senada denngan suara hatimu, dimana Aku bernyata dalam hatimu... jika tidak, maka Aku akan berhijab daripadamu dengan dirimu.... resapilah nasihat Ku ini ke seluruh jangatmu dan dalamilah hingga ke tulang belulangmu.

160.Hai hamba! Bila engkau telah mengenal keabadian, maka engkau telah melihat satu sifat As Shumud. (Ash Shumud ialah tempat bergantung pada Yang Maha Kekal, dan tempat meminta dari yang bergantung pada Nya segala sesuatu, baik yang dimaksud maupun yang disengaja ataupun yang dituju yang kekal tanpa kesudahan).

161.Hai hamba! Apa yang telah Ku ungkapkan bagimu tentang keabadian, Ku iringi pula dengan penutup kepadamu tentang hukum-hukum manusiawi sesuai dengan apa yang telah Ku-ungkapkan untukmu itu.

162.Hai hamba! Jika malam harimu engkau khusukan untuk Ku, dan siang harimu engkau gunakan untuk ilmu Ku, maka engkau akan menjadi seorang besar dari pembesar-pembesar para hamba Ku.

163.Pangkal keteguhan dan kekuatan itu ialah : “Meninggalkan larangan”.
164.Makin luasnya penglihatan, makin menyempitnya ibarat.

165.Barangsaiapa yang selalu ingat pada Ku dan sudah terbiasa serta menjadi tabiatnya pula, maka berarti ia telah membuat suatu perjanjian di sisi Ku guna keselamatan dirinya.

166.Mereka yang membenarkan Aku dengan kegaiban dan beriman pada Ku tanpa melihat Ku, maka Aku akan menyertainya pada hari dihimpun, dan akan Ku kawani di dalam suasana yang mengerikan, dan Ku kirim kepadanya keteguhan dalam menghadapi kegoncangan, lalu akan Ku teguhkan atas apa pun yang dialami, sebagaimana mereka telah mengawani Aku di balik tirai penutup itu.

167.Hai hamba! Jangan hendaknya engkau menjadi orang yang terhijab hanya karena apa yang cocok dengan seleramu atau dengan kemampuan.

168.Hai hamba! Siapa yang mengenal Ku dengan Ku, berarti mengenal dengan satu perkenalan yang tidak dapat diingkari lagi kemudian hari sama sekali.

169.Hai hamba! Aku tidak dapat dikenal oleh siapapun tanpa Aku memperkenalkan diri Ku padanya.

170.Hai hamba! Bila engkau melihat Aku menyingkirkan siwa daripadamu, tetap Aku tidak menyingkirkan engkau daripadanya; maka halmu yang demikian tanyakan kepada orang yang alim dan bahkan kepada yang jahil sekalipun tentang Ku, maka engkau akan melalui jalan yang aman dan jalan berbahaya. Hai hamba! Bila engkau melihat Aku menyingkirkan siwa daripadamu, sedang Aku tidak menyingkirkan engkau daripadanya, maka cepat-cepatlah engkau lari kepada Ku dari fitnah Ku sambil memohon perlindungan Ku daripada makar Ku.

171.Aku ibarat tamu bagi kekasih-kekasih Ku yang mulia, bila mereka menjumpai Ku segera membeberkan rahasia-rahasianya dan dengan penuh khidmat menguraikan ikhtiarnya kepada Ku.

172.Tidak berlaku atasmu hukum di dalam tidurmu, melainkan apa yang telah mengiringi engkau dengan tidurmu, dan tidak lupa berlaku atasmu hukum di dalam kematianmu, melainkan apa yang telah mengiringi engkau dengan kematianmu.

173.Bila Aku tidak gaib dikala engkau makan, niscaya Ku putuskan agar engkau tidak lagi berpayah-payah untuk mencari makan.

174.Hamba Ku yang berada di dalam “Hadirat Ku” ia dapat melihat “nama” itu tidak memiliki kekuatan hukum apapun selain Ku .... itulah maqam yang mengejutkan (Al Buhut) maqam terakhir, yang mana semua hati berhenti di situ.

175.Bila engkau menafikan “nam” (al ism), maka tibalah engkau pada “wusul” artinya : telah sampai .... Bila tiada terlintas padamu “nam”, maka tibalah engkau pada “ittisal” artinya : hubungan.... Bila engkau dalam “hubungan”, maka engkaupun “Berkehendak dan berkemauan” seakan-akan engkau menafikan “nam” itu, dan tidak lagi terlintas “nam” itu; disebebkan karena sangatnya tarikan kuat (Al Wajdu Bilmusamma) dari yang dinamai.... Itulah tingkat yang tinggi, derajat paling atas tentang kecintaan terhadap Zat Ilahiat.

176.Engkau yang hilang dalam kelenyapan, dan Aku lah yang mendapati dan menemukan, cukup kiranya engkau untuk Ku......

177.Engkau yang dicari dan Aku lah yang menemukan; Akulah yang dicari dan engkau yang menemukan. Bukan dari kita siapa yang gaib!

-          Bila selain Ku yang engkau temukan, semoga engkau memenangkan peperangan.
-          Bila Aku yang engkau temukan, engkaupun akan bingung tanpa bersama Ku, dan akan terheran-heran kecuali di sisi Ku.

178.Jika engkau tidak melihat Ku, janganlah engkau meninggalkan nama Ku.
-          Bila engkau tidak melihat Ku di balik dua tantangan dengan sekaligus, maka engkau tidak akan mengenal Ku.
-          Bila engkau sudah tidak dapat melihat Ku ditambah pula dengan kelengahan, maka itulah puncak hawa nafsu.
-          Aku tidaklah berkesudahan hingga dapat dilihat di balik segala sesuatu.

179.Perjuangan pertama menuju pada Ku, hendaknya engkau memandang pada Ku tanpa berkedip sekejap pun.

180.Hendaklah engkau mengatasi urusan dan persoalanmu dengan penuh rasa takut, niscaya Aku teguhkan hatimu dengan kemauan kerasmu; Jangan hendaknya engkau mengatasi dengan harapan dan angan-angan, niscaya akan Ku bongkar manakala sudah hampir mencapai penyelesaian.

181.Bila selain Ku yang engkau jadikan penuntunmu, niscaya engkau syirik kepada Ku, maka hendaklah engkau lari ke arah ddua pelarian, satu pelarian ke arah langgananmu, dan satu pelarian dari tangan Ku.

182.Bila engkau tidak melazimkan zikir... menyebut dan mengingat nama-nama Ku, sifat-sifat Ku dan pujian-pujian untuk Ku,  niscaya yang seharusnya zikir itu untuk Ku... berbalik pada dirimu sendiri, dari sifat Ku menjadi sifatmu.

183.Nama itu memisahkan antara yang bernama dan yang dinamai, dan memisahkan pula antara yang dinamai dan arti nama itu sendiri.

184.Lazimilah berbaik sangka, niscaya akan engkau lampaui hujat Ku (dalil Ku) dan barang siapa yang sudah melintasi hujat Ku, sampailah kepada Ku.

185.Tengoklah kepada Ku, bagaimana Aku mencabut kemashgulanmu terhadap selain Ku.... sati di antara dua! Aku cemburu atasmu atau Ku campakan engkau!

186.Sebelum perjuangan (mujahadah), mulailah terlebih dahulu menyingkirkan dengan “perjuangan”, maka Aku lah yang tampil dengan api kekerasan.... cintamu kepada siwa adalah siwa pula, dan api itupun siwa juga. Tugas api adalah membumbung naik menjulang ke atas hati, akan terlihatlah siwa dan apa yang daripadanya, saling bergabung dan berkaitan.

187.Singkirkan alasan-alasanmu, niscaya terlihat olehmu Aku bertahta tanpa keraguan.

188.Pencinta-pecinta Ku adalah mereka yang sudah tiak mempnyai pendapat lagi.

189.Andaikan engkau bisa menjadi baik untuk sesuatu, niscaya tidaklah Aku menyatakan wajah Ku bagimu.

-          Satu kebajikan berbanding sepuluh; Hal ini bagi orang yang tidak melihat wajah Ku; Tetapi bagi yang sudah melihat wajah Ku, satu kebajikan itu sendiri merupakan dosa. Kebaikan orang-orang yang berbakti adalah merupakan dosa bagi orang yang didekatkan.

190.Bila siwa itu menjadi khatir yang tercela, niscaya runtuhlah surga dan neraka.
191.Mohonlah ampunan Ku atas amal perbuatan hati, akan Ku teguhkan engkau dari berbolak-baliknya hatimu.
192.Aku jadikan engkau jelek terhadap segala sesuatu, yang demikian agar engkau terhijab dari antaramu dan antara Nya; jangan dilobangi hijab itu untuk maksud perkenalan, bila terjadi yang demikian Ku kirim kepadamu kehina-dinaan.

193.Al Wahdaniah (ketunggalan) adalah satu sifat dari sifat-sifat (Adz dzatiah)nya Zat.

194.Benar itu ialah tidak berdustanya lisan.

-          Ash Shidq – itu ialah larangan lisan untuk berdusta, dan Ash Shiddiqiah – adalah larangan bagi hati untuk berdusta.
-          Kedustaan hati mengikat janji tanpa perbuatan.
-          Pendustaan hati ialah mendengarkan pada kedustaan itu.
-          Kedustaan hati adalah menginginkan keinginan-keinginan.
-          Pendusta itu adalah bahasa yang menguraikan selain Ku, dan Al Haq dan Al Haqiqi adalah bahasa Ku.

195.Hati yang sudah melihat Ku adalah bejana malapetaka.
196.Aku telah bersumpah, bahwa tiadalah Aku didapati melainkan di dalam shalat; Aku yang menenggelamkan malam dan membentangkan siang.
197.Bila engkau berdiri berhadap-hadapan di antara kedua tangan Ku, semua akan berteriak memanggilmu, maka waspadalah, jangan di dengar walau dengan hatimu, kalau engkau dengar, sama halnya engkau menerima panggilannya.
-          Bila Ilm yang memanggilmu dengan himpunan segala macam isinya di waktu engkau melakukan shalat lalu engkau jawab dengan mengiakan, maka jelas engkau telah terpisah daripada Ku.

198.Hai hamba! Hendaklah engkau keluar dari kemauan yang menjadi kepentingamu, niscaya engkau akan keluar di atas batasmu.

199.Ia berkata kepadaku.. “ Di dalam surga itu segala apa yang mungkin terlintas dalan ingatan dan pemikiran... sedangkan kenyataannya kesemuanya itu jauh lebih bessar lagi, dan di dalam neraka itu juga segala apa yang mungkin terlintas dalam engatan dan pemikiran.... sedangkan kenyataannya kesemuanya itu jauh lebih besar lagi.

- Aku lah yang berada di balik kenikmatan surga itu.
-  Andaikan kenikmatan surga itu telah mengenal Ku, niscaya ia akan putus dari menghidangkan kelezatan-kelezatannya.
-  Barangsiapa yang telah mengenal kenikmatan memandang wajah Ku serta kenikmatan berada di Hadirat Ku, niscaya ia akan menyesali apa yang telah hilang selama berada dalam kelezatan surgawi, yang hanya kelezatan indra dan jasmani, dan ia akan rindu dan duka selama luput dari berpandangan kepada wajah Ku.

200.Yang menjadi penghalangmu daripada Ku di dunia ini, itu jugalah yang akan menjadi penghalangmu di akhirat kelak.

201.    Hai hamba! Kawanilah Aku dengan sirmu (rahasia hatimu), niscaya Aku menemanimu dalam kehidupanmu!..... Kawanilah Aku dalam kesendirianmu! Niscaya Aku menemanimu dalam pergaulan.... Kawanilah Aku dalam khalwatmu! Niscaya Aku menemanimu dalam himpunanmu!.

202.Hai hamba! Pemisah antara Ku dan antaramu adalah cintamu pada dirimu, maka enyakanlah dan jangan hendaknya menjadi hijab pnutup dirimu.

203.Hai hamba! Telah syirik siapa yang dihentikan oleh tutur kata..... dan ikhlaslah barangsiapa yang dihentikan oleh yang bertutur kata.

204.Ucapkanlah : “MAULAYA WAJJIHNI BIWAJHIKA LIWAJHIKA” “Wahai pelindung diriku, arahkanlah diriku dengan wajah Mu untuk menatap Zat Wajahmu”

205.Hai hamba! Bila engkau bersandar kepada sesuatu, maka engkau akan berpegang teguh pada sandaranmu, berarti engkau telah berpegang teguh pada selain Ku; Dan akan Ku tulis engkau sebagai orang yang musyrik.

206.Hai hamba! Telah Ku ciptakan segala sesuatu semuanya untukmu, sedangkan Aku jauh lebih dari segala sesuatu itu, Akulah yang mempunyai karunia-karunia itu, maka belakangilah sesuatu-sesuatu itu di punggungmu dan palingkanlah wajahmu menghadap pada Ku. (TERUSAN JAUH KE BAWAH .. GAK BISA KU NAIKAN) No .22 dan seterusnya.

22.     SAMPAI KEPADA ALLAH

Tuhan ku berseru kepada ku : Hnedaklah engkau berjalan menuju kepada Ku, dan Akulah yang menjadi pandu penuntunmu. Maka akupun berjalan... kulihat diriku sendiri; Ia pun berseru lagi :
Lalui semuanya! Arahkan tujuanmu kepada Ku saja. Sungguhpun bila engkau berhenti bersama dirimu yang tercela, niscaya engkau akan binasa, dan bila engkau berhenti dengan dirimu yang terpuji, niscaya engkau terhijab.

Sungguh, bila engkau telah terhijab dengan panggilan-panggilan yang terpuji itu, maka engkau akan didatangi oleh panggilan-panggilan yang tercela, dan dengan paksa engkau akan di tawan, penyebabnya tak lain karena engkau terhijab.

Aku pun melanjutkan perjalanan, maka kulihat akal pikiranku. Sambung Nya : Lalui saja dan jangan diperdulikan, tetapkan tujuanmu pada Ku! Bila akal yang datang akan disusul oleh hikmat kebijaksanaan; dan bila ia pergi maka ia pun akan melihat dirinya. Bila ia membawamu masuk ke dalam hikmat kebijaksanaan, ia pun akan berkata kepadamu “Ikutlah aku”, maka kekuasaan sudah berada di tangannya.

Bila ia datang, maka engkaupun akan menyertainya kepada hikmat kebijaksanaan; Bila ia pergi engkaupun akan mengikutinya menuju kepada hijab. Langkahi saja siapa-siapa yang datang dan siap-siapa yang pergi. Aku teruskan perjalanan... ujarNya pula : Engkau telh melewati bahaya itu!... kulihat kerajaan duniawi seluruhnya dengan sekali pandang; Berkata pula Tuhan kepadaku : Lalui dan langkahi apa-apa yang berada di dalamnya! Maka kesemuanya itu adalah kesenangan nafsumu dan impian-impiannya.

Kemudina kulihat kerajaan-kerajaan semuanya dengan sekali pandang; Kata Nya pula : “Lalui dan langkahi apa-apa yang berada di dalamnya! Maka kesemuanya itu adalah kesenangan akal budimu dan rumahnya. ..... Aku pun melalui, kemudian kulihat hikmah kebijaksanaan menyambut.

Kedatanganku dan membukakan pintu-pintu, dan di balik pintu-pintu itu terdapat pintu-pintu lagi, yang di dalamnya terdapat khazanah-khazanah, dan khazanah-khazanah itu berisi pula harta-harta kekayaan, lalu akupun didatangi oleh akal, jiwa, ilmu dan makrifat, semuanya serempak mendatangiku; maka Tuhan pun berkenan berkata padaku : engkau sudah menjalani segala sesuatu!..

Lemparkan himat kebijaksanaan kepada orang-orangnya dan buatlah perjanjian dengan mereka, supaya mereka membangun gedung-gedung dan rumah-rumahnya; inilah apa yang mereka tuju, mereka menginginkan agar engkau bercerai, dan mereka menceraikan engkau. Tetap sajalah engkau berjalan menuju pada Ku! Dan kesemuanya itu tidak layak bagimu utuk engkau tempati, engkaupun bukan penghuni yang herus menetap untuk selama-lamanya di sana!

Kembali aku berjalan lagi, kulihat orang-orang lalu lalang dan mereka yang berjalan, kulihat pula para ulama dan para zahid dan para muttaqien. Lalu berkatalah Tuhan padaku : Orang-orang yang lalu lalang akan sejurus dengan arah tujuannya; dan sekali-kali tiadalah orang yang lalu-lalang itu akan mengajakmu kecuali kepada maqam dan iqamahnya, dimana mereka berada; Maka bila engkau tertarik oleh orang alim atau ulama, engkau akan diundang kepada ilmu penegtahuannya; bila engkau menyukai orang arif, engkaupun akan dilambai kepada makrifat; lintasi saja mereka itu semua. Kesemuanya itu adalah lalu-lintasmu dan bukan tujuanmu, juga bukan tempatmu untuk tinggal...

Aku melanjutkan berjalan lagi ... ku lihat  segala sesuatu, kulihat wajah di balik wajahnya, dan apa yang berada di balik arti dan makna, kesemuanya menawarkan diri padaku dan berlomba menariku dengan berbagai usaha agar aku berpaling padanya. Tuhan pun berkata lagi : Segala sesuatu itu menawarkan diri melalui penglihatanmu yang memandang, dan mengaitkan akan arti dan makn dengan selera penggembaraanmu itu; waspadalah pada pandanganmu, jangan menengok kepada sesuatu agar mereka jemu dan menutup lesannya supaya tidak lagi menawarkan apa-apa padamu; Simpanlah kemauan kerasmu dari segala arti dan makna, dan himpunlah atas Ku. Sungguh jika mereka itu tidak melihat engkau berkemauan keras, niscaya mereka tidak menawarkan dan menarik-narimu.... Akupun menahan pandanganku dan menaggalkan kemauan kerasku. Dengan nada gembira Ia pun berseru : Marhaban!! Terhadap hati hamba Ku yang sunyi dari segala sesuatu. Lalu Ia pun bersabda : Engkau telah lulus! Engkau sudah melewati alam semesta (Al Kauniah) dan sekarang tiba dalam perjumpaan dengan Pencipta Alam Semesta (Al Mukawwin).

 Di saat itu aku mendengar Sabda-Nya : KUN (jadilah) disusul pula oleh sabda Nya : Jangan engkau berhenti dalam pesona “KUN” Lalui! Lewati! Walaupun “Kun” itu sumber pokok alam semesta; Jangan engkau dibawa-bawa hingga turun ke bawah lagi dari maqammu. Kulalui “Kun” dengan merendah-rendah; Sabdanya pula : Akulah Allah.... Ku sahuti : “Engkaulah Allah” Engkau pelindung ku (Maulaya) yang menfitrahkan daku untuk berdiri di antara kedua tangan Mu yang menjadi persai untukku dari sambaran perintah dan larangan Mu.
23.    PENGLIHATAN YANG AGUNG

Tuhan bertutur kata kepadaku : Pertama hijab adalah hijab bagi penglihatan (Ar Ru’yah) dari penglihatan beralih ke hijab Pendengaran... engkau mendengar demi untuk Allah; Dan pendengaran itupun bertingkat-tingkat ... dari pendengaran demi untuk Allah ,... beralih ke hijab. Diam untuk Allah dan diam itupun bertingkat-tingkat pula.

Tutur katanya pula : Bagaimana hingga engkau diam membisu? Mengapa tidak engkau pikirkan? Mengapa engkau tidak berkemauan? Akupun menjawab : Maluaya (pelindungku)! Bagaimana aku tidak memikir? Maliaya, bagaimana aku tidak berkemauan?

Dian pun membalas : Bila sudah jelas bagimu bahwa Aku lah pelaksana segala sesuatu, untuk apa pula engkau memikir? Jika sudah terlihat segala sesuatu adalah perbuatan Ku, sedang engkau telah memikirkan, niscaya jiwamu akan datang kepadamu memberi jawaban: Yang ini perbuatan Nya dan yang ini perbuatan mu.

Bila engkau dihadapkan pada pemisahan, sebenarnya tidak ada pemisahan... Niscaya akan berpisahlah engkau.... Bila engkau diperlihatkan tercerainya... tiada perceraian yang sebenarnya.... niscaya engkau bercerai pula.... Bila terputus kaitan oleh perceraian, engkau akan datang kepa Ku dengan mempersiapkan pengaduan dan perbantahan serta meu merebut apa yang Ku punyai.... Ketahuilah,  engkau telah melihat kepada Ku, bahwa Aku lah pelaksana merangkap pelaku atas segala sesuatu, jangan dengan ilmu untuk mengetahui pelaksana dan pelaku segala sesuatu....dengan demikian engkau akan membisu demi untuk Ku, dan tidak lagi engkau akan memikirkan. Sesungguhnya pembahasan mendalam dalam ilmu pengetahuan itulah yang menyebabkan terbersit engkau agar berfikir.

Tuhan berkata pula padaku : Bila telah tertangkap olehmu antara perbuatan dan yang melakukan dari balik punggungmu, bukan di anatar kedua tanganmu ... dan engkau telah melihat tiada antara Ku dan antaramu “engkau” dan tiada di antara Ku dan antaramu perbuatan, niscaya tiadalah engkau berkemauan keras.

Tuhan menyambung lagi kata Nya : Aku mempunyai perkataan-perkataan suatu pandangan berupa “kata”; dan Aku mempunyai perbuatan-perbuatan suatu pandangan berupa “Pelaksanaan” dan Aku mempunyai ilmu-ilmu suatu pandangan berupa “Ilmiah” dan terhadap segaala sesuatu pandangan berupa “Berdirinya” (Qoyyumiah). Dan setiap yang memandang berkisar pada siapa yang melihatnya, apa yang dilihatnya (Pandangan berupa ucapan kata).

Dan pandangan berupa ilmu, ialah alim ulama yang mengatakan dalam suatu ketika... “Aku merasa bahwa Allah mengilhami” diriku dengan ungkapan yang demikian,,,; maka ia seakan-akan melihat Allah dalam ilmunya.

Dian Ia bertuturkata lagi kepadaku : Orang yang sudah memiliki “penglihatan” dalam berkata-kata, ia melihat Ku bila ia berkata, dan ia di atas sesuatu bahaya; juga para alim yang sudah “melihat Ku” tahu benar adanya bahaya.

Akupun bertanya kepada Nya : Maulaya, apakah gerangan bahaya itu ??? IA menjawab : Ucapan dan tutur katanya tidaklah terus menerus baginya dan tidak berkekalan, maka apabila ia berpisah dengan penyebab yang ia dapat melihat, niscaya ia akan berpisah dengan penglihatan itu, maka inilah bahaya itu... berpisah dengan tutur kata niscaya ia akan berpisah dengan penglihatan, berpisah dengan ilmu niscaya ia akan berpisah dengan penglihatan.

Katanya pula : Yang mempunyai penglihatan berupa kata-kata, ia melihat Ku bila ia berkata, dan tiada melihat Ku manakala ia diam, maka berarti penglihatannya yang sebenarnya dalam tutur katanya. ... tetapi sebesar-besar melihat adalah dalam diam bukan dalam ucapannya.... dan engkau dapat melihat yang demikian itu sedangkan ia tidak dapat melihatnya, karena sesungguhnya engkau melihat Ku tidak dalam tutur kata, melihat Ku tidak dalam perbuatan, melihat Ku tidak ilmu dan melihat Ku tidak dalam amal, maka engkau sudah memiliki “Penglihatan Yang Agung”, engka melihat Allah dalam segala sesuatu, dalam diam dan dalam ucapan, engkau melihat Nya tanpa dinding penutup antaramu dan antara Nya.

Perktaan itu dinding penutup dari penglihatan.... begitu juga halnya ilmu dan amal, sesungguhnya Aku mempunyai hamba-hamba yang sanggup melihat dari balik tirai hijab, maka bila engkau telah melihat Ku bukan dari bawah tirai, bukan juga dari bawah nama, maka sesungguhnya engkau telah melihat Ku dengan “Penglihatan Yang Agung”. Aku mempunyai hamba-hamba yang tidak membesar-besarkan penglihatan ini, karena telah tersingkap nyata dan tidak Ku ijinkan tirai penutup bagi mereka, telah Ku angkat pula nama dari mereka, sudah tidak Ku ijinkan lagi nama menjadi penghalang baginya.

Lalu ku ajukan pertanyaan manja kepada Nya : Maulaya, apakah tabir penutup itu? Dan apakah nama itu? Ia pun menjawab : Tabir penutup dan nama itu adalah perkataan yang mana di dalamnya, kesedihan dan ketakutan, ia melihat Ku di dalamnya, dan apabila ia telah “melihat Ku” dan sudah tidak melihat tabir pnutup dan tidak melihat nama di antara Ku dan antaranya, niscaya ia tercengang dan akan disngkap oleh keheran-heranan (Al Buhtu wal buhut).

Dan ia berkata kepadaku : Hai yang memiliki “Penglihatan Yang Agung” engkau dapat melihat orang yang dapat melihat, orang yang beramal, orang yang berdiri tegak, engkau dapat melihat pada penglihatan mereka, dan dikala mereka keluar dari penglihatan mereka. Dan kata Nya : Tiada saling duduk bersama  semajlis, kecuali yang sudah di tahap “Penglihatan Yang Agung” dan lanjut Nya : Yang saling berkawan duduk adalah mereka yang di ambang penglihatan dan di belakang dari kanan kiri ambang pintu itu diddapati Ba’ussifah (Yang sudah keluar dari sifat manusiawi ketika mereka sudah berada di ambang pintu).

Yang mempunyai penglihatan itu ada dua : Pertama yang mempunyai Asma’ dan tabir penutup, dan itulah seorang kawan duduk yang berbahaya; Karena bukanlah kawan duduk yang mengakui Aku sebagai Tuhannya yang dapat ia melihat pada Ku di dalam hijab, maka ia adalah kawan duduk bagi apa-apa yang ia melihat Ku di dalamnya dan bukanlah ia kawan duduk Ku;
Kdua : Yang berpisah dari nama-nama serta dari tabir penutup... ia akan tercengang, ia akan melihat Aku dalam keheran-heranan.

Perkenankanlah ku ajukan pertanyaan ini : Maulaya;  Apakah Al Buhut (keheran-heranan) itu? Jawabnya : Keheran-heranan itu adalah hendaknya ia keluar dari nama-nama dan tabir penutup, lalu ia melihat Aku, maka ia akan merasakan ketenangan dengan penglihatannya, dan di ssaat itu tidak sepatah ucapanku dan juga tidak sepatah pun ucapan dari padanya.
24.    SOPAN SANTUN BERMAJELIS
(1)
·         Yang membeberkan hajat kebutuhan dan keluh kesah kepada Ku, telah jelas terlontar dari lisannya jalan pelarian
·         Simpanlah hajat kebutuhanmu dalam hatimu dan jangan engkau beberkan, niscaya Aku menjadi tempat pelarianmu dan bukan lisanmu.
·         Sesorang yang tenang tenteram, ialah siapa yang menjadikan Aku tempat pelariannya, bukan lisannya; lisan-lisan itu tidak mendapat perlindungan Ku, dan kata-kata pun tidak pula mendapat pertolongan Ku. Hendaklah engkau menutup lisanmu agar diam, dan engkau sajalah yang berdiri di antara kedua tangan Ku

(2)
·         Kawanku yang semajelis adalah hamba-hamba Ku yang paling dekat pada Ku, melebihi dekatnya dari pada mereka yang melihat Ku... Duduk semajelis dengan Ku adalah buah dari “Penglihatan Yang Agung” yaitu melihat Ku dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu, dan barangsiapa yang mencapainya, maka ssampai pula kepada ketenangan dan ketentraman di bawah ssayap ke Maha Agungan dan Ketetapan nan Teguh.
·         Kawan Ku yang semajelis adalah kawan duduk Ku, sudah enggan berkawan duduk dengan selain Ku; Kalau bersama Kitab Ku, ia pun akan berpisah dengan Ku; atau bila ia berkawan duduk dengan sunnah Nabi SAW. Maka keluarlah ia dari majelis Ku. Ia hanya dapat keluar kepada sunnah dan Kitab karena hajat yang mesti, darurat, yang artinya bahwa hanya dengan izin dan perintah dari pada Ku, barulah ia dapat keluar dan berkawan duduk bersama hamba-hamba Ku.
(3)
·         Bila engkau melihat Ku, jangan hendaknya engkau menjadi kawan duduk Ku; Penglihatan itu jangan diartikan izin untuk berkawan semajelis, melainkan bila penglihatan itu adalah “Penglihatan Yang Agung” yang dengannya engkau melihat Ku dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu.
·         Duka cita itu adalah sifat hamba Ku. Barang siapa yang menghambakan diri pada Ku, akan memperoleh kesedihan hingga sampai ke tahap “Milhat Ku” dan yang sudah melihat Ku akan bersedih pula sebelum sampai pada “Berkawan duduk semajelis” Dan barang siapa yang “Berkawan duduk semajelis” dengan Ku disusul pula oleh kesedihan “Luput daripada Ku”. Karena Aku yang akan meluputkan . Keluputan itu aalah sifat Ku, karenanya, duka cita dan kesedihan itu akan selalu menyertainya. Sesungguhnya yang menyertainya itu adalah jru bicara dari lisan-lisan di bawah pemeliharaan Ku. Adapun “Berita gembira” (Al Busyra) adalah juru bicara dari lisan-lisan keridhaan Ku; Jangan hendaknya engkau berhenti, baik dalam duka maupun suka, berdirilah hanya untuk Ku, sebagaimana layaknya para “Kawan duduk semajelis” dengan Ku, berdiri di anatara kedua tangan Ku. Baru tahap inilah Nur Cahaya Ku akan memancar, menyinar, menjulang naik ke lubuk hatimu.
(4)
·         Di dalam kawan duduk semajelis, sudah tiadalagi zikir, dan tiada pula berzikir, dalam ia memandang tidak berbalik kembali pandangannya, paham..... tiada ucap pemahamannya.
(5)
·         Sudah berkesudahan keteguhann ilmu-ilmu pada ketenangan makrifat, telah berkesudahan ketentuan makrifat pada budi pekerti penglihatan, telah berkesudahan budi pekerti penglihatan pada budi pekerti kawan duduk semajelis. Kesemuanya telah berlalu, kesemuanya sudah dikenal dan dialami, maka ia pun akan melihat Ku antara hati dan kemauan kerasnya, dan antara lidah dan tutur katanya.
Maka berserulah Ia kepda Ku “Seorang” kawan duduk semajelis” sudah tidak lagi memohon fatwa dan tidak pula memohon perkenan, tidak juga pertolongan apalagi minta-minta, ungkapan pun juga tidak..
Bila fatwa yang diminta, maka ia pun menurun kepada ilmu, bila yang diminta perkenan, balik lagi ia kepada makrifat, jika pertolongan yang diharapkan, turunlah ia ke hajat, dan jika ia masih minta-minta, jelas dia turun ke kefakiran, jika ungkapan yang diharapkan  ia turun ke berpaling.
IA pun melanjutkan tutur kata Nya : Di sini, kawan duduk semajelis, baginya dari setiap sesuatu itu berupa ilmu, dan dari setiap ilmu itu adalah zikir, itulah sebenar-benar hamba Ku yang sudah sepenuhnya melingkupi segala himpunan. Selanjutnya : Pandanglah apa yang dilihat “Kawan duduk Ku” ia sudah melihat takdir-takdir, dan melihat bagaimana Aku menghalau takdir demi takdir, dan melihat bagaimana Aku mengulangi takdir-takdir itu dengan aneka cara yang Ku kehendaki; karena sesungguhnya Akulah yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya (Al Mubdi-u wal Mu’ied). Keyakinannya itu terlihat merupakan Nur antara kedua tangan Ku... Nur, cahaya berpadu cahaya yang bermakrifat. Dan ia melihat Ku, sebagaimana Aku menjulangkan Nur demi Nur ... Cahaya demi cahaya...atas siapa yang Ku kehendaki.... tampak semua itu, terlihat semua ilmu dan semua kejahilan, sehingga tampaklah “Duka dan waham; Terlihat jelas bagaiana cara Ku menimpakan “Dua dan waham” dengan apa dan kepada siapa yang Ku kehendaki. Hati demi hati terlihat jinak dan tenang manakala duduk bersama Ku semajelis.
Disambung pula kata Ny : Seorang yang sudah Ku jadikan “Kawan duduk semajelis” tidak lagi ke derajat ilmu dan makrifat, kecuali dalam keadaan mendesak, kalaupun mendatangninya juga, maka datangnya dengan penuh cara yang sopan, begitu selesai apa yang diperlukan, ia pun surut ke tempat asalnya.
Mendatangi dengan cara yang demikian, niscaya derajat ilmu dan makrifatnya tetap diperoleh tanpa kehilangan derajatnya yang semula. Ia akan “Dimiliki” dan tidak akan dilepaskan dan tidak memperoleh kemenangan.
(6)
·         Bila engkau duduk di antara kedua tangan Ku, dan masih ada padamu ilmu dan makrifat yang saling berkaitan pada dirimu, niscaya Aku akan mengeluarkan engkau dari majelis Ku untuk kembali masuk ke dalam ilmu dan makrifat, dan Ku serahkan padamu menentukan pilihan untuk mengambil keputusan dan hukum antaranya dan antaramu.
Bila putusanmu duduk dalam ilmu, maka ilmu itu tidak mendatangimu dengan kepuasan, lalu engkau pindah kepada makrifat, maka makrifat itu tidak mendatangimu dengan kepuasan; Kedudukan saja engkau di antara kedua tangan Ku. Dalam Majelis Ku tidak akan dimasuki oleh langganan-langganan. Kawan duduk Ku tidak akan menoleh ke belakang dan tiada lisan yang akan mengajak bicara.
(7)
·         Kawan dudu Ku itu sudah melihat pada Ku, bagaimana Aku memegang segala sesuatu dan bagaimana sesuatu-sesuatu itu tidak dapat saling berpegang tanpa Aku, sedangkan ia sudah melihat bahwa segala sesuatu adalah buatan Ku, tidak dapat berdiri tegak melainkan dengan Ku. Tiada juga dikecualikan “duka cita dan waham”, tiada pula  benih-benih buah buahan yang berserakan di jalan-jalan, tidak juga batu merah tembok bangunan, semua, semua... Maka segala sesuatu itu dalam genggaman Ku. Jika telah fana kawan duduk Ku, baru Ku ungkapkan tirai hijab, dan lumatlah langit-langit dan bumi-bumi demi kerinduan kepada mereka agar mereka menjadi kawan duduk dan dekat bersanding dalam majelis Ku yang baru.
25.    KESABARAN

Pintu yang terdekat dengan pintu Ku adalah pintu kesabaran. Demikianlah kata Tuhan kepadaku: Tiada pintu lagi antar Ku dan antaranya, dan pintu-pintu lain berada di belakang pintu sabar. Setiap pintu satu hijab, dan pintu kesabaran tidaklah berhijab, maka hendaklah engkau iqamah di dalamnya.

Engkau menginginkan Tuhanmu?
Hendaklah engkau memandang kepada Nya dan bersabar, hingga Dia yang mendahuli!

Engkau menginginkan Tuhan mu?
Hendaklah engkau memandang kepada Nya dengan kekhusukan, sampai Dia yangmengajakmu!

Tutur Tuhan kepadaku : Bila engkau menjadi seorang yang mulaia dengan kesabaran atas Ku dan kesabaran atas Ku itu menjadikan engkau mulia; Karena sesungguhnya engkau telah berdiri di Gerbang Kesabaran, berarti engkau berdiri di kemuliaan, maka ucapkanlah kalimat-kalimat kesabaran. Dan kata Nya : Kalimat-kalimat pintu kesabaran ialah : Ya... Tuhan ku! Engkaulah yang berkuasa berbuat atas segala sesuatu”.
IA telah mendatangi hamba Nya dengan suruhan : Hendaklah engkau mengerjakan sesuatu ini dan itu!! I mendatangi hamba Nya dengan membawa hijab, agar hamba Nya tidak melihat amal perbuatannya!
Ia pula yang menguji.
Ia pula yang mencoba.
Hamba itu telah termakan fitnah oleh amal perbuatannya.
Lalu apa yang dikerjakan oleh si hamba itu?
Ia harus bersabar demi tuhannya, ia harus bersabar atas Tuhannya, hingga tiba saatnya “Keyakinan” mendatanginya.
Bila ia diserang dengan tebasan pedang hendaklah ia maju menghadapinya.
Arti Ayat : Bukanlah kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka (QS. Al Anfal 8:17).

Maka inilah ungkapan hakikat, Dialah yang membunuh kuffar itu ... satu persamaan yang terjasdi, pada dhahirnya ... Kaum Mislimin telah bersabar! Penuh ketabahan serta gigih mempertahankan ... mereka diserang oleh pedang mereka, malahan maju dan tetap melakukan perlawanan. Bila mengatakan “Hendaklah kalian melakukan peperangan dan saling bunuh membunuhlah! Lakukanlah! Laksanakan! Dan berjihadlah dengan penuh perasaan mengetahui akan kebenaran, bahwa Dia lah yang membunuh dan Dia lah yang melaksanakan segala sesuatu.

Dan Ia bertutur kata kepadaku : Bila aku telah datang kepadamu dalam penglihatanmu kepada Ku, maka sudah tidak ada lagi kemuliaan”. Kemuliaan telah tunduk kepada Yang Maha Mulia, dan Yang Maha Mulia telah mendatangi hamba-Nya.

Aku telah mendatangkan engkau kepada Ku, dalam penglihatan Mu itu engkau telah berada di maqam kemuliaan. Bila engkau berpaling, maka Aku lah yang meluruskan. Bila engkau menoleh, Aku lah yang mengembalikan.

Seru Nya Pula : Pintu Hadirat Ku, ialah pintu kesabaran atas Ku.

Dan kata Nya : Di dalam pintu kesabaran atas Ku engkau akan dapat mengetahui siapa engkau dan siapa namamu di sisi Ku.

Dan kata Nya : Ilmu itu tangga naik menuju makrifat, setelah itu ia akan melihat dirinya dan tiada lagi terlihat makrifat... makrifat itu tangga naik menuju penghentian (Al Waqwah) penghentian itu tangga naik menuju rahasia (As Sir), setelah itu akan terlihat penghentian dan tidak lagi terlihat “rahasia” Dan setelah itu tidak terlihat lagi selain Nya.

Lalu Ia bertutur kata padaku : Sesungguhnya engkau telah melihat segala sesuautu, dan engkau akan melihatnya apapbila ia naik, apa yang terlihat adalah dirinya sendiri; maka engkau jangan naik kepada sesuatu sekalipun ia mengungkapkan tentang dirinya kepadamu. Jangan pula engkau bersembunyi di kala sesuatu itu mendatangi untuk mengikutimu, tetapi bersembunyilah manakala ia mengajakmu berbicara.
26.    SIAPA PELINDUNGKU DARI HAWA NAFSU

Aku dihentikan di ilmu Nya, maka kulihat bagaimana ulah Nya membuat derita. Dan Dia membuat kebahagiaan oleh sesuatu sebab, yang mana sebab itu adalah Dia sendiri.

Kulihat pula tiadalah Ia mendhahirkan ilmu itu. Kulihat pula cara-cara Nya memalingkan kekufuran dan memalingkan keimanan. Akupun menjerit memohon pertolongan ... Hai ilmu! Tolonglah aku! Ilmu menjawab : Tempat kembaliku adalah ilmu Nya... aku menoleh ke makrifat : Hai makrifat!  Tolonglah aku! Jawabnya : Tempat kembaliku kepada ilmu Nya!... Aku takut! Kengerianku menjawab : Aku tidak bisa menolongmu. Akupun berdo’a “Ya Tuhan ku” Ia menjawab  “Labbaika” Kusahuti :Labbaika wa Sa’daika.... Ia berkata : Apa pintamu? Teguhkan aku; Selamatkan daku dari hawa nafsu:

Ketahuilah! Tutur Nya... “Hawa nafsu itu adalah utusan dari utusan-utusan keperkasaan Ku yang teguh, yang telah Ku kirimkan kepadamu, dan didalam hawa nafsu itu terdapat api-Ku, apabila hawa nafsu itu datang, niscaya api-Ku datang pula, maka masukilah! “Bagaimana caraku memasukinya?... Jangan engkau memohon pertolongan dengan ilmu dan jangan dengan makrifat, keduanya jika engkau minta pertolongan, maka engkaulah beserta ilmu dan makrifat yang menjadi tawanan hawa nafsu”.

“Dan ketahuilah... tiada penolong dari hawa nafsu itu kecuali Allah.... Dan sekali-kali tiadalah engkau dapat keluar dari “Api" hawa Nafsu” dengan ilmumu dan tidak juga dengan makrifatmu. Dan api itu akan membakar bagian-bagian dirimu yang sudah minta tolong pada ilmu dan makrifat, bila telah selesai membakar, maka engkau akan suci bersih dan enggkau sudah mencapai... “Bahwa tiada penolong selain Ku” ... lalu engkau akan menjerit pada Ku, Aku pun segera mendatangimu, lalu Ku singkirkan api Ku, maka tidak lagi akan kembali padamu.
27.    PERTIMBANGAN AMAL DAN PERTIMBANGAN IMAN

Tuhan berkata kepadaku : “Aku telah menimbang amal perbuatan para orang yang beramal, maka kesemuanya tidak dapat menandingi sekurang-kurangnya makrifat para arifin yang paling sedikit.

Dan Allah melanjutkan : “Bahwa amah sholeh apabila dilakukan oleh selian para arifin “Bilah” akan berkesudahan sia-sia, gugur atau hapus sama sekali, maka amal tersebut bagaikan abu yang ditiup angin dengan keras pada Hari Badai,... maka tumpukan amal yang membukit tidak dapat menandingi zarrah dari iman, karena tiadalah pembuat amal itu dalam hakekatnya kecuali Allah... dan tiada yang berbuat perbuatan selain Nya.

Sehingga ada orang yang mengakui bahwa di sampingnya suatu perbuatan.. lalu ia mengatakan “Aku telah mengamalkan”

Perhatikanlah : Bahwa hanya dengan maktifat orang dapat beramal, dan bukan dengan amal orang dapat bermakrifat.
28.    AKAL  BUDI

Akal budi itu menjelaskan kepadaku :  Kediamanku di dalam hikmat kebijaksanaan, rumah hikmat kebijaksanaan tiada berpintu, dan tiada pagar, mudah dimasuki ... kebenaran dan kebatilan tiada berbeda, yang indah dan yang buruk dapat memasukinya.

Sluruh rumah dipenuhi dengan pintu-pintu dan itulah rumah tanpa atap tanpa naungan, tiada juga tanah untuk dasar rumah itu, segala sesuatu bebas masuk ke dalam, segala sesuatu boleh berkata sesuka hati, pengaduan apapun ku terima, boleh saja aku dimusuhi dan aku berada di setiap kemauan.

Engkau telah memasuki Hadirat itu dan engkau telah meninggalkan aku dengan Nur cahaya maqammu, tetapi aku tetap bersamamu, aku tidak akan meninggalkan engkau, karena maqamku itu ada di dalammu, maka tiada ku terima pemberitahuan apappun daripadamu dan aku pun tidak mengerti sikapmu... demikianlah penjelasan akal.

(Akal budi itu suatu alat untuk mengenal dan mengetahui sesuatu, serta menjadi tali penghubung pula, dan kesudahannya ia dapat mencapai hikmat kebijaksanaan untuk membina dan menyusun dengan satu perhitungan yang tepat. Dan inilah batas-batasnya serta melangkahi dengan berupaya menuju kepada Nur Cahaya Hadirat... dan di dalam Nur Cahaya Hadirat itu sang akal budi tidak memahami apapun karena sudah bukan maqamnya lagi).
29.    JALAN  LALU  DAN PENYEBERANGAN

Seorang wali yang melazimi di maqam Hadirat berkata : Makrifatku terhadap segala sesuatu merupakan makrifat yang pulang pergi, maka tiadalah maqam bagiku dalam ilmu dan tidak pula dalam makrifat.
Aku hanya melewati jalan lalu saja.

Bagaimana engkau dapat melalui ilmu-ilmu itu dan bagaimana pula engkau melewati makrifat-makrifat itu”

Hendaknya engkau jangan mendengar, agar tidak menjawab.. jangan pula menoleh agar tidak berpisah... Maka Allah itu berada di depan segala sesuatu.
(Dalam sebuah hadits Nabawi yang mulia)
Hendaknya engkau hidup di dunia ini bagaikan pendatang asing yang lewat di jalan lalu”

(Arti dan makna Hadist di atas ialah, hendaknya seorang abid itu menghimpun kemauan kerasnya kepada Allah meskipun dikelilingi oleh daya tarik dan rangsangan-rangsangan duniawi yang menawan, walaupun rangsangan-rangsangan itu berupa ilmu-ilmu dan majkrifap-makrifat. Bagi seorang abid hendaknya – Walau memasuki – tetap dalam tujuan dan hanya lewat dan lalu menuju yang lebih tinggi... yaitu kepada Allah semata, yang nampak di depan untuk selama-lamanya yang juga menjadi sasaran ilmu dan makrifat).

Bila engkau memasuki ilmu-ilmu, maka masukilah sebagai musafir lalu.... anggaplah jalan lalu dari sebuah lorong, maka jangan sekali-kali berhenti supaya tidak didatangi oleh para pembinanya yang akan merangsangmu dengan rumah-rumah indah karyanya, maka akan terlihatlah padamu Nur Cahaya Ku telah menggunakan tenaganya memancar di atas rumah-rumah mereka. Engkaupun akan tinggal di dalamnya rumah-rumah mereka dengan nyaman dan gembira tidak lepas dari Nur Cahaya Ku yang yang telah memancarkan menjulang naik, maka engkau tidak berhenti berdiri kecuali atas Ku. Engkau tinggal bersama mereka, yang sebenarnya adalah engkau tinggal bersama Ku, tidak bersama mereka.

Bila engkau menghendaki Aku naik atasmu dengan Nur Cahaya Ku, niscaya Aku naik; Dan jika engkau kehendaki Aku mengutusmu kepada Nur Cahaya Ku, niscaya Ku utus.
30.    PENGLIHATAN “KUN”

Hendaklah engkau terbang menuju kepada Ku “Wahai hamba Ku! Jika engkau tidak sanggup maka “Menyebranglah” Wahai yang lemah.

Jika kedua cara di atas tidak mampu engkau lakukan, maka cara terakhir adalah menjeritlah kepada Ku”. Wahai yang karam! Hingga engkau tiba di maqam tempatmu berdiri pada Ku, agar dengan demikian Ku angkat engkau ke tempat penghentian sebelum “KUN” (jadilah).

Baik yang engkau lihat maupun yang engkau dengar di tempat penghentian, itu semua adalah ilmu Ku, tidak dapat engkau mengetahui dalam maqam mu yang rendah.

Yang sudah engkau ketahui adalah giliranmu yang pertama, yaitu kehidupanmu di dunia ini, hal ini jangan hendaknya engkau datang pada Ku dengan sesuatu dari apa-apa yang telah terungkap padamu. Dan sesungguhnya, Aku akan mengeluarkan engkau kepada kekuasaan kerajaan Ku dalam kehidupan di akhirat.

Adapun giliran mu yang ke dua, adalah dari apa yang tidak engkau ketahui dan tidak akan Ku beritahukan padamu dalam maqam yang sekarang ini, dan “kata pasti” yang berlaku untukmu.

Dalam sebuah Hadis Syarif, Rasulullah Saw. Bersabda :
“Tidak seorang pun dari padamu yang dapat masuk surga dengan amal perbuatannya, hanya dengan Karunia dan Rahmat Allah juga”

Maka, temuilah Aku, dan jangan membawa serta amal perbuatan, lemparkan semua itu! Jangan engkau mengucapkan “Aku telah mengamalkan”  “Aku telah beramal” Hendaklah engkau masuk pada Ku tanpa daya tanpa upaya, tanpa tenaga tanpa kekuatan, kecualai dengan Ku, Dengan demikian engkau benar-benar menjadi seorang Arif.
31. JANGAN BERBANTAH MENGENAI HUKUM-HUKUM KU

Bahwasanay Aku mempunyai hamba-hamba bila Ku ajak bicara mereka tidak mengajukan pertanyaan sesuatupun untuk pengertiannya; Dan bila Aku berkata kepada mereka pun tidak membantah, bila Ku perintahkan sesuatu, tidak juga bersedih.

Mengapa mereka harus murung?

Barangsiapa yang bersedih hatinya dalam sesuatu persoalan, niscaya ia akan jatuh antara maju dan mundur,  Dan siapa yang mengajukan pertanyaan untuk mencari pengertian dalam pembicaraan, niscaya akan jatuh antara kemantapan dan kebimbangan.

Hanya hamba Ku yang sebenar-benaranya yang langsung bertindak untuk segera melakukan dan melaksanakan perintah Ku.... tiada ia menanyakan untuk pengertian dan tiada juga membantah atau bersedih. Keadaannya laksana Malaikat yang berhati teguh. (Orang yahudi suka berbantah seperti yang terkandung di QS. Al Baqarah 67 -71).

Jika engkau membantah perihal hukum-hukum Ku, maka engkau menganggap dirimu seakan-akan Tuhan dan engkau sependirian dengan lawan Ku, dan itu adalah suatu kekufuran semata-mata dan tidaklah hal yang sedemikian itu memperoleh pemberian apa-apa, selagi engkau tetap menjadikan dirimu sebagai tuhan lawan Tuhan mu, maka jangan menanti pemberian Nya, penuhilah hajat kebutuhan dirimu sendiri.

Pemberian itu hanya Ku peruntukan bagi hamba Ku yang melazimi pendirian sebagai layaknya seorang hamba dari ke Maha Agungan Tuhan .. Allah berfirman, yang tafsirnya :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku (QS. Adz-Dzariah 51 -56).
32. N  A  F  S  U

Aku telah ditegakkan berdiri di hadapan nafsu, maka kulihat kekuasaan serta kerajaan keseluruhannya, lengkap disertai dengan bangunan-bangunan, mahligai-mahligai dan ku lihat di samping nasfu “ilmu” seluruhnya, “Makrifat” semuanya, “Akal budi” dengan kecerdasannya, kesemuanya itu sebagai pelayan-pelayannya, nama-nama, huruf sebagai tentaranya dan pembantu-pembantunya.

Dan Tuhan bertutur kata kepadaku : Nafsu itu adalah musuhmu! Maka jangan mengajak berbicara! Ajakan bicaramu akan disertai ilmu, sesungguhnya tiadalah engkau dapat mengajaknya bicara melainkan dengan ilmu, sedangkan ilmu itu bala tentaranya dan akal budi itu pelayan-pelayannya, nafsu itu tidak putus-putusnya berbicara, Ia tidak dapat diam lalu mendengarkan dengan baik; Bila engkau ajak bicara ia pura-pura mendengarkan, sedangkan ia hanya mau mendengarkan kata dan suara hatinya, serta keinginan-keinginannya sendiri saja.

Dan Tuhan melanjutkan tutur kata Nya : Bila engkau mau menaklukkan nafsu itu dan menguasai raumah-rumahnya, bila engkau mau menundukan nafsu, maka jangan sekali-kali mengajaknya berbicara, dan sembunyikan laparnya, sebagaimana ia menyembunyikan kenyangnya. Sembunyikan di balik belakang di mana ia memanggilnya serta merta meninggalkan tentaranya dan meninggalkan mahligai-mahligainya, dan balik kembali membawa persoalan yang sama, yaitu mengajakmu bicara tentang persoalan lapar, bukan persoalan yang lain, maka jangan disahuti bicaranya dan jangan pula menyambutnya, karena sesungguhnya bila engkau melayaninya bicara atau menjawab bagaikan engkau memberi peluang padanya untuk menarikmu dan merangsangmu, lalu ia akan berani-berani mengeluarkanmu dari pada apa yang selama ini engkau rahasiakan dan sembunyikan.

Dan bila ia telah berhasil mengeluarkan mu daripada apa yang engkau rahasiakan dan sembunyikan, niscaya ia akan memperoleh kemenangan. Dan andaikan engkau mengajaknya bicara dengan ilmu, niscaya ia akan mengalahkanmu, karena ilmu dan makrifat itu adalah bala tentaranya.

Itulah perumpamaan tentang nafsu, ibarat engkau mengejar-ngejar musuhmu yang berada di hadapan antara kedua tanganmu, sehingga apabila engkau dapat menduduki dan menguasai rumah-rumahnya niscaya ia akan keluar menyelonong dari belakang punggung mu. Maka hendaklah engkau merahasiakan dan menyembunyikan laparnya  nafsu dan hendaklah engkau tetap berteguh merahasiakan dan menyembunyikan, sebaliknya jangan engkau merahasiakan dan menyembunyikan kedudukan dan kemauan nafsu itu, karena dengan demikian engkau akan keluar dari merahasiakan (laparnya) kepada merahasiakan, dan menyembunyikan kepada menyembunyikan.

Maka setelah kesemuanya itu engkau sembunyikan dan engkau merahasiakan, maka keluarlah dari nafsu itu satu persatu, dari segala ilmu, dari segala makrifat, dari segala kekuasaan kerajaan dan tinggalah ia (nafsu) itu berdiri di depan pintu “penyembunyian dan merahasiakan”. Dengan tak bosan-bosannya iapun menyajikan acara yang diulang-ulang, yakni mengajakmu bicara tentang lapar dan berusaha mengeluarkan aku daripadanya, tetapi aku tinggal tetap teguh dan waspada merahasiakan dan meneyembunyikan.

Maka tiadalah ia menuntutku kecuali kepadanya, maka akupun tinggal tetap bertahan, karena sesungguhnya itu adalah benteng pertahananku yang kokoh yang tiada ia dapat mengajakku bicara tentangnya. Dan tiadalah ia akan sampai kepadaku melainkan dari pintunya.
33. PENGHENTIAN  MEMANDANG WAJAH-NYA

Ak”Penghentian Memandang Wajah-Nya” kemudian Ia bertutur kata kepadaku : “Turunlah sejenak ke bawah dan lihatlah segala sesuatu! Lepaskan pandanganmu ke padanya, kemudian berbalik lagi kepada Ku!; Akupun turun diiringi Nur Cahaya Nya; maka kulihat “segala sesuatu” aku tidak lagi melihat keindahan dan tidak juga keburukan; tiada lagi ada jarak, mana yang jauh dan mana yang dekat, tidak lagi ku lihat pertentangan, tidak pula yang berpadu, tetapi “ku lihat hikmah kebijaksanaan”, ku lihat pekerjaan yang sebenarnya, ku lihat peraturan dan takdir, kesemuanya merupa dalam bentuk yang sebenarnya. (Sebab pandangan kita selama ini hanya melihat dari segi sebagian sudut ilmu yng sangat terbatas; Bila kita melihat bersuluh obor Nur Allah, niscaya aib itu merupa sifat keharusan yang layak untuk dipakaikan kepada makhluk, dan segala kekuranagn itu sebagai suatu “Hikmat kebijaksanaan” dan kita akan mengiyakan sesuatu hukum, bahwa tiada kemungkinan lebih indah dari adanya yang sudah ada).
 
Dan kulihat Allah di depan dan di belakang apa yang ku lihat, dan aku melihat Nya di dalam segala yang ku lihat.

Tutur katanya pula : Engkau telah melihat Al Haq telah memandang Al Haq; Kemudian aku di bawa naik kepada Nya dan bersamaku Nur Cahaya Nya, lelu aku berhenti di maqamku dimana aku dapat melihat Nya sendiri yang berbuat dan tiada yang berbuat selain Nya (Al Haq Allah).

Tutur katanya pula : Pandang baik-baik siapa yang mendatangimu! Maka “akal budi” yang datang kepada ku sambil menanyakan nama-nama dari apa yang sudah ku lihat dan ditanyakan pula akan arti dan makna nama-nama tadi.

Langusng Tuhan menegurku : Jangan di jawab, jika engkau jawab, maka engkau akan turun kepadanya”. Segera ia pun menyingkir; “Tunjukan jalan kepadanya agar dia masuk ke lorong dan melihat dengan Nur apa yang telah engkau lihat; Barulah ia nanti akan beriman dan tidak meragukan lagi;  Bagaimana ia akan ragu, sedangkan ia melihat Ku? Yang meragu itu hanyalah mereka-meraka yang terhijab; Aku diam tiada menjawab: Ia pun menyerah kepada ku dan menunduk kan mukanya.

Tidak lama ia kembali lagi dan menyingkir lagi, balik lagi datang, padahal ia dalam perjalanan menyingkir, dia diliputi ingkar dan penolakan dari apa yang sudah diketahui dan atas apa yang sudah diserahkan; Ia menyeru sekuat-kuatnya “Hai bantahan!!! ... Hai Sanggahan!!!.... Hai di mana!!.... Hai mengapa!!>.... maka ia (akal budi) telah dijumpai segala sesuatu, kecuali “Hikmat Kebijaksanaan”.
34.SIFAT RAGU   (WAS  -  WAS)

Tuhan berseru kepada ku :

“Bila engkau di datangi keraguan, maka ia akan mendatangimu dengan berbekal “Bagaimana” dan itulah juru bicaranya dan itu adalah tanda tanyanya,  agar engkau berbalik pada ilmu pengetahuan. Bila engkau masuk ke dalam ilmu, maka jatuhlah engkau di antara datang dan perginya “Akal budi”. Bila engkau masuk kepda makrifat, maka ia tidak mendatangimu dengan “Bagimana” karena baginya sudah tiada “Bagaimana” lagi. Katakanlah kepada was-was itu : “Dengan DIA, aku telah mengenal sifat Nya, dan bukan sifat Nya aku mengenal DIA; Dengan DIA aku dapat mengenal Ilmu pengetahuan, dan bukan dengan ilmu pengetahuan aku mengenal DIA; Dengan DIA aku mengenal makrifat, dan bukan dengan makrifat aku mengenal DIA.

“Bagimana” itu berdiri di antara kedua tangan Nya, dan dikirim oleh Nya kepada siapa yang dikehendaki Nya; “Bagaimana” itu batu ujian tentang Dia, dan menjadi rangsangan untuk menambah pengetahuan makrifat kepada Nya.

Dan “Bagaimana” itu ku lihat dikirim juga kepada para alim ulama dan kepada arif bijaksana, dan diberitahukan kepada mereka bahwa “Bagimana” itu suatu bentuk keragu-raguan dan was-was. Dan tiadalah dengan penglihatan mereka kepada Nya, mereka akan terlindungi dari rangsangan “Bagaimana”.

Dai berbuat yang demikian agar mereka itu menyaksikan Maha Kaya Nya dari makrifat mereka kepada Nya dengan sejelas-jelasnya dan seterang-terangnya, supaya mereka menyaksikan pula Maha Perkasa Nya dan Kodrat Nya dengan jelas, serta mengetahui bahwa apa yang dianugrahkan kepada mereka daripada Nya dengan seterang-terangnya.

Dan Dia berkata kepada ku : Bila was-was itu telah mendatangimu, maka katakanlah kepadanya “inilah perbuatan itu yang sudah terang dan jelas tanpa keraguan; perbuatan itu adalah sesuatu yang dibuat, yang berbuat sudah jelas dan terang tidak perlu diragukan dan diawas-awasi karena sesungguhnya Dia-lah yang berbuat;  Dan inilah sifat yang berbuat, maka tentang itu aku mengajukan pertanyaan dan aku telah ragu dan was-was; Dia telah memberitahukan kepadaku tentang sifat Nya senantiasa berdiri bersama Nya”.
35.BUKTI  NYATA
                                   
Tuhan ku berseru kepadaku :
( 1 )
Ilmu Ku itu menceraikanmu daripada Ku, dan karunia Ku memalingkanmu daripada Ku; Hendaklah engkau menjadi dengan Ku (bukan dengan ilmu Ku dan bukan dengan karunia Ku); Ku nyatakan ini padamu tanpa sebab yang menghukum, yang mana hukum itu telah nyata dalam segala sebab, Engkaupun akan memikul segala sesuatu yang mana segala sesuatu itu tiada sanggup memikulmu, dan engkau akan meliputi segala yang nyata tidak dapat meliputi engkau.
( 2 )
“Bukti nyata”  Bukanlah suatu perkataan, dan ia dalam perkataan; bukan pula ilmu dan ia dalam ilmu, bukan pula makrifat, tetapi ia di dalam makrifat.
( 3 )
“Bukti nyata” itu, ialah yang dapat dengannya engkau mengenal dalam engkau melihat dengan penglihatanmu pada Ku, dan makrifat itu ialah apa yang dengannya engkau dapat mengenal dalam kegaiban Ku; Makrifat itu juru bicara Ku untuk bukti Ku yang nyata, sedang “Bukti nyata” itu juru bicara ‘Berdiri Ku sendiri (Qoyyumiati); Dan “Diam” itu, ialah hukum dari “Bukti nyata” dan “Ucapan” itu dari hukum-hukum makrifat.
( 4 )
Bukan sembarang yang melihat Ku dapat melihat Wajah Ku, tetapi yang telah melihat Wajah Ku itulah yang sungguh-sungguh telah melihat Ku; Jika engkau melihat Ku dalam suasana kenikmatan, berarti engkau sudah melihat Wajah Ku, dan siapa melihat Ku tidak dalam kenikmatan berarti tidak melihat Wajah Ku, tidak ghalib atasnya melihat Ku, dan siapa yang melihat Wajah Ku ghalib atasnya melihat Ku.

Sekali-kali engkau tidaklah dapat melihat Ku, sehingga engkau melihat Aku berbuat, dan tidaklah engkau dapat melihat perbuatan Ku hingga engkau menyerah pada Ku
( 5 )
Bila engkau melihat Ku dalam kejadian malapetaka, maka Aku telah dilihat oleh umum, dan bila engkau melihat Ku dalam suasana kenikmatan niscaya engkau akan menjadi baik untuk selama-lamanya, dan tiada engkau akan gaib dengan apa-apa yang nyata.

Bila engkau telah melihat Ku, tiadalah engkau dapat diselamatkan melainkan oleh penglihatanmu kepada Ku itu; Dan bila engkau tidak dapat melihat Ku, tiadalah engkau dapat diselamatkan kecuali oleh keikhlasanmu kepada Ku; Bila engkau telah melihat Ku;  niscaya engkau akan dapat melihat apa yang berasal dari tanah serupa dengan tanah itu pula.

Apabila engkau mengajak berbicara, maka bicaralah menurut asal mula kejadiannya (Yakni, hendaklah engkau berbicara kepada tanah, niscaya engkau akan selamat dari rangsangannya).
( 6 )
Sesungguhnya engkau telah melihat Ku sebelum sesuatu, maka hendaknya engkau melihat Ku dalam kedatangan sesuatu, maka hendaknya engkau menjadi pengganti Ku atas sesuatu itu; Jika tidak, maka sesuatu itu akan menjadikanmu sebagai pengganti atas sesuatu itu.
( 7 )
Aku telah bersumppah atas Diri Ku, tiada bertetangga dengan Ku kecuali siapa-siapa yang telah mendapatkan dengan Ku, atau dengan apa yang daripada Ku.

Inilah sifat “Ahli naungan yang terhampar” maka hendaklah engkau melihat dirimu! Termasuk golongan yang tersingkir daripada Nya; atau golongan yang disampaikan kepada Nya.

Hendaklah engkau menjadi “Ahli Nya” dalam kehidupanmu, niscaya engkau mengalami kesejukanmu, niscaya engkau mengalami kesejukannya dan kedamaian Nya di saat kematianmu.

Bila engkau tidak menjadi “Ahli Nya” dalam kehidupanmu kini, maka tidaklah engkau menjadi baik dalam kematianmu kelak.
( 8 )
Siapa yang tidak mau menyerahkan kepada Ku apa yang telah diketahui, niscaya akan Ku buka apa yang telah diketahui, niscaya akan Ku buka baginya pintu-pintu pendapat tentang hal yang berkaitan dengan pengetahuan, lalu ia condong memasukinya, dan akan Ku dorong masuk ke dalamnya, maka terhijablah ia.
( 9 )
Jika keterbatasan-keterbatasan itu memberikan kepadamu, maka kumpulkanlah, dan jika Aku yang memberikan kepadamu, maka jangan dikumpulkan.
( 10 )
Jangan engkau berpisah dari pendapat yang bermaksud hanya tertuju kepada Ku semata-mata, hendaklah lisan keadaanmu selalu dan selamanya atas... Ilahi Hanya Engkaulah maksud tujuanku; Dengan demikian engkau akan memenangkan dengan sesuatu kekuatan yang tak terkalahkan, bahkan dirimu sendiri akan menaatimu.
( 11 )
Jika engkau telah mengetahui dan meyakini sepenuh keyakinan, maka hindarkan dirimu dari menghukum dan serahkanlah hukum itu kepada Ilmu Ku karena sesungguhnya tiada hukum melainkan Kepunyaan Ku.
36.MERANTAU
                                   
Bila engkau ditimpa kemurungan karena panggilan-panggilan dirimu, hendaklah engkau bertenang dengan istrimu, jika masih juga belum hilang, datangilah orang seilmu denganmu, kalaupun belum juga hilang pergilah ke ahli makrifat, orang-orang saleh, jika masih juga belum hilang kemurunganmu, merantaulah di muka bumi,

Jika dengan perantauanmu masih juga hilang kemurunganmu, maka lazimilah berdiri di depan Pintu Ku, jika belum juga hilang, maka bersabarlah... Jika belum juga hilang, maka bersabarlah,, jika belum juga hilang, maka bersabarlah, niscaya akan terbuka Nur-Nya bagimu dan tiadalah engkau akan keluar darpada Nya atas sesuatu yang memurungkan.... sekali lagi bersabarlah dan nantikan... (dengan kesabaran).
37.SIFAT  BERDIRI  SENDIRI
                                   
Aku dihentikan oleh-Nya di tempat “Sifat Berdiri Sendiri”
(Al Quyyumiah) lalu iapun berseru kepadaku :
“Aku telah mendahului bagian-bagian, maka dengan Ku telah terbagi-bagi bukan dengan pembatasan, dan Aku telah mendahului pembatasan maka dengan Ku telah terbatas bukan dengan ruang; Aku telah mendahului ruang maka dengan Ku telah teguh bukan dengan jarak; Aku telah mendahului jarak, maka dengan Ku telah berjarak bukan dengan udara; Aku mendahului udara, maka dengan Ku berudara bukan dengan hawa; Aku telah mendahului hawa, maka dengan Ku ada hawa, dan juga debu, maka dengan Ku ada debu..
(Allah berfirman yang tafsirnya, sebagai berikut : )
Ia lah yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dahir dan Yang Bathin, dan Ia Maha Mengetahui tiap sesuatu.

Yang awal tiada permulaan, Yang Akhir tiada kesudahan, Yang Dahir nyata segala kekuasaan Nya, Yang Bathin tak terlihat oleh mata, karena yang bisa dilihat oleh mata tiada lain, melainkan makhluk seperti kita).
38.HAK  ITU  UNTUK  SIAPA?
                                   
Ilmu itu menetapkan bagimu suatu hak, dan bagi Allah suatu Hak pula.

Sedangkan makrifat itu pada umumnya menetapkan semua hak bagi Allah.

Dan tiada ia (makrifat) menjadikan bagimu suatu hak apapun. Dalam kekhususannya, makrifat itu tidak menjadikan bagi dan atasmu suatu hak, karena ia memperkenalkan padamu “mula pertama” dan “Pengulangan kembali dalam hukum Ketunggalan Ilahiat”. Dan menghapus daripadamu apa-apa yang nantinya akan kembali kepada arti dan makna dirimu, maka tiadalah menjadikan atasmu suatu hak, karena engkau bukan lagi dengan engkau, juga bukan untukmu karena engkau bukan daripadamu.

Dan ini adalah suatu “maqam pengguguran” segala peraturan dan urusan (Lemparkan semua ikhtiar dan segala tuntutan). Ini adalah derajat dalam lingkungan makrifat yang menuju dalam masuk Al-Waqwah (berdiri tegak). Dan mula pertamanya memasuki Al Waqwah ialah meniadakan siwa (selain Allah) sebagai pendamping.

“Hanya sesungguhnya Al Waqwah itu dengan Al Haq (Allah) dimana “Tiada Tuhan Selain Allah” dan “Tiada selain Nya”

 Inilah maqam yang berkesudahan padanya nasib yang menguntungkan jiwa.

“Maqam “ Dan tiadalah aku melakukan itu dari kemauanku sendiri”
(Qs. Al-Kahf 18 : 82)

Kalimat yang diucapkan Sayidina Al Khidr dalam Al Qur’an dikala ia “Melobangi perahu” “Membunuh seorang pemuda” dan “ Membangun tembok” tanpa alasan-alasan yang terang.

Dan inilah maqam-maqam :

“Tiadalah antara Ku dan antaramu antara”.
“Tiadalah antara Ku dan antaramu ‘Engkau”.
“Tiadalah antara Ku dan antaramu .. perbuatan apapun”.

“Dan tiadalah engkau yang melempar ketika engkau melempar, malainkan Allah-lah yang melempar “ (Qs. Al-Anfal 8:17).

“Dan bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka”. (Qs. Al-Anfal 8 : 17)
39.DAN KAMI LEBIH DEKAT PADANYA DARI URAT LEHERNYA
                                   
Setelah aku ditegakkan berdiri dalam “Penglihatan”, Ia pun berkata kepadaku : “ Pada ... Penglihatan... sudah tiadalagi ucapan, tiada juga  perkataan, ibarat dan isyarat juga tiada, ilmu dan makrifat, pendengaran dan kepekaan, ungkapan dan hijab, kesemuanya sudah tiada”

Iapun melanjutkan : “ Pintu “Penglihatan” itu, ialah jalan keluar dari “Siwa” dan “Siwa” itu seluruhnya berhimpun dalam huruf.

Makrifat itu merupakan pintu gerbang yang tiada dapat dimasuki, kecuali para arifin; dan bagi setiap arif satu tanda, yang dengannya (tanda itu) akan merasa tenang dan tenteram; dan barang siapa yang dengannya merasa tenang, maka ia pun akan berhenti di dalamnya”.

Kata Nya : “kesemuanya itu mengarahkan tujuannya ke gerbang itu, dan untuk mencapainya diperlukan “kendaraan” dan setiap kendaraan ada tali pengikatnya”.

Katanya pula : “kendaraan makrifat itu ialah ilmu dan tali pengikatnya ialah huruf”.

Lanjut Nya : “Hendaklah engkau turun dari kendaraan, keluar dari huruf dan keluar pulalah dari makrifat.... dengan demikian Ku hapus tanda hijab dan akan Ku teguhkan engkau dengan “Tanda Ku”, maka tiada lagi engkau dikusai oleh huruf yang menghijab.

Kata Nya Pula : “Menyingkirlah dari nama-nama huruf dan engkau akan menyingkir pula dari arti maknanya. Jika kesemuanya itu telah engkau singkirkan berulah “Aku akan lebih dekat dari urat leher”.

Belum! Belum tiba di tujuan! Menyingkirlah dari leher itu, dan urat leher itu, menyingkirlah dari “dekat” ke yang lebih dekat... niscaya engkau melihat “Lafaz Aku (Lafdhiat Ana).

Bila engkau telah pergi dari “Lafaz” itu, maka Aku lah Yang Dahir dan Aku lah Yang Bathin dan Aku lah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui...

Ia pun menegaskan sekali lagi : “Huruf dan segala sangkut pautnya adalah hijab yang berpintu, di dalamnya tempat pulang balik dan tempat membagi-bagi, keduanya merupakan dua pintu di belakang huruf; Menetapkan dan menghapuskan, adalah dua pintu hijab di balik yang pulang pergi dan membagi-bagi. Yang pulang pergi dan membagi-bagi adalah pintu masuk menuju penghentian (Al-Waqwah) dan “Penetapan serta penghapusan” adalah pintu masuk menuju “Penglihatan” (Ar Ru’yah).

Tabir hijab telah terungkap sudah.....
Bagi para setia kawan arifin Nya....
Segera mereka dapat memandang Nya.....
Tanpa ibarat tanpa huruf.... tanpa abjad.
40.BEBAS DARI BENTUK GAMBAR/LUKISAN
                                   
Hai hamba! “Tiadalah Aku menjadikan bagimu bentuk gambar-gambar dan lukisan-lukisan itu supaya engkau tunduk merendah kepadsanya.

Dan tiada pula Aku mengadakan bentuk gambar-gambar dan lukisan-lukisan itu supaya engkau berlindung padanya....!

Hai hamba! “Akulah pencemburu yang mengazab dengan siksa.... Telah Ku ciptakan bentuk gambar lukisan itu untukmu, dan engkau Ku ciptakan untuk Ku, maka mengapa engkau meninggalkan apa yang sebenarnya engkau untuk Nya. Dan untuk apa pula engkau membuang-buang waktu terhadap apa yang Ku tundukan untukmu.... Aku cemburu atas hidupmu yang engkau gunakan untuk yang tidak layak dan derajatnya lebih rendah dari martabatmu yang mulia itu”
Tafsir Ayat : Sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Bani Asrail 17:70).

  Hai hamba : “ Aku mempunyai di balik bentuk gambar lukisan, ilmu-ilmu gambar lukisan dan apa yang berkaitan dengan gambar lukisan, bagaimanapun bentuk gambar lukisan itu... suatu nama yang tak dapat dilawan oleh bentuk gambar-gambar dan ukisan-lukisan, dan suatu ilmu yang takkan tetap di depannya ilmu gambar-gambar dan lukisan-lukisan.

Hai hamba : “ Ia adalah suatu nama yang telah Ku sebut dengan dirinya untuk diri Ku, tidak utuk siapa yang mendengar, Ku simpan suatu ilmu untuk Ku, bukan Ku sebar di alam semesta, hanya Aku patrikan dengannya kepada barang siapa yang Ku kehendaki

Arti ayat : Alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu”..... Alangkah nikmatnya tujuan akhir (surga) yang abadi .... Alangkah baiknya balasan akhirat ... Alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (QS. Ar-Rad 13:24).

Dan Ku singkirkan siapa yang Ku kehendaki :

Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman”

Hai hamba! Kehadiranmu berlainan dengan kehadiran yang lain, maka jangan dibelanjakan sembarang belanja dari apa yang dapat dilihat ... wajhmu tidak seperti yang lain, maka jangan kau bawa berhina dengan membawa ke lembah dina.
41.                        PANJATAN PUJA PUJI PARA ARIFIN
                                   
Puja puji atas kenikmatan, itu adalah umum.

Puja puji mensyukuri atas nikmatnya, itu adalah khusus.

Puja-puji melihat kelemahan diri untuk dapat mensyukuri atas nikmat Nya, adalah lebih dari khusus.

Puja Puji atas suka dan duka, lapang dan sempit, adalah lebih dari khusus.

Puja Puji atas perkenalan Allah kepada hamba Nya, itu lebih dari khusus.

Puja puji untuk Wajah Al Hak Allah Ta’ala, tanpa sebab dan dari sebab, hanya dengan Nya dan daripada Nya, itu adalah puncak ilmu-ilmu para pemuja dan pemuji dan sudah berkesudahan khususnya-khusus.

 Puja puji itu akan menjadi sah bila datangnya dari orang yang alim dengan Nya, tetapi sah manakala tibanya dari seorang yang karam dalam kerinduan pada Nya, maka apabila kerinduannya telah terjalin, niscaya akan melihat Nya, mka apabila telah melihat Nya, niscaya penglihatannya itu akan menggerakan lisannya untuk bicara, manakala sudah terucapkan, hapuslah bekas maksud dan tujuan karena ucapannya itu, dan terhapus pulalah ciri-ciri kecondongan dan akan menjadi keikhlasan sebenar-benarnya; Puja puji itu hanya untuk Wajah Al Haq Allah Ta’ala; Dan semacam puja puji ini membuka bagi orangnya tentang lisan berdiri Nya sendiri (Al Qoyyumiah), maka segala makrifat-makrifat itu akan mengucapkan pada Nya dengan ketunggalan, barulah hilang kemurungan dari bilangan-bilangan dan akan terhimpun baginya semua bilangan dan tidak lagi terbagi-bagi satu antara lain.
42.BILA BERTEMUNYA DUA PERTENTANGAN DALAM SATU PENDAPAT
                                   
Yang emikian itu tiada akan terjadi melainkan di kala engkau melihat kesan pulang perginya sesuatu yang engkau cintai itu, maka pada hari ini baginya suatu nama; sifat dan tabiat, dan esok harinya ada baginya nama, sifat dan tabiat, maka hasil kejadiannya akan pergi daripadamu hukumnya, dan akan menjadi sama dalam kecintaanmu wujudnya dan lenyapnya sesuatu yang engkau cinntai itu.... dan inilah akhir kesudahan sesuatu itu dalam cinta kasih.

Seorang Abid, tidaklah layak baginya sessuatu pun untuk dicintai. Dan inilah taraf dari persamaan pertentangan-pertentangan itu di dalam cinta kasih, yang demikian itu agar engkau menyaksikan arti makna yang dengannya air menjadi panas, dan dengannya pula menjadi dinginmembeku.

Bila penglihatanmu telah sampai di sini, akan menjadi samalah hilangnya sessuatu atau adanya sesuatu itu. Dan tidak mungkin mencapai derajat dengan ilmu pengetahuan... akan tetapi hanyalah dengan perjuangan.
43.                       KEMANA PANDANGAN ATAS PARA ARIFIN 
                              
Bila engkau melihat Ku, di dalam sesuatu kenikmatan, niscaya engkau tidak akan gaib daripada Ku di dlam selain Ku.

Dan apabila engkau tidak melihat Ku di dalam suatu kenikmatan itu atasmu.... Dan bila kenikmatan itu menang atasmu, niscaya segala sesuatu akan ikut juga memperoleh kemenangan dan bila engkau melihat Ku di dalamnya (kenikmatan), niscaya engkaulah yang menang atas segala sesuatu.

Engkau sama sekali tidak akan melihat Ku, baik di dlam kenikmatan maupun dalam malapetaka, sampai engkau melihat dalam keduanya adalah “perbutan Ku sendiri”.

Engkau tidak akan melihat suatu “Perbuatan Ku sendiri” hingga engkau tidak melihat sesuatu dari sebab dan hingga engkau selamat dari waham sebab (tidak engkau tersentuh dingin oleh penyebab dingin melainkan kesemuanya itu perbuatan Allah).

Aku tidak akan menyata sebelum Ku sirnakan “Kesenangan berpendapat dengan selain Ku” dan tidak Ku sirnakan sebelum Ku saksikan bahwa “ tiada hukum baginya” dan tiada Ku saksikan sebelum Ku angkat apa yang bergantung dengannya daripadamu.

Ia bertutur kepadaku : “Berdirilah dengan tegak di alam semesta ini dengan “Hukum pengetahuan” yang meniadakan alam semesta. Dengan demikian engkau Ku angkat dari “Hukum alam semesta”

YA Tuhan ku! Engkaulah yang menciptakan segala dan yang mengurus serta memimpinnya; Engkau Maha Mengetahui segala dan yang mengajarinya; Yang mengenal segala dan yang memperkenalkannya, kepada Mu semua akan kembali, dan daripada Mu musnah, dan dengan izin Mu dapat berdiri dan kepada Mu akan kembali dan dengan Mu akan tetap tegak.

Siapa kiranya dapat membawa untuk ku..
Seseorang kawan yang arif yang bijaksana
Yang berhenti bajak bak tabir hijab
Yang tiada diperbudak oleh siapa
Bukan abdi mata yang fatamorgana
Yang bila alam semesta membangun
Tiada terlihat bangunan melainkan kehancuran
Kehancuran yang di bangun di atas kehancuran
Kebinasaan yang di bangun di atas kebinasaan
Kemusnahan yang di bangun di atas kemusnahan
Kerobohan yang dibangun di atas kerobohan.
44.  SUATU PENGHENTIAN DIMANA HATI-HATI PARA ARIFIN DIBUAT TERHERAN-HERAN
                                   
Aku dihentikan berdiri tegak dalam keyakinan yang sebenarnya, lalu Ia berkata kepadaku : “Dalam keyakinan itu adalah sauatu rahasia, bila engkau telah mengenalnya, amak tida lagi Aku menjadi samar atasmu.

Bila Kau menyamar, niscaya penyamaran Ku akan menambah makrifat padamu, tetapi bagi mereka yang tidak mengenal rahasia keyakinan itu, pastilah menjadi pengingkaran. Sesungguhnya Aku lah Allah yang tidak dapat direka-reka oleh perkenalan pada Ku, dan tak dapat dimuat oleh hati-hati itu dengan sepenuh muatan makrifat kepada Ku.  Bagi Ku ada suatu makrifat yang tunggal yang mana tiada Ku fitrahkan kepada hati seorang hamba dan tiak juga kepada para Malaikat.

Bila makrifat itu tiba, niscaya tiba pulalah pengingkaran, maka setiap orang Arif akan mengingkari segala apa yang telah dikenal.

Dan apabila telah tiba pengingkaran itu, maka ketahuilah bahwa Aku lah yang menyamar dengan makrifat Ku yang Tunggal itu, maka hendaklah engkau jangan menginggkari Daku dan jangan memohon suatu makrifat, yang dengannya engkau dapat mengenal Ku, dan katakanlah ... Engkau .... Engkau.... yang dapat memperkenalkan diri Mu sebagai yang Engkau kehendaki, dan menyamar menurut apa yang Engkau kehendaki.  Maka teguhkanlah daku dengan penyamaran Ketunggalan Mu (Wahdaniatik) dan tetapkanlah daku dengan pendengaran dan ketaatan pada Mu dalam apa yang diri Mu engkau perkenalkan.

Dan bila engkau menyamar, maka jadikanlah daku tergolong dari orang-orang yang mengetahui, bahwa Engkaulah yang menyamar.... Dan bila Engkau  Memperkenalkan diri, maka jadikanlah daku tergolong dari orang-orang yang mengetahui, bahwa Engkaulah yang memperkenalkan diri.
45.                       YANG TERUNGKAP SERBA SUCI
                                   
“Bagi Nya wajah tanpa rupa;
“Bagi Nya mata tanpa kedip;
“Bangi Nya ucap tanpa huruf;
“Baginya ilmu tanpa halaman;
 “Bagi Nya dekat tanpa mana;
“Bagi Nya jauh tanpa hingga;
46.                       D O ‘ A
                                   
“ YA Tuhanku !

Denganku daku hina; Dengan Mu daku mulia;
Denganku aku papa; Dengan Mu aku kaya;
Denganku daku lemah; Dengan Mu daku perkasa.

Tiada yang dapat mengetahui kehinaanku, kepapaanku, dan kelemahanku selain Mu.

Maulaya! Makrifat dalam hati menuntut demi untuk Mu atas diriku, sedangkan daku khusuk di ambang gerbang pintu Mu, bersujud di dalam lapangan Mu nan luas, ku datang menghampiri Mu dengan penuh noda dan dosa, Ku mohon maaf ampunan Mu serta kemurahan Mu, ku minta tersingkapnya tabir penutup untuk bertobat dan kembali pada Mu.

Malulaya! Andaikan Engkau pikulkan atas pundakku beban dosaku.... tidaklah bumi dapat mengangkatku, tiada pula langit dapat menaungiku, tiada satupun selain Engkau yang dapat memikul berat dosaku, dan tiada satu lisan selain dari lisan-lisan kemaafan Mu yang sanggup memberi alasan... terhadap kessalahan-kesalahan ku, tiada satupun dari makhluk-makhluk Mu yang sanggup melihat padaku karena buruknya rupa yang dipenuhi oleh daki-daki dosaku.

Tiada makrifat dari sekian banyak makrifat makhluk-makhluk Mu yang sanggup mengajukan uzur untukku kepada Mu, lagi pula ia melihat dosaku dalam makrifat Mu.

Maka, tiadalah demi Kemulian Mu, sekali lagi tiadalah demi Kemulian Mu yang dapat menyelematkan diriku daripada Mu, Kecuali Engkau, tiada pula daku dapat menghindarkan diri dari Kemurkaan Mu melainkang Engkau, tiada daku mempunyai alasan perihalku kecuali Engkau.

Maulaya! Daku memohon kepada Mu dengan Rahmat Mu! Daku meminta pada Mu dengan Nur Cahaya Mu; Daku ajukan pintaku pada Mu dengan kebagusan Mu; Daku harap-harapkan pada Mu dengan Keindahan Mu; Daku rindukan pada Mu dengan Zat Mu; Dengan Wajah Mu; Dengan Diri Mu; Dengan Samping Mu; Dengan Tangan Mu; Dengan Roh Mu; Dengan mata penglihatan Mu; Dengan Rumah Mu; Dengan Somadiat Mu; Dengan seluruh Sifat-sifat Mu; Dengan ke-Agungan di dalam meng-Agung-Agungkan Mu; Daku memohon maaf dan ampunan serta kemurahan dan ku minta tabir penutup untuk dosa-dosaku dengan tobat dan kembali pada Mu.
47.                       SAKSI  MAHA TUNGGALNYA DALAM SESUATU
                                   
Bukti-bukti ketunggalan dalam sesuatu-sesuatu itu, bahwa kesemuanya itu adalah buatan dari sisi Yang Maha Tunggal; Seluruh sifat buatan Nya adalah satu, yaitu ulang mengulangi dan kemusnahan; Bentuk semua buatan Nya adalah satu, yaitu dalam keterbatasan, Tanda-tanda buatan Nya satu, yaitu kodrat; dan pengetahuan semua butan Nya satu, yaitu kodrat; dan pengetahun buatan Nya satu, yaitu ikrar (pengakuan), dan semua ikrar Nya satu, yaitu kebodohan, dan jenis mata semua buatan Nya satu, yaitu wujud ini, maka kelangsungan wujud buatan Nya saling hancur menghancurkan, hingga tiada tinggal satu wujud pun.

Seluruh terjemahan-terjemahan buatan Nya adalah satu, yaitu memberi penjelasan; Ketenangan seluruh buatan Nya adalah satu, yaitu ketertiban; Gerakan seluruh buatan Nya adalah satu, yaitu penyusunan; Hukum hukum buatan Nya adalah satu, yaitu kemauan; Perbuatan-perbuatan semua buatan Nya adalah satu, yaitu yang dimaksudkan; Kesampaian semua buatan Nya adalah satu, yaitu ketidaksanggupan; Dan diamnya semua apa yang dibuat oleh Nya adalah satu, yaitu tempat; Dan kelemahan semua buatan Nya adalah satu, yaitu Baharu (Haditsah) (Lawan Qadim).
48.                       HURUF DAN LINTASAN-LINTASAN HATI
                                   
Huruf itu terdiri atas bentuknya, dan bentuknya terdiri atas tasrifnya (Perubahan bentuk kata), dan tasrifnya terdiri atas ilmu-ilmunya, dan ilmu-ilmunya terdiri atas hukum-hukumnya.

Huruf itu merupakan maqam hijab; Menghimpun huruf adalah maqam penyusunan; Menyusun dan mencerai beraikan huruf itu adalah maqam pemusnahan.

Huruf itu merupakan unsur benda bagi “siwa” (Selain Allah) seerta unsur benda bagi perbagai “Lintasan hati”.

Tiada terlintas padamu suatu lintasan hati, lalu engkau tiada menafikan, maka bukanlah engkau daripada Ku, dan bukanlah Aku daripadamu.

Bila terlintas padamu suatu lintasan hati lalu engkau meniadakan... niscaya engkau daripada Ku atas hukum apa yang engkau meniadakan; Sedangkan engkau daripada lintasan hati itu atas hukum yang menahanmu.

Bila sudah tidak terlintas padamu suatu lintasan hati, niscaya engkau daripada Ku dan Aku daripadamu.

Bila terlintas padamu suatu lintasan hati, dan engkau menyambutnya dengan baik, kemudian engkau meniadakan, maka engkau daripadanya.

Bila terlintasa padamu lintasan hati, lalu engkau meniadakan seketika itu, maka ia tidak denganmu, dan engkau tidak pula dengannya.

Ia berkata kepada ku : “Bila engkau makan dengan sesuatu, niscaya engkau minum pula dengannya; Bila engkau minum dengannya sesuatu, maka engkaupun akan mabok dengannya.
Ia pun melanjutkan : “ Hendaklah engkau jangan makam dengan siwa, yang mana nantinya engkau akan minum dengannya, dan jangan pula engkau minum dengan siwa, agar engkau tidak mabuk dengannya.

Bila engkau makan dengannya, engkaupun akan bersandar padanya atas asal usulnya; Dan bila engkau minum dengannya, engkaupun akan condong kepada ilmu-ilmunya.

Iapun menyambung : “ Bila engkau tidak makan dan tidak minum dengan siwa, niscaya ucapanmu adalah kata-kata yang benar dan tepat, engkaupun ikhlas melaksanakan, dan perkataan serta perbuatanmu akan datang kepada Ku tanpa hijab, dan akan Ku tetapkan  kata-katamu dalam kitab Ku, dan Ku tetapkan perbuatanmu dalam beribadah kepada Ku.

Dan kata Nya : “ Hai hamba! Bila puji-pujimu kepada Ku dengan puji-puji huruf, niscaya engkau akan lengah dengan kelengahan huruf itu’

Hai hamba! : “ Bila engkau bertobat dengan lisan huruf,  niscaya engkau urungkan dengan lisan huruf.... bila engkau taat dengan lisan huruf, nsicaya akan bermaksiat dengan lisan huru.

Hai hamba! : “ Sucikanlah puji-pujimu kepada Ku daripada huruf dan berlebih-lebihannya, dan sucikanlah taqdismu kepada Ku dari berlebih-lebihan serta bertingkat-tingkatnya huruf itu, niscaya Ku tulis tasbihmu dengan tangan Ku atas naungan Ku, dan Ku jadikan engkau dari ahli keluarga Ku... bila tiba “Saat pertemuan”.
49.                       YANG MENYERTAI KEINDAHAN DAN HIASAN
                                   
Hai hamba! Akulah pengetahuanmu itu, bila tidak, maka tiada pula pengetahuan bagimu, dan Aku lah pendapatmu itu, bila tidak, maka tiada pendapatan bagimu, dan Aku lah pendengaranmu itu, dan Aku lah penglihatanmu, maka bila tidak, tidak pula bagimu penglihatan.

Hai hamba! Aku menghijab dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, maka itulah kenikmatan yang menghijab, dan Aku pun telah mengungkap kenikmatan-kenikmatan ukhrawi, maka itulah kenikmatan-kenikmatan yang mengungkap.

Hai hamba! Pandanglah hiasan yang dibangun oleh karya tangan-tangan pendurhaka di dunia ini, dan pandanglah susunan-susunan buah tangan karangan para pemikir yang lalai; maka dengan ketaatan mereka tidak terlihat berupa keindahan walau dihias dengan apapun juga, dan tiada dengan pengetahuan mereka hasil yang elok dari buah karangan mereka walau disusun sedemikian rupa.

Hai hamba! Hendaklah engkau menengok hati-hati mereka yang telah berikrar kepada Ku, namun tidak mereka penuhi; Dan lihatlah pada lisan-lisan yang telah berikrar untuk Ku tetapi tidak dilaksanakan... Akan terlihat olehmu apa-apa yang telah diucapkan itu tidak berbekas menjadi kenyataan, dan akan terlihat olehmu apa yang mereka perbuat tidak mencerminkan cita-cita sifatnya.
50.                       SAMPAI KEPADA ALLAH
                                   
Ilahi ! Engkau maha mengetahui akan ilmu, tetapi ilmu itu tidak mengetahui Mu, dan Engkau Maha mengenal akan makrifat, tetapi makrifat tidak mengenal Mu.

 Ilahi ! Perlihatkan padaku dalam Engkau membolak balik, dan saksikanlah padaku dalam Engkau mencurahkan asuhan, dan mewujudkan daku dengan Mu dikala Engkau memperlihatkan , sehingga jangan menjadi atasku selian Mu “Ketuhanan hukum” (Rabbabiatul Hukum) dan “Arti makna Nama (Ma’nawiyatul Isim).

Ilahi ! Engkau Maha Mengetahui terhadap diriku, untuk apa daku Engkau ciptakan? Dan Engkau Maha Mengetahui tentang panggilan-panggilan diriku, untuk apa Engkau jadikan aku” Dan Engkaulah Maulaya! Nan Maha Kaya dan tidak memerlukan daku, bagaimana Engkau memperlakukan daku sedangkan Engkau Tuhanku!  Engkaulah Maha Penyayang dari segala penyayang, bagaimana Engkau membolak balikan daku?
Ilahi , Gusarkanlah daku dari segala sesuatu yang membuatku jinak terhadap kenikmatan-kenikmatan Mu, tunjukan daku dalam semua kenikmatan Mu wajah-wajah para pengenal-pengenal Mu, pimpinlah daku dalam Makrifat Mu, dengan ilmu-ilmu Ketuhanan Mu, dan perlihatkan padaku Nur Cahaya Mu, dengan bimbingan petunjuk Mu.

Ilahi ! Telah berkuasa dan Mulia sifat-sifat Mu atas huruf para pengucap, da meninggi zikir-zikir taqdis Mu atas pikiran-pikiran para pendiam, maka tiadalah makhluk-makhluk yang dapat mentasbihkan Mu melainkan Tasbih Mu jua yang lebih besar, dan tiada jangkauan khayal untuk memuja dan memuji Mu, melainkan pujian Mu jua yang lebih Agung.

Ilahi ! Engkaulah bukti dari seluruh pembuktian-pembuktian Mu, dan Engkaulah penerang atas segala penerang-penerang Mu, serta ayat-ayat Mu.

Ilahi ! Telah surut kembli segala makrifat-makrifat di hadapan makrifat Mu dengan keheran-heranan, dan kembalilah segala penglihatan-penglihatan hati di hadapan keindahan ke Agungan Mu dengan keletihan dan kepayahan.
51.                        DDO’A  PARA ARIFIN
                                   
Ya Allah ! Aku berlindung dengan Mu daripada mengetahui suatu ilmu, melainkan demi pada Mu, atau menginginkan suatu ilmu demi untuk Mu, atau melakukan suatu amal melainkan demi untuk wajah Mu, atau menuju suatu jurusan kecuali demi dalam ketaatan pada Mu.

 Ya Allah ! Sungguh aku berlindung dengan Mu daripada berusaha, kecuali dalam keridhaan Mu, atau di kala aku membolak-balikan badanku di atas pembaringan, kecuali dengan penuh rasa takut pada Mu, atau juga ku buka mataku, kecuali untuk melihat ayat-ayat Mu, atau mengarahkan telingaku, melainkan guna menyimak peringatan Mu.

Ya Allah ! Sungguh aku berlindung dengan Mu daripada menggunakan pikiran, kecualli dalam takut kepada Mu, atau melaksanakan suatu kemauan keras, kecuali di jalan lorong Mu atau mengorbankan jiwaku, kecuali demi dalam hak Mu.
52  .D I A
                                   
HUA = dia lelaki, dan HIA = dia perempuan, keduanya tidak mencapai untuk mengibaratkan tentang Nya, menurut harfiah (Karena Allah bukan lelaki dan bukan perempuan).

Tiada mungkin huruf itu mengibaratkan tentang Allah Yang Maha Suci, karena huruf itu tergolong dari makhluk-makhluk Nya.

Huruf itu laksana Suradiq = debu, atau apa yang menjulang, yang meliputi sesuatu untuk membuat bentuk terhadap apa yang dinyatakan oleh Allah dari segi kebendaan. Dan suradiq itu berada di maqar = tempat, dan maqar itu di iqrar = ikrar, dan itu di qarar = tempat yang tetap, dan qarar itu di tamkin = kedudukan di tempat yang teguh, dan tamkin itu rangkaian huruf dan huruf-huruf Nya.

Huruf itu menghijab arti makna, sedangkan arti makna menghijab mahiyat (keadaan).

Huruf itu merupakan hijab yang tidak dpat ditembus oleh penembus-penembus dan tidak dapat dimasuki oleh para penempuh kecuali dengan izin Ku.

Huruf yang paling tinggi adalah Nama Ku, dan huruf pertengahan adalah Kemauan Ku, dan semua huruf itu adalah Bahasa Ku dan lisan-lisan Ku, Malaikat itu berkenan melapangkan Nama itu, karena itu adalah pintunya, dan Jin melapangkan kemauan keras, karena itu adalah pintunya, dan insan melapangkan semua huruf karena itu adalah pintunya.
53.                       PARA ARIF DAN PARA ABID
                                   
Ia berkata kepada ku : “Hai Arif! Imanmu sebanding dengan iman para makhluk, malah lebih baik; Dan maksiatmu seimbang dengan maksiat para makhluk, malah lebih bessar.

Ia berkata : “Jika bukan karena Arifin, niscaya sudah Ku sekap semuanya”. Selanjutnya : “Para Abidin merupakan tonggak bumi dan para Arifin merupakan pasak-pasak zikir.

Ia berkata : “Seorang abid, ibarat air yang menyirami bumi, tetapi ia tidak merasakan buah-buahan yang tumbuh; sedangkan seoran arif ibarat ayat-ayat yang mempercepat zikir, tetapi ia tidak ikut meneguk dengan cangkir-cangkir.

Ia berkata : “Seorang arif mengalir dalam zikir, tetapi tidak ikut serta minum, laksana yang naik di atas lautan dengan berjalan tetapi tidak menghirup, bila engkau makan dengan sesuatu niscaya engkau iringi minum dengannya, bila engkau minum denga sesuatu, maka engkaupun mabuk dengannya.

Janganlah engkau mabuk, dengan selain Ku, niscaya engkau menjadi ARIF.
54.                MAQAM-MAQAM MEREKA YANG TELAH SAMPAI DAN MARTABAT MARTABATNYA
                                   
Mula pertama karunia Allah bagi seorang muried (Yang berhasrat menempuh), ialah ajakan berbicara sebagai pembuka perkenalan, kemudian berkenalan dan saling kenal-mengenal (arif); Setelah itu berikhlas hati untuk semua amal perbuatannya kemudian berbaik niat, lalu bersabar diri, naik ke rida dengan hukum Nya.

Setelah itu sang arif dianugrahi penyaksian menyaksikan Nya.

Dan penyaksian, meningkatkan keteguhan hati, bila hati telah teguh diulurkan perjanjian kewaliaan, setelah itu dipilih oleh Nya. Jika terpilih maka diserahi amanat, setelah itu diungkapkan kepadanya khazanah rahasia-rahasia Nya, Setelah kesemuanya ini dilalui, menjadilah ia seorang khalil (kawan setia). Khalil atau Al Khullah (sahabat yang akrab).

Sahabat yang akrab ini adalah dari maqam Al Mahabbah (Maqam Cinta) maqam ini adalah suatu maqam bukan dari maqam, itu adalah maqam Sayyidina Muhammad, s.a.w.

Di dalam maqam cinta, sang abid berpindah ke “Berdiri tegak memandang” (Mauqifil ithla) terus ke “ Berdiri tegak nan tenang” (Mauqifis Sukun).

Dengan demikian, maqam-maqam itu dari tahap ke tahap menjulang dengan kesimpulan :
Al muhadatsah (Ajakan berbicara).
At ta’aruuf (memperkenalkan, ajakan berkenalan)
Al makrifah (perkenalan)
Al isyhad (mempersaksikan, memperlihatkan)
At tatsbiet (keteguhan hati, ketapan)
At tamkin (penetapan berteguh)
AL wilayah (kewalian)
Al ishtifa’ (seleksi, dipilih)
Al i’timaan (diserahi amanat)
Al kasyf (tersingkap, terungkap)
AL khulaf (kawan setia, sahabat yang akrab)
Al mahabbah (cinta)
Al ithla’ (memandang)
Al qath’ ( memutuskan)
As sukun (tenang).

Pendekatan itu baginya
Tanda cinta
Bila sudah nyata
Maka tergulunglah semua antara
Segera terhapuslah
Warna dawat dan segala nama.
55.                       YANG MENYERTAI KEINDAHAN DAN HIASAN
                                   
Ilmu itu adalah bukti Ku; Makrifah adalah jalan Ku; Waqwah adalah tempat bicaraku dan Rukyah adalah wajah Ku.

“Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah Wajah Allah, sungguh Allah itu Maha Luas dan Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah 2 :115)

 Ilmu itu nyata bagi hukum-hukumnya yang menyangkut kejiwaan, sedangkan makrifat itu menyembunyikan di dalamnya hukum-hukum kejiwaan. (Makrifat itu menghapus keinginan-keinginan nafsu, dan segala apa yang ada hubungannya dari hukum-hukum yang berupa keinginan-keinginan yang berada di dalam hati).

Ahli ilmu itu adalah ahli air dan naungan; Ahli makrifat itu adalah ahli hadiah-hadiah dan kemuliaan; Dan ahli Waqwah itu adalah ahli gembira dan saling berkata; Ahli Ru’yah itu adalah ahli rahasia-rahasia dan kawan duduk semajelis.

Waqwah itu adalah pintu bagi Ru’yah, tidak akan sampai kepadanya kecuali dari situ; Makrifah itu adalah pintu waqwah; tidak akan sampai kepadanya kecuali dari situ; Al Minnah (karunia) itu adalah pintu bagi makrifah, tidak akan sampai kepadanya kecuali dari situ, dan ilmu itu adalah bukti Ku kepada makrifah.

Makrifah-makrifah itu mengalir di dalam waqwah bagikan mengalirnya air di daratan tanah.

Waqwah itu adalah naungan Ku, makrifah itu adalah naungan Arasy Ku dan ilmu itu adalah naungan surga Ku.

Dunia dan akhirat telah tenggelam ke dalam huruf, huruf tenggelam ke dalam makrifah, makrifah tenggelam ke dalam waqwah, dan waqwah tenggelam ke dalam ru’yah, dan ru’yah berkekalan terhadap ahlinya dan mereka tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya, mereka telah mengucapkan dengan ucapan tentangnya, maka mereka utusan-utusan bagi para duta dan penguasa-penguasa bagi para bangsawan.

Tiada di dalam Ru’yah itu waqwah dan tidak pula ibarat. Maka maqam ru’yah adalah maqam Fana (kelenyapan) segala sesuatu ... tiada lagi apapun, yang ada hanyalah Wajah Nya Yang Maha Suci, dan tiada yang kekal selain wajah Nya Yang Maha Mulia.

Ia berkata kepada Ku : “Hanya Aku, tiada sesuatu yang dapat berdiri sendiri di samping Ku, tiada sesuatu yang kekal bersama Ku, dan tiada sesuatu yang jadi atas Ku.

Maka siapa yang Ku tegakkan berdiri di dalam “Berdiri Ku sendiri” (Waqwati) atau Ku saksikan penglihatan Ku, niscaya Ku kekalkan sebagaimana yang Ku kehendaki agar supaya Kehidupan  atau Kegaiban sesuai apa yang Ku kehendaki demi keselamatannya dari kebinasaan.

Ia pun melanjutkan : “Seorang waqif (yang berdiri di waqwah), tiada alam semesta menjengkelkannya, tiada pula diganggu oleh kejadian-kejadian. Bila ia pergi di malam hari, maka ia dalam lindungan Ku dan alangkah baiknya perlindungan itu, bila ia tinggal berdiam seorang diri, Akulah penjaganya! Alangkah baiknya penjagaan itu.

Kawan waqwah merupakan pembawa berita gembira dan pemberi kabar penakut (Basyiron wa Nadziro), dan kawan Ru’yah adalah pemberi syafaat dan jaminan (Tiada suatu hal – keadaan yang setara dengan keadaan mereka).
56.                       SABDA ALLAH TERHADAP LANGIT DAN BUMI
                                   
Dekat tak dapat dikatakan, jauh tak dapat diuraikan. Dekat, tetapi tidak dapat dikatakan dekat Nya (Maka Ia lebih dekat dari urat leher) Jaug, tidak dapat diuraikan akan Jauh Nya (fa huwal muta’al), maka Dia lah Yang Maha Tinggi. Nyata, tak dapat dicapai kenyataan Nya. Bathin, tidak dapat diungkap hijab Nya, karena “Tiada satupun yang menyerupai Nya (Laisa Kamitslihi Syai’un). (Asy Syura 42 : 8).

Langit-langit dan bumi diadakan Nya dan ditegakkan dengan hukum Nya dan tibalah Sabda Firman Nya :
“Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan patuh atau terpaksa” Keduanya menjawab “Kami datang dengan penuh kepatuhan” (QS. Fush Shilat 41:11).

 Dengan Nya keduanya dapat mendengar, dan dengan Nya keduanya dapat menjawab dan dengan Nya keduanya dapat taat dan patuh.

Tiada penyaksian kecuali dengan DIA.
Tiada hijab melainkan dengan DIA.
Siapa yang tehijab bagi selan DIA.
Niscaya akan nyata bagi selain DIA.
57.                       TENTANG  HIJAB
                                   
Aku ditegakkan bediri di hadapan Nya, kemudian Ia pun berkata pada ku : “Hijabmu adalah segala apa yang Ku nyatakan, hijabmu adalah segala apa yang Ku rahasiakan, hijabmu adalah segala apa yang Ku hapuskan, hijabmu adalah segala apa yang Ku ungkapkan, dan juga segala apa yang Ku tutup.

Bila engkau keluar dari padanya, keluar pulalah engkau dari hijab; bila engkau dihijab olehnya, niscaya engkau dikerumuni oleh hijab dari sekian banyak hijab-hijab.

 Ia pun menyambung pula : “Tidak, engkau tidak akan dapat keluar dari dirimu, melainkan dengan Nur Cahaya Ku, Nur Cahaya Ku yang mampu menghanguskan hijab itu, lalu engkau dapat melihat bagaimana caranya ia (Nur itu) dapat menghijab. Selanjutnya : “Barangsiapa telah melihat Ku, dan telah menyaksikan maqam Ku, akan diharamkan atasnya makanan yang halal selama engkau berada dalam hijab.

Ia pun melanjutkan : “Jangan engkau berhenti di dalam hijab, dan jangan pula berdiri di dalam hijab, karena segala hijab akan bertolak pinggang membantahmu tentang Ku, hendaklah engkau iqomah di sisi Ku, niscaya Aku akan membelamu dan membantah tentang dirimu.

Lanjutnya : “Bila engkau telah melihat Ku dan tinggal di sisi Ku, maka engkau dari Ku, dan engkau dengan Ku, dapat berdiri di bawah naungan Ku dan tergolong dari orang yang bersyafaat terhadap siapa yang Ku kehendaki dari makhluk-makhluk Ku”.

Lanjutnya : “Bila engkau telah melihat Ku, dan tinggal di sisi Ku, maka engkau dengan Ku, dan engkau dari Ku, berdiri di dalam kasih sayang Ku dan mengharap besarnya anugrah dan ampunan Ku.
58.                       PEMBAHASAN  TENTANG TABIAT  HATI
                                   
Dengan fitrah yang ada, hati itu tidak diciptakan baik maupun jahat..... tetapi mempunyai kesediaan untuk berperangai dan berbudi pekerti, berwatak dan bertabiat, yang mana dari dasar segi baik dan jahat, ia dapat pulang balik antara keduanya atas segi ikhtiar dan kemauan.

Hati itu dapat patuh mendengar sesuatu, atau mendengar lawan sesuatu, walaupun simpang siur bahasanya. Andaikan ia diajak bicara oleh alam semesta dengan apa yang ada padanya ia dapat mendengar dengan satu pendengaran, begitu juga jika ia menjawab, ia menjawab dengan satu jawaban.

Mengenai akal, ia dapat memandang seluruh pemandangan-pemandangan yang bercabang-cabang aneka ragamnya sekali pandang...... Adapun Jiwa dan tabiat, masing-masing dari keduanya tidak berdaya dan berkesanggupan kecuali untuk mengikuti satu pandang demi satu pandang yang terpisah sendiri-sendiri, apabia ia bergantung dengan salah satunya, berpisahlah ia dari yang lain.  Kebalikannya, akal,  ia tidak dapat dipotong oleh satu pemandangan selama ia berada setingkat ilmu, apabila ia berpisah dari ilmu ke pendapatan, bergantunglah ia kepada pemandangan dan berpisahlah ia dengan memasang telinga kepadanya dari yang lain.

Bagitu juga halnya dengan hati, ia tidak dapat dipotong oleh satu pendengaran dari sekin banyak pendengaran, selama ia dalam tingkat ilmu, apabila ia berhasil tertegun oleh satu pendengaran, berpisahlah ia dari lainnya.

Maka ilmu itu pun merantau dan meluaskan gema pendengaran dan penglihatan, sedangkan pendapatan mengepungnya untuk meringkus ke satu titik dan satu persoalan.  Dan alam semesta keseluruhannya merupakan lintasan hati sepanjang masa di dalam hati dan akal.

Sesungguhnya hati itu terkhusus dengan lintasan-lintasan, karena hukumnya dalam hati yang lebih kuat; Ajakan alam semesta untuk berbicara terhadap hati, adalah menjadi pemisah dari yang lain. Dan akal itu memandang alam semesta, begitu juga, alam semesta memandang kepadanya. Ada kalanya ia masuk dalam pembicaraan bersama alam semesta, dan hukum pembicaraan itu lebih berpengaruh dari hukum pandangan yang tanpa pembicaraan.

Hati itu merupakan tempat bermukim lintasan-lintasan  yang berada di dalamnya. Dan akal itu merupakan jalan lintasan-lintasan hati yang berlalu di dalamnya serta melewatinya.

Banyak sekali ragam lintasan-lintasan hati itu. Dan bercabang-cabang pula; Ada yang bersifat “keiblisan” (iblisiah), ada pula yang bersifat “kemalaikatan” (malakiah), “kerajaan langit” (malakutiah) dan “kerajaan duniawi” (mulkiah).

Lintsan hati “keiblisan” itu ialah lintasan-lintasan hati yang membuat keraguan (Asy Syakiah) dan “menyukutan Tuhan” (Asy Syirkiah) dan “kebid’ahan lawan sunnah Nabi” (Al Bid’ah) dan “mengingkari kebenaran” (Al Jukhdiha),. Adapun lintasa yang membawa keraguan dan kemusrikan itu, lalu lalang di halaman lintasan malakutiah. Mengenai lintasan hati pembawa bid’ah dan pengingkaran, itu pulang pergi di halaman mulkiah – kerajaan duniawi.

Lintasan-lintsan hati itu adalah ilmu, hukum dan suruhannya, maka apabila si pendengar menyimak kepadanya dan meneguk isi piala ilmunya, hukumnya dan suruhannya, jatuhlah ia ke jurang pelanggaran dan larangan. Itulah yang dibangkitkan oleh lintasan-lintasan itu. Jika tidak dihiraukan dengan ditanggapi was-wasnya, kembalilah ia ke tampat asala mulanya dengan apa yang ada padanya dari ilmu, amal, hukum dan suruhannya.

Alamat bergantungnya hati kepada Tuhan, ialah terungkapnya perasaan di kala bisikan-bisikan lintasan hati itu menghadapi apa yang dipilihkan oleh Tuhan kepadanya dalam keadaan yang sulit diuraikan dan tidak dapat dibeberkan oleh terjemahan, maka apabila diletakkan perasaan ini ke dalam hati sang hamba, dipisahkanlah ia dari penyirnaan lintasan hati yang jahat itu.... dan apabila hati itu kehilangan perasaan ini, maka berdatanglah serangan lisan-lisan lintasan itu, lalu diraih dan dicengkeramnya.

Sang Abid menguraikan perasaan yang demikian ini dengan ucapan “.....Oh!!!! Sesungguhnya kurasakan betapa antaraku dan antara Tuhan adalah “Kemakmuran” (‘amar)... dan kemakmuran inilah yang menjadi perisai diriku dari tergelincir dalam kesalahan.
59.                       APA YANG DIKATAKAN ALLAH KEPADA HAMBANYA
                                
( 1 )
Telah  Ku ciptakan makhluk-makhluk, maka hendaknya engkau menjunjung tinggi ciptaan Ku. Jangan berlaku kejam terhadap ciptaan Ku, bagaimana kiranya jika diperlakukan yang demikian menimpa pada dirimu? Jka demikian perilakumu, Aku lah yang akan bertindak kejam atasmu.
(2)
Jangan hendaknya engkau berlaku kejam atas siapa pun dengan zat dirimu. Ingatlah!! Keperkasaan itu bukan kepunyaanmu; Keperkasaan itu adalah milik Ku sendiri.
(3)
Aku ditegakkan berdiri di dalam sesuatu, maka oleh Nya aku di bawah kepada ‘nama-nama’, akupun ditegakkan berdiri dalam nama-nama itu, lalu aku dibawa pula ke “arti mankna-arti makna” itu, setelah itu aku dibawa pula ke “arti makna-arti makna” itu, setelah itu aku dibawa kepada “diriku” dan ditegakkan berdiri pula di dalamnya.

Dari “diriku” aku dibawa ke “dunia” akupun ditegakkan berdiri pula di dalamnya, dari “dunia” aku dibawa ke “syirik dan kufur”  Dan kata Nya : “ Bila kemauna-kemauanmu berkisar dalam lingkaran itu, jangan diharap engkau dapat masuk ke Hadirat Ku.... dan Ia berkata “Tengoklah kepada “kemauan keras-kemauan keras” itu! Maka kulihat “kemauan keras” yang tidak berdiri di antara kedua tangan ya, akan berdiri di antara kedua tangan iblis.... mau ataupun tidak.... dan aku lihat iblis melambai sambil menyeru kepada “kemauan-kemauan keras” itu kepada dirinya masing-masing.

Lambaian itu pun disetujui, maka berdirilah di anatara kedua tangannya dalam keadaan terhijab dengan diri dirinya sendiri.

Ia berkata kepadaku : “Aku yang memanggil “kemauan-kemauan keras” itu kepada Ku bukan kepada dirinya masing-masing, maka janganlah engkau masuk ke Hadirat Ku kecuali bila “kemauan-kemauan keras” itu keluar dari diri dirinya.
Ia bertuturkata kepada Ku : “Seorang Wali itu, ialah mereka yang berdiri tegak di antara kedua tangan Ku, tiada beranjak tiada pula beringsut.
(4)
Aku telah diteguhkan berdiri tegak di dalam “kesempurnaan” maka aku melihat di dalamnya berhimpunan “Ke Maha Besaran) (Al Jalal) dan “Ke Maha Indahan: (Al Jamal)

·         Sifat-sifat Al Jamal, pada Allah, dapat engkau temui dalam :
Ar Ra’uf – Maha Penyayang dan Maha Pengasih.
Al Wadud – Maha Mencintai
Al Khaliem – Maha tetap dapat menahan amarah.
Al Kariem – Yang melimpahkan Karunia kepada makhluk-makhluk tanpa diminta sebelumnya.
Al Afu-wu – Maha memberi maaf.
Al Ghaffar – Maha menutupi kesalahan hamba-hamba Nya dengan pengampunan dosa mereka.
Al Mannan – Maha pemberi Karunia.
Al Khannan – Maha Kasih Sayang.
Ash Shobur -  Maha sabar
 Asy Syakur – Maha pembalas jasa hamba Nya.
Ar Rozzaq – Maha pemberi Rizki.

Dan Sifat-sifat Al Jalal pada Allah, dapat engkau temui dalam :

Al Jabbar – Yang perkasa memaksa akan kehendaknya.
Al Muntaqiem – Maha kuasa menindak dengan siksa.
Al Aziz – Maha kaut tak terkalahkan oleh apapun
Al Muta’al – Yang mencapai puncak ketinggian
Al Muatakabbir – Yang patut dipuja karena ke Agungann Nya
Al Muahimin – Maha menaungi hamba-hambanya
Al Jalil – Yang mempunyai sifat kebenaran
Al Adhiem – Maha Luhur
Al Kabier – Maha Besar
Al Muiz – Yang meninggikan derajat siapa yang dikehendaki
Al Qibidh – Maha kuasa menyempitkan
Al Khofidz – Maha kuasa merendahkan

Dana Maha Kesempurnaan Allah, adalah di dalam himpunan antara Maha Santun (Al Khulum) dan Maha Memiliki Kekuasaan ( Al Jabbarut), berkait antara dua sifat yang saling berlawanan menjadi dalam satu ketunggalan, hingga tiada ada pada Nya berlawanan dan tiada pula tebagi-bagi.
Maka Dia Yang Maha Sejahtera (As Salam) yang pada Nya tiada perlawanan dan perselisihan.
( 5 )
Bila engkau telah mengenal Daku dengan Ku, tidak lagi perkenalan dengan Ku itu akan dapat ditambah oleh sesuatu (Karena Aku lah yang membawamu sampai kepada puncak makrifat, yang dikemudiannya tiada lagi tambahan).
( 6 )
Engkau sendiri yang Ku maukan dari sekian banyak apa yang telah Ku Ciptakan, maka hendaknya engkau pun demikian juga!. Hanya kepada Ku sendiri arahkan kehendakmu, bukan mengarah ke lain dari Ciptaan Ku.
(7)
Batas yang dapat dicapai oleh penglihatan mata hati, ialah mengenal apa yang dikehendaki oleh Nya (Nabi Musa .as. menyanggah tindakan-tindakan Al Khidr di saat melobangi perahu (Qs. Al Kahfi 18:71) karena ia tidak diberi penglihatan mata hati seperti halnya Al Khidr, yang mana penglihatannya sudah mencapai apa yang dikehendaki Nya dan memahami maksud dan persoalan raja yang main rampas perahu secara paksa).
(8)
Mengerutkan kekuasaan bagi Allah SWT, adalah satu cara lisan mencari jalan keluar bila engkau telah mencapai makrifat, dan telah engkau ketahui hak kekuasaan penguasa itu adalah milik Allah semata, maka engkaupun akan angkat tangan dari ikut campur tangan dan akan gugur segala kepengurusan).
(9)
Menziarahi para orang yang sudah “mendapat” sedangkan pada dirinya tiada mendapatkan, itu berarti suatu pelanggaran (berkumpulnya seorang ahli tasauf tanpa ada padanya “zauqiah) (hal-hal yang menyangkut rasa dalam hal ikhwal mereka, adalah merupakan suatu pelanggaran)).
(10)
Tinggalkan dirimu ! Dalam engkau meninggalkan dirimu, engkau akan memperoleh kemenangan-kemenangan atasnya (bila engkau merasa cukup, sudah tidak lagi membutuhkan  pada dirimu, walau dirimu dalam kebinasaan sekali pun, itulah arti kemenangan atas dirimu).
(11)
Luput ketinggalan suatu nasib bersama keluputan dari keridaan, adalah merupakan suatu penyakit.
(12)
Ada kebiasaan yang bersumber dari dosa-dosa yang dilakukan kelompok manusia-manusia, dapat membentuk arca-arca sembahan, yang mana sumber kekuasaan arca-arca itu atas manusia-manusia disebabkan karena kebiasaan yang dilakukan berulang kali. Misalnya apa yang dilakukan oleh orang-orang Samiri yang telah membentuk – dari perhiasan-perhiasan yang dicuri oleh Bani Israel – berupa se ekor anak sapi yang dapat mengeluarkan suara lenguhan.
(13)
Hai hamba ! Bila engkau mengenal Aku, maka tinggalkanlah apa-apa selain Ku, sekalipun ap yang selain Ku itu pernah melihat Ku, dan tinggalkan pula apa yang pernah dilihatnya, walaupun dengan Ku ia datang... Ha hamba! Bila engkau merasakan ketentraman dengan perkenalan kepada selain Ku, maka hendaklah engkau campakan perkenalanmu kepada Ku itu di balik punggungmu.
(14)
Syarat keridaan itu ialah penilaian sama antara penolakan dan pemberian.
(15)
Ilmu itu lisan lahir, dan makrifat itu lisan bathin
(16)
Hukum kenyataan itu seluruhnya adalah ketakutan... Dan bahaya itu mendapingi setiap hukum (karena segala yang nyata dari apa yang lahir itu akan berkesudahan pada kelenyapan.
(17)
Ilmu minuman jiwa; makrifat itu minuman hati; Hukum itu minuman akal; dan Kepuasan itu minuman Ruh
(18)
Kejahilan itu lintasan hati di dalam ilmu; Ilmu itu lintasan hati di dalam karifat; Makrifat itu lintasan hati di dalam perkenalan; pekenalan itu lintasan hati di dalam waqwah; Waqwah itu kesudahan, tiada lagi bahaya dan tiada pula lintasan hati,
(19)
Akal itu merupakan alat bagi ilmu; Ilmu itu merupakan alat bagi makrifat; makrifat itu merupakan alat bagi perkenalan; dan perkenalan itu bukanlah alat dan bukan pula waqwah itu alat. Setiap ala mempunyai dua tangan,tangan pertama bertugas memegang dan yang lainnya melepaskan. Memegang dan melepaskan itu menunjukan tanda-tanda pertentangan, maka bila tanpa alat tiada pula pertentangan.
(20)
Sesungguhnya Aku mempunyai hamba-hamba yang lancar berbicara, namun mereka itu tidak berbicara dan enggan diajak oleh sipapun untuk berbicara.... Ku katakan padanya : “Tetapkan sikapmu; berbicaralah kepada Ku saja! Terhadap selain Ku sedapat mungkin jangan berbicara.... engkau pun akan menjadi hamba Ku yang pandai bicara.... dan Ku jadikan bagimu suatu syafaat.

Aku pun mempunyai hamba-hamba pendiam, mereka melihat ke Maha Agungan Ku, mereka tidak sanggup berkata-kata, mereka melihat ke Indahan Ku, tiada juga mereka bertasbih; Keindahan Ku membuatnya terpesona hingga terus menerus berdiam diri, Akupun mendatanginya, Ku keluarkan dia dari “maqam diam ke pada Ku”.... Hendaklah engkau diam demi untuk Ku” ... sekuat kemampuanmu... niscaya engkau menjadi “hamba Ku” yang pendiam.

Terhadap hambaku yang pendiam, ku terima sebelumm penghentian dan Ku hantar ke kediaman rumahnya.... dan dialah yang pertama yang Ku panggil bila Aku telah datang.

Antara ucapan dan diam itu adalah suatu dinding pembatas (Barzkh) di dalamnya adalah liang kubur. Bagi akal dan budi, di dalamnya juga kubur dan juga “sesuatu-sesuatu”.
(21)
Ketahuilah! Kuajak engkau berbicara, supaya engkau dapat melihat, bukan untuk berbicara ... Katakanlah padamu ... inilah penglihatanmu! Agar engkau memperoleh bukti di dalam makrifatmu kepada Ku; Bukan untuk engkau pamerkan  atas Ku kepada siapa yang tidak melihat Ku.

Ketahuilah!  Petunjuk Ku bukan berada di tangan Mu... maka bila Aku mengajak mu bertutur kata, niscaya engkau dapat melihat Ku; Bila engkau melihat... tiadalagi pembicaraan.
(22)
Siapa yang tidak naik atasnya Nur Cahaya Ku, maka ia dalam api... dan siapa-siapa yang naik atasnya Nur Cahaya Ku, maka ia akan dapat melihat Ku.
(23)
Hati-hati yang tetap teguh adalah hati-hati yang bermaqam di Hadirat.... ia tidak hadir mudik dengan pelbagai lintasan hati, karena sesungguhnya ia sudah melihat Ku sebelum KUN (Jadilah) yakni sebelum Aku menyatakan dan sebelum akau berbuat, maka setelah tiba KUN dan telah datang lintasan-lintasan hati, Aku telah menghentikannya di dalam maqam Hadirat.
(24)
Lemparkan apa yang dengannya Aku rahasiakan, dan lemparkan apa yang dengannya Aku nyatakan..... Engkau adalah lebih mulia atas Ku daripada apa yang telah dan akan Ku katakan kepadamu, maka bagaimmana engkau memikul dan membawanya kepada Ku, sedangkan engkau lebih perkasa di sisi Ku daripada apa yang telah dan akan engkau katakan kepada Ku; Maka janganlah engkau menjadi kendaraan bagi selain Ku, niscaya engkau di dampingi oleh derita dan malapetaka yang akan berembunyi di dalam afiat itu. Jadilah engkau untuk Ku, bukan untuk tutur kata Ku (yakni keikhlasan dalam menuju zat ... untuk Zat Allah jangan ada sessuatu yang lain).
(25)
Alah berseru kepada hambanya yang dikatakan – yang ia kikir atas maqam manapun -... Wahai hamba Ku! “Engkau akan dipanggil oleh setiap ariff kepada makrifatnya; Sedangkan itu adalha hak Ku atasnya; maka janganlah engkau keluar dari makrifatmu berpindah ke makrifatnya, itu adalah hak Ku atasmu.
(26)
Segala kenyataan yang telah nyata itu maqamnya berada di belakangmu... di balik hatimu... maka dudukanlah masing-msing itu di maqamnya...

Setelah itu mermaqamlah untuk Ku da engkau akan didatangi oleh “Beridi sendiri” (Qoyyumiati), maka engkau akan ditegakkan berdiri untuk Ku, dan engkau akan selalu beregang pada Ku.... Ketahuilah! Bahwa engkau amat mulia bagi Ku dari segala apa yang Ku nyatakan, dan dari apa yang Ku katakan kepadamu, juga engkau amat perkasa bagi Ku dari apa yang telah engkau katakan kepada Ku”.
(27)
Aku mempunyai di sisi Tuhan ku suatu maqam, dimana tiada lagi di dalamnya “perintah” maupun “larangan” . Itulah maqam di mana ku lihat Tuhanku di dalamnya. Di dalamnya kau tidak lagi Kemalaikatan, tiada pula aku dipengaruhi jin dalam kedudukan selayaknya jin; tidak pula aku dipengaruhi oleh hruf dalam kedudukan sebagai huruf, tidak pula oleh alam semesta dalam bentuk alamiahnya.
(28)
Barang siapa yang telah melihat Ku, jika saja berdosa maka dosanya lebih besar dari alam semesta; dan beritakan tentang siksanya, bahwa derita siksanya adalah seluruh penderitaan.
(29)
Ia bertutur kata kepadaku : “Tidak Ku kirim kepadamu ilmu-ilmu dan tidak pula makrifat-makrifat, bahkan Aku mengutusmu agat segaa sesuatu itu menjadi untukmu “kekuasaan” (Rabbaniah) melaksanakan pengiriman.... Hendaklah engkau berdiri di Hadirat Ku, niscaya Aku lah yang langsung memerintahmu dengan segala sesuatu, dan tidaklah aku memerintah sesuatu terhadap kepadamu.
(30)
Aku telah dihentikan berdiri di dalam Hadirat Nya. Dia adalah abadi demi keabadian, kekal demi kekekalan, aku pun telah meluhat tirai dan tabir-tabir, segala rupa penghijab, semua menghampar menutupi wajah-wajah siapa saja yang memohon kepada Nya. Aku telah melihat pula bagaimana kesemuanya itu tersingkap bagi wajah siapa saja yang berserah diri kepada Nya.
(31)
Bila engkau telah melihat kepada Ku, ketahuilah bahwa penglihatan itu karena mata manusiawai, bukan hukum manusiawi (yang tidak lengah sedikitpun walau sebagai tawanan dari kebutuhan manusiawi). Dan bila engkau tidak dapat melihat kepada Ku, itu adalah dikarenakan pandangan mata manusiawi.
(32)
Bila engkau memberantas kebutuhan itu dengan sesuatu kelengahan, niscaya kebutuhan itu makin jadi. Bila engkau memberantas kelengahan dengan keinginan-keinginan, akan bertambahlah kelengahan itu.
(33)
Bila engkau tinggal menetap di dalam penglihatanmu kepada Ku, niscaya engkau akan membenci dirimu sendiri sebagaimana engkau membenci musuhmu.
(34)
Segala persoalan-persoalan dapat engkau ketahui, lalu dapat engkau saksikan menurut kadar yang engkau ketahui, kecuali persoalan yang mengenai ketuhanan, pertama-tama engkau dapat menyaksikan kemudian baru negkau dapat mengetahui ilmu-ilmu, Nya.
(35)
Bila engkau telah melihat Ku, niscaya segala ilmu dan makrifat akan menjadi kayu bakar bagi api KU, dan apabila engkau menginginkan, akan Ku sertakan pula engkau dengannya.
(36)
Sekali-kali engkau tidak dapat mengenal Ku, bila engkau tidak melemparkan hawa nafsumu, sekalipun hawa nafsu itu didatangkan oleh tangan Ku.
(37)
Sekli-kali engkau tidak dapat menyaksikan Dau untuk selama-lamanya dengan arti makna, karena artimaknamu itu tidak dapat memiliki kecuali dirinya sendiri., dan engkau akan menyaksikan Daku dengan penyaksian Ku semata.
(38)
Segala apa yang nyata seluruhnya berbatas, batas-batas itu adalah gambar-gambar lukisan, gambar-gambar lukisan itu beraneka ragam, aneka ragam itu saling serupa menyerupai dan saling lawan berlawanan, yang saling lawan berlawanan itu beramah-tamah satu sama lainnya serta bersimpang siur.

Adapun yang dilahirkan itu bersama-sama ilmu-ilmunya adalah merupakan hijab Ku, dan tidak Ku beri nama kepada kenyataan-kenyataan itu untuk memperkenalkan melainkan untuk menjadi hijab Ku.

Bila nama-nama itu dibuang, niscaya akan tertembus oleh pandangan dan bila pandangan dapat menembus berarti dapat mengenal.
(39)
Maulaya! Tiada Ilmu mu bebas merdeka dengan melaksanakan perintah Mu, maka ilmu itu tentang Mu dalam kebutaan. Bila engkau beri petunjuk, itulah karunia Mu; Bila engkau menghijabnya, itulah hijab Mu (alasan); itu semua adalah kepunyaan Mu, maka ilmu itu tidak dapat menyaksikan kecuali kejahilan.

Para ulama Nya ... berjalan dengan Nya di dlam Nur Cahaya Nya.
(40)
Sejauh-jauh kemauan keras itu masih berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, dan siapa yang merusaknya, maka jadilah rusak. Maka tiada jalan keluar untuk menidadakan pemikiran tentangnya sama sekali, karena sesungguhnya ia adalah asal penderitaan yang dialami oleh manusia menurut susunan manusiawinya.
(41)
Hakekat segala sesuatu itu adalah samar, karena tiadanya kesanggupan. Manusia itu lenah, tiada daya uneuk mengetahui dirinya, dan ia selalu luput untuk mencapai manfaat atau mudharrat ... dan ilmu tentang Tuhannya sangat lemah sekali.

Ilmu-ilmu tak dapat dicapai oleh lawannya sama sekali.
Para kekasih Nya tiada sengsara, dengan pengetahuan ilmu-ilmunya.
Tuhan Maha Tinggi yang meninggi, tak dapat diperkenalkan dengan susunan huruf.
Maka.... Maha Agunglah Puja Puji Nya.
(42)
Hai hamba! Teguhkanlah akal budimu di dalam ketenangan dan ketentraman, lihatlah baik-baik apa yang menjadi penyebab akal budimu tenang dan tenteram, itulah artinya sampai, maka lihatlah tempat sampainya itu, itu adalah merupakan mutiaranya, lihatlah para mutiara itu, maka itulah mata yang mampu melihat. Bila sampainya adalah siwa, niscaya akan keheranan pada mulanya dan rugi setelah kesudahannya.

Bila dengan zikir sampainya dan penglihatan pada Nur Cahay Ku tempat bergantungnya, maka akan tetap dalam keteguhan, tiadalah ia akan berpaling, dan luruslah mata hatinya, maka tidak dikuatirkan lagi akan tergelincir.
(43)
Siapa yang beramal utuk memperoleh pahala, niscaya ia akan letih dengan masuknya harapan-harapan, barangsiapa yang beramal karena takut siksa, niscaya ia akan letih dengan sangka baik; dan barang siapa beramal demi Wajah Allah, tiada letih baginya.
(44)
Ketika ahli Penglihatan (Ar- Ru’yah) mengatakan, bahwa dirinya telah kehilangan padangandan tidak lagi melihat siwa maka sesungguhnya yang mereka maksudkan adalah hilangnya penglihatan terhadap siwa dari apa yang nyata dari kenyataan-kenyataan itu, umpamakan ilmu itu berbentuk dari sebuah kitab, dan kitab itu dari seorang guru, dan guru itu dari suatu madrasah,,, bukan demikian yang diucapkan, tetapi ilmu itu dari Allah, dan mereka sudah kkehilangan urut-urutan dari sebab musabab. Maka segala apa yang nyata pada sisi mereka adalah Al Haq Ta’ala semata, sekalipun menyata dari berbagai jurusan.
(45)
Seluruh ketakutan itu berkaitan dengan perselisihan, tidak cocok dengan pendengaran telinga, tidak cocok dengan penglihatan mata, tidak cocok dengan apa yang dijinaki oleh akal budi... Karena tiada jalan keluar untuk meniadakan ketakutan itu daripada manusia samak sekali karena tiadanya jalan menuju kepada kesempurnaan.
(46)
Bukti dalil  keyakinan itu ada empat.... penglihatan nikmat, ketakutan hijab, penerimaan perkenalan dan perpaling daripada siwa.
Pasak bagi hawa nafsu itu ada empat pula.... kekikiran, keserakahan, kesombongan dan panjang angan-angan.
(47)
Keserakahan itu mengiri segala sesuatu kecuali makrifat, dan makrifat itu meniadakan segala sesuatu itu kecuali keetakutan.
(48)
Keyakinan dan taqwa itusaling berdampingan, apabila salah satu gaib, niscaya gaib pula yang lain. Kesabaran dan kerelaan itu adalah berdampingan, bila salah satu gaib, yang lain gaib pula. Dan Khalwah (tapa menyepi menyendiri) dan ibadah itu berdampingan, bila salah satu gaib, gaib pulalah yang lain.
(49)
“Ilahi” Telah musnah segala kenyataan-kenyataan, maka tiada yang dapat bertahan berhadapan dengan keabadian Mu, dan  telah terbentang di hamparan bagian-bagian yang terakhir, maka tiadalah kuasa bertahan di hadapan sifay Qiam Mu (berdiri Mu sendiri).
(50)
Hai hamba! “Siapa yang telah paham tentang Ku, niscaya Ku buat perhitungan kepadanya tentang air dan jiwa.

(51)
Hai hamba ! “Bila Aku mengajak berkenalan, Aku hampir tidak lagi menerima suatu uzur (alasan) apapun.
(52)
Hai hamba! “Perkenalan dengan apa yang tak dapat dikatakan itu sifatnya adalah mengharuskan; dan perkenalan dengan apa yang dapat dikatakan itu sifatnya adalah menuntut.
(53)
Tiada perkenalan melainkan dengan karunia dan anugrah dari Allah, maka bila ia memperkenalkanmu, niscaya engkau ditegakkan berdiri, apabila engkau ditegakkan berdiri, niscaya Ia memberikan apa yang dapat engkau saksikan.
TIADA KETENANGAN TANPA SERTANYA KEMAAFAN DAN KERAHMATAN
HUBAYA ATAS TULANG BELULANG YANG REMUK RAPUH DALAM TIMBUNAN TANAH

29 – 06 - 2013









9 komentar:

  1. terima kasih. ampun maaf mohon izin copy utk pembacaan peribadi ,bukan utk jualan.

    BalasHapus
  2. Saya Sangat berterimakasih kepada Bapak sebagai penyebab saya untuk mencari puncak penyebab yang hakiki. Semoga blog ini bermanfaat sepanjang Zaman.

    BalasHapus
  3. alhamdulillah atas semua tuntunannya ya Rabb, Engkaulah pembuka pintu. Terima kasih pada pemilik blog ini mohon ijin kopas

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah atas semua tuntunannya ya Rabb, hanya engkaulah pembuka pintu. Dan terima kasih kepada penulis dan pemilik blog ini, mohon ijin kopas

    BalasHapus
  5. izhin share untuk blog saya ustadz

    BalasHapus
  6. untuk melengkapi kajian Ketuhanan, tidak salahnya dengan membaca SAMODRA MAKRIFAT IBN 'ARABI (TOSHIHIKO IZUTSU)

    BalasHapus
  7. Salamun 'alaik, izinkan ana menyalin buku terjemahan ini dari saudara ku seagama islam yg indah ini, barokallahu' alaik wa jazakallahu khair

    BalasHapus
  8. MHN IZIN COPAS UNTUK NASIHAT DIRI JUGA TEMAN2 USTAD... TERIMAKASIH... JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIIR

    BalasHapus